Jumat, Juni 26, 2009

MEMAHAMI ALLAH MELALUI AKAL

Bab 1
PENDAHULUAN


Lihatlah sekeliling anda dari tempat duduk anda. Akan anda dapati bahwa segala sesuatu di ruang ini adalah “buatan”: dindingnya, pelapisnya, atapnya, kursi tempat duduk anda, gelas di atas meja dan pernak-pernik tak terhitung lainnya. Tidak ada satu pun yang berada di ruang anda dengan kehendak mereka sendiri. Gulungan tikar sederhana pun dibuat oleh seseorang: mereka tidak muncul dengan spontan atau secara kebetulan.
Orang yang hendak membaca buku mengetahui bahwa buku ini ditulis oleh pengarangnya karena alasan tertentu. Tak pernah terpikir olehnya bahwa barangkali buku ini muncul secara kebetulan. Begitu pula, orang yang memandang suatu pahatan tidak sangsi sama sekali bahwa pahatan ini dibuat oleh seorang pemahat. Hal ini bukan mengenai karya seni saja: batu bata yang bertumpukan pun pasti dikira oleh siapa saja bahwa tumpukan batu bata sedemikian itu disusun oleh seseorang dengan rencana tertentu. Karena itu, di mana saja yang terdapat suatu keteraturan—entah besar entah kecil—pasti ada penyusun dan pelindung keteraturan ini. Jika pada suatu hari seseorang berkata dan menyatakan bahwa besi mentah dan batu bara bersama-sama membentuk baja secara kebetulan, yang kemudian membentuk Menara Eiffel secara lagi-lagi kebetulan, tidakkah ia dan orang yang mempercayainya akan dianggap gila?
Pernyataan teori evolusi, suatu metode unik penyangkal keberadaan Allah, tidak berbeda daripada ini. Menurut teori ini, molekul-molekul anorganik membentuk asam-asam amino secara kebetulan, asam-asam amino membentuk protein-protein secara kebetulan, dan akhirnya protein-protein membentuk makhluk hidup secara lagi-lagi kebetulan. Akan tetapi, kemungkinan pembentukan makhluk hidup secara kebetulan ini lebih kecil daripada kemungkinan pembentukan Menara Eiffel dengan cara yang serupa, karena sel manusia bahkan lebih rumit daripada segala struktur buatan manusia di dunia ini.
Bagaimana mungkin mengira bahwa keseimbangan di dunia ini timbul secara kebetulan bila keserasian alam yang luar biasa ini pun bisa teramati dengan mata telanjang? Pernyataan bahwa alam semesta, yang semua unsurnya menyiratkan keberadaan Penciptanya, muncul dengan kehendaknya sendiri itu tidak masuk akal.
Karena itu, pada keseimbangan yang bisa dilihat di mana-mana dari tubuh kita sampai ujung-ujung terjauh alam semesta yang luasnya tak terbayangkan ini pasti ada pemiliknya. Jadi, siapakah Pencipta ini yang mentakdirkan segala sesuatu secara cermat dan menciptakan semuanya?
Ia tidak mungkin zat material yang hadir di alam semesta ini, karena Ia pasti sudah ada sebelum adanya alam semesta dan menciptakan alam semesta dari sana. Pencipta Yang Mahakuasa ialah yang mengadakan segala sesuatu, sekalipun keberadaan-Nya tanpa awal atau pun akhir.
Agama mengajari kita identitas Pencipta kita yang keberadaannya kita temukan melalui akal kita. Melalui agama yang diungkapkan kepada kita, kita tahu bahwa Dia itu Allah, Maha Pengasih dan Maha Pemurah, Yang menciptakan langit dan bumi dari kehampaan.
Meskipun kebanyakan orang mempunyai kemampuan untuk memahami kenyataan ini, mereka menjalani kehidupan tanpa menyadari hal itu. Bila mereka memandang lukisan pajangan, mereka takjub siapa pelukisnya. Lalu, mereka memuji-muji senimannya panjang-lebar perihal keindahan karya seninya. Walau ada kenyataan bahwa mereka menghadapi begitu banyak keaslian yang menggambarkan hal itu di sekeliling mereka, mereka masih tidak mengakui keberadaan Allah, satu-satunya pemilik keindahan-keindahan ini. Sesungguhnya, penelitian yang mendalam pun tidak dibutuhkan untuk memahami keberadaan Allah. Bahkan seandainya seseorang harus tinggal di suatu ruang sejak kelahirannya, pernak-pernik bukti di ruang itu saja sudah cukup bagi dia untuk menyadari keberadaan Allah.
Tubuh manusia menyediakan begitu banyak bukti yang mungkin tidak terdapat di berjilid-jilid ensiklopedi. Bahkan dengan berpikir beberapa menit saja mengenai itu semua sudah memadai untuk memahami keberadaan Allah. Tatanan yang ada ini dilindungi dan dipelihara oleh Dia.
Tubuh manusia bukan satu-satunya bahan pemikiran. Kehidupan itu ada di setiap milimeter bidang di bumi ini, entah bisa diamati oleh manusia entah tidak. Dunia ini mengandung begitu banyak makhluk hidup, dari organisme uniseluler hingga tanaman, dari serangga hingga binatang laut, dan dari burung hingga manusia. Jika anda menjumput segenggam tanah dan memandangnya, di sini pun anda bisa menemukan banyak makhluk hidup dengan karakteristik yang berlainan. Di kulit anda pun, terdapat banyak makhluk hidup yang namanya tidak anda kenal. Di isi perut semua makhluk hidup terdapat jutaan bakteri atau organisme uniseluler yang membantu pencernaan. Populasi hewan di dunia ini jauh lebih banyak daripada populasi manusia. Jika kita juga mempertimbangkan dunia flora, kita lihat bahwa tidak ada noktah tunggal di bumi ini yang tidak mengandung kehidupan. Semua makhluk ini yang tertebar di suatu bidang seluas lebih daripada jutaan kilometer persegi itu mempunyai sistem tubuh yang berlainan, kehidupan yang berbeda, dan pengaruh yang berbeda terhadap keseimbangan lingkungan. Pernyataan bahwa semua ini muncul secara kebetulan tanpa maksud atau pun tujuan itu gila-gilaan. Tidak ada makhluk hidup yang muncul melalui kehendak atau upaya mereka sendiri. Tidak ada peristiwa kebetulan yang bisa menghasilkan sistem-sistem yang serumit itu.
Semua bukti ini mengarahkan kita ke suatu kesimpulan bahwa alam semesta berjalan dengan “kesadaran” (consciousness) tertentu. Lantas, apa sumber kesadaran ini? Tentu saja bukan makhluk-makhluk yang terdapat di dalamnya. Tidak ada satu pun yang menjaga keserasian tatanan ini. Keberadaan dan keagungan Allah mengungkap sendiri melalui bukti-bukti yang tak terhitung di alam semesta. Sebenarnya, tidak ada satu orang pun di bumi ini yang tidak akan menerima kenyataan bukti ini dalam hati sanubarinya. Sekalipun demikian, mereka masih mengingkarinya "secara lalim dan angkuh, kendati hati sanubari mereka meyakininya" sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an. (Surat an-Naml, 14)
Buku ini ditulis untuk menunjukkan kenyataan yang diingkari oleh sebagian orang ini karena keberadaannya asing menurut perhatian mereka, dan juga untuk membongkar penipuan dan penyimpulan jahiliyah yang menjadi sandaran mereka. Karena inilah maka banyak persoalan yang ditelaah di buku ini.
Orang yang membaca buku ini akan segera lebih mengamati bukti-bukti keberadaan Allah yang tak terbantah dan menyaksikan bahwa keberadaan Allah mencakup segala benda: “akal” mengetahui hal ini. Sebagaimana Ia menciptakan tatanan yang menyeluruh ini, Dialah yang juga memeliharanya dengan tak henti-hentinya.

Bab 2
ADA DARI TIADA


Pertanyaan tentang bagaimana alam semesta berasal, ke mana bergeraknya, dan bagaimana hukum-hukum mempertahankan keteraturan dan keseimbangan selalu menjadi topik yang menarik. Para ilmuwan dan pakar membahas subyek ini dengan tiada henti dan telah menghasilkan beberapa teori.
Teori yang berlaku sampai awal abad ke-20 ialah bahwa alam semesta mempunyai ukuran yang tidak terbatas, ada tanpa awal, dan bahwa terus ada untuk selama-lamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut ‘model alam semesta statis’, alam semesta tidak mempunyai awal ataupun akhir.
Dengan mengacu filsafat materialis, pandangan ini menolak adanya Pencipta seraya masih berpendapat bahwa alam semesta merupakan sekumpulan zat yang konstan, stabil, dan tidak berubah.
Materialisme ialah sistem pemikiran yang menganggap bahwa zat itu merupakan suatu makhluk yang mutlak dan menolak segala keberadaan kecuali keberadaan zat. Dengan berakar pada filsafat Yunani Kuno dan semakin diterimanya materialisme ini di abad ke-19, sistem pemikiran ini menjadi terkenal dalam bentuk materialisme dialektis Karl Marx.
Seperti yang telah kita nyatakan tadi, model alam semesta abad ke-19 menyiapkan landasan bagi filsafat materialis. George Politzer, dalam bukunya yang berjudul Principes Fondamentaux de Philosophie, menyatakan berdasarkan model alam semesta statis bahwa "alam semesta bukan merupakan obyek yang diciptakan", dan katanya lagi:
Kalau begitu, alam semesta pasti diciptakan sekaligus oleh Tuhan dan dijadikan dari ketiadaan. Untuk menghasilkan ciptaan, maka di tempat pertama, Penciptanya harus menghasilkan keberadaan tersebut pada waktu alam semesta tidak ada, dan bahwa segala sesuatu muncul dari ketiadaan. Inilah yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.1
Ketika Politzer menyatakan bahwa alam semesta tidak terbuat dari sesuatu yang tidak ada, ia berpijak pada model alam semesta statis abad 19 tersebut, dan mengira bahwa ia berpandangan ilmiah. Namun begitu, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi memutarbalikkan konsep-konsep lama seperti model alam semesta statis yang menjadi dasar bagi ilmuwan yang menganut materialisme. Kini, di awal abad ke-21, dengan eksperimen, observasi dan perhitungan, fisika modern telah membuktikan bahwa alam semesta memiliki suatu awal dan diciptakan dari ketiadaan melalui ledakan dahsyat.
Bahwa alam semesta memiliki suatu awal berarti kosmos bukan dihasilkan dari sesuatu yang tidak ada, melainkan diciptakan. Jika ciptaan itu ada (yang sebelumnya tidak ada), maka tentu saja ada Pencipta alam semesta. Ada dari tiada ialah sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh benak manusia. (Manusia tidak dapat memahaminya karena tidak berkesempatan untuk mengalaminya). Karena itu, ada dari tiada itu sama sekali bukan pengumpulan obyek-obyek untuk membentuk obyek baru sekaligus (seperti karya seni atau penemuan teknologi). Alam semesta sendiri merupakan ayat Allah yang menciptakan segalanya sekali-jadi dan dalam satu peristiwa saja dengan sempurna, karena benda-benda yang diciptakan itu sebelumnya tidak bercontoh dan bahkan tidak ada waktu dan ruang untuk menciptakannya.
Munculnya alam semesta dari tiada menjadi ada tersebut merupakan bukti terbesar diciptakannya alam semesta. Mempelajari fakta ini akan mengubah banyak hal. Ini membantu manusia memahami arti kehidupan dan memperbaiki sikap dan tujuannya. Karena itu, banyak kalangan ilmuwan berupaya mengabaikan fakta penciptaan yang tidak dapat mereka pahami sepenuhnya, meskipun buktinya jelas bagi mereka. Kenyataan bahwa semua bukti ilmiah mengarah pada keberadaan Pencipta telah memaksa mereka untuk mencari alternatif-alternatif yang bagi alam pikiran orang awam membingungkan. Meskipun demikian, bukti ilmu pengetahuan sendiri jelas-jelas mengakhiri perjalanan teori-teori ini.
Kini, mari kita pelajari sekilas proses perkembangan ilmiah terjadinya alam semesta.


MELUASNYA ALAM SEMESTA

Di tahun 1929, di Observatorium California Mount Wilson, Astronom berkebangsaan Amerika Edwin Hubble menghadirkan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia dapati bahwa cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah dan bahwa perubahan ini lebih memperjelas bahwa itu bintang-bintang yang menjauh dari bumi. Penemuan ini berpengaruh bagi dunia ilmu pengetahuan, karena menurut aturan ilmu fisika yang sudah diakui, spektrum cahaya berkedip-kedip yang bergerak mendekati tempat observasi tersebut cenderung mendekati warna lembayung, sedangkan spektrum cahaya berkerlap-kerlip yang menjauh dari tempat observasi itu cenderung mendekati warna merah. Artinya, bintang-bintang itu menjauh dari kita secara tetap.
Lama sebelumnya, Hubble menemukan penemuan lain yang sangat penting: Bintang dan galaksi bergerak menjauh bukan hanya dari kita, tetapi juga saling menjauh. Satu-satunya kesimpulan yang dapat ditarik dari suatu alam semesta di mana semua bintang dan galaksi menjauh dari bintang dan galaksi lain adalah bahwa alam semesta ‘bertambah luas’ secara tetap.
Untuk lebih memahaminya, alam semesta dapat dianggap sebagai permukaan balon yang meledak. Karena bagian-bagian di permukaan balon ini saling memisah sebagai akibat dari pemompaan atau penggelembungan, hal ini berlaku juga untuk obyek-obyek di ruang angkasa yang saling memisah sebagai akibat dari terus bertambah luasnya alam semesta.
Sebenarnya, teori ini telah ditemukan jauh sebelumnya. Albert Einstein, yang dianggap merupakan ilmuwan terbesar abad 20, telah menyimpulkan dalam teori fisikanya setelah melalui perhitungan yang cermat bahwa alam semesta itu dinamis dan tidak statis. Namun bagaimanapun, ia telah meletakkan penemuannya bukan untuk bertentangan dengan teori model alam semesta statis yang sudah diakui luas di zamannya. Einsten kemudian mengidentifikasi tindakannya itu sebagai kesalahan terbesar sepanjang karir keilmuwanannya. Sesudah itu, menjadi jelas melalui pengamatan Hubbles bahwa alam semesta bertambah luas.
Jadi, apa yang penting dari fakta bahwa alam semesta bertambah luas terhadap proses terjadinya alam semesta?
Alam semesta yang bertambah luas itu menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka alam semesta terbukti berasal dari ‘titik tunggal’. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini yang mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di alam semesta mempunyai ‘volume nol’ dan ‘kerapatan yang tak terbatas’. Alam semesta terjadi karena adanya ledakan dari titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan yang luar biasa dahsyatnya yang disebut Ledakan Dahsyat ini menandai awal dimulainya alam semesta.

‘Volume nol’ merupakan satuan teoretis yang digunakan untuk tujuan pemaparan. Ilmu pengetahuan dapat menetapkan konsep ‘ketidakadaan’, yang berada di luar jangkauan batas-batas pemahaman manusia, dengan hanya mengungkapkannya sebagai ‘suatu titik yang bervolume nol’. Alam semesta muncul dari ‘ketidakadaan’. Dengan kata lain, alam semesta itu diciptakan.

Teori Ledakan Dahsyat itu menunjukkan bahwa pada awalnya, semua obyek di alam semesta merupakan satu bagian dan kemudian terpisah-pisah. Kenyataan ini, yang ditunjukkan dengan teori Ledakan Dahsyat, dinyatakan dalam Al-Qur'an 14 abad lalu, ketika manusia masih memiliki pengetahuan yang amat terbatas tentang alam semesta:

Tidakkah orang-orang kafir mengerti bahwa langit dan bumi semula berpadu (sebagai satu kesatuan dalam penciptaan), lalu keduanya Kami pisahkan? Dari air Kami jadikan segalanya hidup. Tidakkah mereka mau beriman juga? (Surat al-Anbiyaa’, 30)

Seperti yang dinyatakan dalam ayat tersebut, apa saja, bahkan di ‘langit dan bumi’ yang belum tercipta sekalipun, diciptakan dengan suatu Ledakan Dahsyat dari suatu titik tunggal, dan membentuk alam semesta yang sekarang ini dengan saling terpisah.
Jika kita bandingkan pernyataan ayat itu dengan teori Ledakan Dahsyat, maka kita mengetahui bahwa ayat itu sepenuhnya cocok dengan teori tersebut. Namun, baru pada abad ke-20, Ledakan Dahsyat dikemukakansebagai teori ilmiah.

Meluasnya alam semesta itu merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketidakadaan. Meskipun kenyatan ini tidak ditemukan oleh ilmu pengetahuan sampai abad ke-20, Allah telah menjelaskan kepada kita kenyataan ini dalam Al-Qur'an, 1.400 tahun silam:

Dengan kekuasaan Kami membangun cakrawala, dan Kami yang menciptakan angkasa luas. (Surat adz-Dzaariyaat, 47)
MENCARI ALTERNATIF PENGGANTI TEORI LEDAKAN DAHSYAT

Seperti yang jelas terlihat, teori Ledakan Dahsyat membuktikan bahwa alam semesta ‘diciptakan dari ketiadaan’, dengan kata lain, diciptakan oleh Allah. Karena alasan inilah, para astronom penganut materialisme tetap bersikukuh mempertahankan teori Ledakan Dahsyat dan teori keadaan-tetap. Hal ini ditunjukkan oleh A. S. Eddington, seorang pakar fisika terkemuka penganut materialisme: "Secara filosofis, saya tidak menyukai gagasan tentang permulaan yang spontan untuk tataalam yang sekarang ini."2
Salah seorang yang terusik dengan teori Ledakan Dahsyat itu ialah Sir Fred Hoyle. Pada pertengahan abad ke-20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut keadaan-tetap yang mirip dengan pendekatan tentang alam semesta yang bersifat tetap pada abad ke-19. Teori keadaan-tetap berpendapat bahwa ukuran alam semesta tidak terbatas dan waktunya kekal. Dengan satu-satunya tujuan yang mengakui filsafat materialisme, teori ini sepenuhnya berbeda dengan teori Ledakan Dahsyat, yang berasumsi bahwa alam semesta mempunyai permulaan.
Para pembela teori keadaan-tetap itu menentang teori Ledakan Dahsyat dalam waktu yang lama. Namun demikian, teori-teori itu berlawanan dengan ilmu pengetahuan.
Sebaliknya, sebagian ilmuwan sedang mencari jalan untuk mengembangkan alternatif-alternatif.
Di tahun 1948, George Gamov muncul dengan gagasan lain tentang teori Ledakan Dahsyat itu. Ia menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta melalui peledakan dahsyat, ada radiasi yang melimpah di alam semesta yang tertinggal karena peledakan ini. Lagipula, radiasi ini tersebar merata di alam semesta.
Bukti yang ‘mestinya telah ada ini’ akan segera ditemukan.


SATU BUKTI LAGI: RADIASI LATAR KOSMOS

Di tahun 1965, dua peneliti, Arno Penzias dan Robert Wilson, secara kebetulan menemukan gelombang-gelombang ini. Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi kosmos’, tampaknya tidak dipancarkan dari sumber tertentu, tetapi merembesi seluruh ruang angkasa. Jadi, panas gelombang yang diradiasikan secara merata dari sekeliling ruang angkasa itu tertinggal sisanya dari tahap awal Ledakan Dahsyat. Penzias dan Wilson mendapat penghargaan Nobel atas penemuan ini.
Di tahun 1989, NASA mengirim Satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke ruang angkasa untuk meneliti radiasi latar kosmos. Hanya membutuhkan delapan menit, scanner-scanner salelit ini menguatkan pengukuran dari Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa dari Ledakan Dahsyat yang terjadi pada awal-mula alam semesta.
Karena dianggap sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, kesimpulan ini secara eksplisit membuktikan teori Ledakan Dahsyat. Dari ruang angkasa dikirim temuan dari satelit COBE 2 setelah satelit COBE menjelaskan perhitungannya dengan cermat berdasarkan teori Ledakan Dahsyat itu.
Sebuah bukti lain yang penting untuk Ledakan Dahsyat itu ialah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam hitungan terakhir, konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan perhitungan konsentrasi hidrogen-helium yang merupakan sisa dari Ledakan Dahsyat itu. Jika alam semesta tidak mempunyai permulaan dan jika alam semesta ada karena keabadian ada, maka unsur hidrogennya sepenuhnya telah digunakan dan diubah ke helium.
Semua bukti ini menyebabkan teori Ledakan Dahsyat diterima oleh para ilmuwan. Model ledakan dahsyat itu merupakan bagian terakhir yang dicapai oleh ilmu pengetahuan berkenaan dengan terbentuknya dan dimulainya alam semesta.
Dengan mempertahankan teori keadaan-tetap yang juga sejalan dengan gagasan Fred Hoyle selama bertahun-tahun, Dennis Sciama menguraikan pandangan akhir yang mereka capai setelah terungkapnya semua bukti tentang teori Ledakan Dahsyat. Sciama menyatakan bahwa ia turut mengambil bagian dalam perdebatan sengit antara yang mempertahankan teori keadaan-tetap dan yang menolaknya. Ia mencetuskan bahwa ia membela teori keadaan-tetap, bukan karena menganggapnya sahih, melainkan karena menghendakinya sahih. Fred Hoyle bergeming terhadap semua keberatan ketika bukti-bukti terhadap teori ini mulai terbuka. Sciama sendiri mula-mula sejalan dengan Hoyle tetapi kemudian, karena bukti-bukti mulai semakin tampak dan menumpuk, ia menerima bahwa permainan telah berakhir dan bahwa teori keadaan-tetap harus ditolak.3
Prof. George Abel dari Universitas California menyatakan juga bahwa bukti mutaakhir yang tersedia menunjukkan bahwa alam semesta dimulai milyaran tahun silam dengan Ledakan Dahsyat. Ia mengakui tidak ada pilihan lain kecuali menerima teori Ledakan Dahsyat itu.
Dengan diterimanya teori Ledakan Dahsyat, konsep ‘zat kekal’ yang merupakan dasar filosofi materialisme terlempar jauh ke dalam tumpukan sampah sejarah. Lantas, apa yang terjadi sebelum Ledakan Dahsyat dan kekuatan apa yang menyebabkan alam semesta ‘ada’ dengan melalui adanya ledakan dahsyat itu ketika alam semesta ‘tidak ada’? Pertanyaan ini tentunya menyiratkan, menurut kata-kata Arthur Eddington, fakta yang ‘secara filosofis kurang menyenangkan’, yaitu adanya Sang Pencipta. Filosof ateis masyhur Antony Flew berkomentar perihal ini:
Pengakuan itu baik bagi rohani. Karena itu, saya akan mengawalinya dengan mengakui bahwa kaum ateis itu harus malu dengan konsensus mengenai kosmologi saat ini. Untuk itu, para kosmolog perlu memberi bukti ilmiah tentang apa yang St. Thomas nyatakan tidak terbukti menurut filsafat, yaitu bahwa alam semesta memiliki suatu awal. Jadi, selama alam semesta dianggap ada bukan hanya tanpa akhir melainkan juga tanpa permulaan, akan mudah dikemukakan opini bahwa keberadaan tampilannya, dan apa pun yang pada temuannya menjadi ciri atau sifat yang paling mendasar, sepatutnya diterima sebagai penjelasan akhir. Meskipun saya yakin bahwa teori keadaan-tetap masih benar, mempertahankannya dalam menghadapi teori Ledakan Dahsyat tentunya tidak mudah dan tidak menyamankan.4
Sebagian ilmuwan yang tidak mengkondisikan mereka sendiri untuk menjadi ateis telah mengakui adanya peranan Pencipta Yang Maha Kuasa dalam menciptakan alam semesta. Sang Pencipta ini pasti merupakan sesuatu Yang telah menciptakan baik zat (materi) maupun waktu, tetapi Yang tidak terpengaruh oleh keduanya. Astrofisikawan terkenal Hugh Ross mengakui hal ini dengan menuturkan:
Jika permulaan waktu bersamaan dengan awal keberadaan alam semesta, seperti teorema-angkasa jelaskan, maka penyebab alam semesta harus merupakan kesatuan yang berfungsi dalam suatu dimensi waktu yang sepenuhnya terpisah dan sudah ada sebelumnya terhadap dimensi waktu kosmos. Kesimpulan ini sangat penting untuk pemahaman kita tentang Siapa Tuhan dan Siapa atau Apa yang bukan Tuhan. Tuhan bukan alam semesta sendiri, dan tidak terkandung dalam alam semesta.5
Zat dan waktu diciptakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa yang tidak bergantung pada semua pernyataan ini. Sang Pencipta ini ialah Allah, Yang merupakan Pemilik atau Penguasa langit dan bumi.


SANGAT SEIMBANG DI ANGKASA

Sebenarnya, teori ledakan dahsyat lebih menyulitkan penganut materialisme daripada si filosof ateis, Antony Flew. Ini karena ledakan dahsyat itu bukan hanya membuktikan bahwa alam semesta diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, tetapi juga bahwa alam semesta diadakan dengan cara yang sangat terencana, sistematis dan terkontrol.
Ledakan Dahsyat terjadi dengan ledakan dari titik yang berisikan semua zat dan energi dari alam semesta dan tersebar di ruang angkasa ke segala arah dengan kecepatan yang luar biasa. Lepas dari zat dan energi ini, terjadi keseimbangan luar biasa yang berisikan galaksi, bintang, matahari, bumi dan semua benda langit lainnya. Selanjutnya, terbentuklah hukum yang disebut ‘hukum fisika’, yang sama di seluruh penjuru alam semesta dan tidak berubah. Semua ini menunjukkkan bahwa tata aturan yang sempurna muncul setelah terjadinya Ledakan Dahsyat.
Akan tetapi, ledakan ini tidak menghasilkan tatanan. Semua ledakan yang bisa diamati ini cenderung berbahaya, menceraiberaikan dan merusak apa yang sudah ada. Contohnya, ledakan atom dan hidrogen, ledakan dinamit, ledakan gunung berapi, ledakan gas alam, ledakan matahari: semua ledakan ini memiliki pengaruh yang merusak.
Jika kita mengetahui tatanan yang terperinci setelah terjadinya suatu ledakan--contohnya, jika ledakan di bawah tanah memunculkan karya seni yang sempurna, istana yang megah, atau rumah yang mengesankan--maka kita bisa berkesimpulan bahwa ada campur tangan ‘supranatural’ di belakang ledakan ini dan bahwa semua bagian-bagian yang tersebar karena ledakan itu bergerak dengan cara yang sangat tidak terkontrol.
Kutipan dari Sir Fred Hoyle, yang mengakui kesalahannya itu setelah bertahun-tahun menentang teori Ledakan Dahsyat, mengungkapkan situasi ini dengan sangat baik:
Teori ledakan dahsyat berpendapat bahwa alam semesta dimulai dengan suatu ledakan tunggal. Tetapi seperti yang dapat dilihat di bawah ini, suatu ledakan hanya memisahkan zat, sedangkan ledakan dahsyat secara misterius menghasilkan pengaruh yang bertolak belakang--dengan zat yang menumpuk atau menyatu bersama-sama dalam bentuk galaksi-galaksi.6
Seraya menyatakan bahwa penunaian keteraturan Ledakan Dahsyat itu tidak bersesuaian, ia secara yakin menafsirkan ledakan dahsyat dengan bias materialistik dan menganggap bahwa ini merupakan ‘ledakan yang tak terkontrol’. Ia pada kenyataanya merupakan orang yang bersifat kontradiktif-sendiri dengan begitu saja membuat pernyataan sedemikian itu untuk menolak keberadaan Sang Pencipta. Alasan kita, jika tata aturan yang luar biasa itu muncul dengan suatu ledakan, maka konsep “ledakan yang tak terkendali” sebaiknya dikesampingkan, dan harus diterima bahwa ledakan tersebut dikendalikan secara luar biasa.
Segi lain dari tatanan luar biasa yang terbentuk pada alam semesta yang melalui Ledakan Dahsyat ini ialah penciptaan ‘alam yang dapat dihuni’. Syarat pembentukan planet yang dapat dihuni ini begitu banyak dan begitu rumit sehingga hampir tak mungkin terbayang bahwa pembentukan planet ini secara kebetulan.
Paul Davies, profesor masyhur fisika teoretis, menghitung seberapa ‘baik penyetelan’ langkah peluasan setelah terjadi Ledakan Dahsyat, dan ia mendapatkan kesimpulan yang menakjubkan. Menurut Davies, jika tingkat peluasan setelah terjadinya Ledakan Dahsyat itu berbeda walau hanya dengan rasio 1 : 1.000.000.000², maka tidak akan terbentuk bintang yang dapat dihuni:
Pengukuran secara cermat menghasilkan angka peluasan yang sangat mendekati nilai kritis di mana alam semesta akan melepaskan gravitasinya sendiri dan bertambah luas selama-lamanya. Bila diperpelan sedikit, kosmos ini akan jatuh; bila dipercepat sedikit, bahan-bahan kosmos tersebut akan sepenuhnya terpencar. Lantas yang menarik adalah pertanyaan seberapa rumitkah tingkat pertambahan luas ‘disetel dengan baik’ supaya tiba pada garis pembagi yang tipis di antara dua bencana alam itu. Jika pada waktu I S (pada waktu terbentuk pola pertambahan luas) tingkat ekspansinya berselisih dari nilai sebenarnya sampai lebih dari 10-18 kali, maka ini sudah memadai untuk membatalkan keseimbangan yang rumit itu. Jadi, daya ledak alam semesta ini bersesuaian dengan akurasi gaya gravitasinya yang luar biasa. Ledakan dahsyat ini ternyata bukan ledakan kolot, tetapi ledakan yang besarnya tertata dengan tajam dan sangat indah.7
Hukum fisika yang muncul bersamaan dengan teori Ledakan Dahsyat itu tidak berubah selama jangka waktu 15 milyar tahun. Selanjutnya, hukum-hukum ini berlandaskan pada perhitungan yang begitu seksama sehingga selisih satu milimeter pun dari nilai yang berlaku dapat menyebabkan penghancuran struktur dan konfigurasi alam semesta.
Fisikawan terkenal Prof. Stephen Hawking menyatakan dalam bukunya, A Brief History of Time, bahwa alam semesta tersusun berdasarkan pada perhitungan dan keseimbangan yang tersetel dengan lebih baik daripada yang dapat kita rasakan. Hawking menyatakan dengan mengacu angka ekspansi alam semesta:
Mengapa alam semesta mulai terbentuk dengan tingkat ekspansi yang begitu mendekati kritis yang memisahkan model-model yang berurai berkeping-keping sehingga terus meluas selamanya, sampai-sampai sekarang pun, sepuluh ribu juta tahun berikutnya, masih terus bertambah luas mendekati tingkat kritis? Jika tingkat ekspansi satu detik setelah ledakan dahsyat lebih kecil bahkan mendekati satu per seratus ribu juta, maka alam semesta akan berkeping-keping sebelum mencapai ukurannya yang sekarang ini.8
Paul Davies juga memaparkan konsekuensi yang tidak bisa dihindari yang berasal dari keseimbangan dan perhitungan yang sangat cermat dan tepat itu:
Kesan bahwa struktur terkini alam semesta, yang tampaknya begitu sensitif terhadap sedikit perubahan jumlah, telah direncanakan secara cermat itu sulit untuk ditentang. ... Sederetan nilai numerik yang alam tunjukkan melalui konstanta dasarnya masih menjadi bukti yang paling pasti untuk unsur disain kosmik.9
Sehubungan dengan fakta itu pula, seorang Profesor Astronomi dari Amerika, George Greenstein, menulis dalam bukunya, The Symbiotic Universe:
Tatkala kami meneliti semua bukti tersebut, muncul pikiran bahwa sebentuk perantara supranatural pasti terlibat.10


PENCIPTAAN ZAT

Atom, bagian pembangun zat, menjadi ada setelah terjadinya Ledakan Dahsyat. Atom-atom ini kemudian mengumpul bersama-sama membentuk alam semesta dengan bintang, bumi, dan matahari. Kemudian, atom-atom tersebut membentuk kehidupan di bumi. Dengan berkumpulnya atom-atom, segala yang anda lihat di sekitar anda: tubuh anda, kursi yang anda duduki, buku yang ada di tangan anda, langit yang terlihat melalui jendela, tanah, beton, buah-buahan, tanaman, semua makhluk hidup dan segala yang bisa anda bayangkan itu memasuki kehidupan.
Lantas, terbuat dari apakah atom itu, bagian pembangun segala sesuatu, dan jenis struktur apa yang atom miliki?
Bila kita periksa struktur atom, kita lihat bahwa semua bagiannya mempunyai tata aturan dan disain yang menonjol. Setiap atom mempunyai nukleus yang mengandung protron dan neutron yang jumlahnya tertentu. Di samping itu, ada elektron-elektron yang bergerak mengelilingi nukleus dalam suatu orbit yang tetap dengan kecepatan 1.000 km per detik.11 Jumlah elektron suatu atom sama dengan jumlah protonnya, karena proton yang bermuatan positif dan elektron yang bermuatan negatif selalu seimbang satu sama lain. Jika salah satu dari jumlah ini berbeda, maka tidak ada atom karena keseimbangan elektromagnetiknya terganggu. Nukleus atau inti atom, protron dan neutron yang ada di dalamnya, dan elektron di sekitarnya selalu bergerak. Elektron-elektron ini berputar mengelilingi inti atom mereka sendiri dan dengan kecepatan tertentu tanpa saling menyimpang. Kecepatannya selalu seimbang dengan yang lainnya dan selalu menjaga kelangsungan hidup atomnya. Tidak pernah terjadi salah-atur, perbedaan, atau pun perubahan.
Sangatlah gamblang bahwa kesatuan yang sangat teratur dan tertentu itu ada setelah peledakan dahsyat yang berlangsung pada yang non-ada. Jika Ledakan Dahsyat itu merupakan ledakan yang kebetulan dan tidak terkontrol, maka mestinya diikuti dengan kejadian acak dan tersebarnya segala yang terbentuk itu dalam suatu kekacaubalauan yang luar biasa dahsyatnya.
Sebenarnya, tatanan yang tak bercacat telah berlaku di setiap tahap sejak awal keberadaannya. Contohnya, alam semesta terbentuk di tempat dan waktu yang berbeda, namun begitu terorganisir sehingga alam semesta seakan-akan dihasilkan dari satu-satunya pabrik dengan kesadaran masing-masing. Mula-mula, elektron mendapati sendiri suatu nukleus dan mulai mengelilinginya. Kemudian, atom-atom menyatu untuk membentuk zat, dan semuanya menghasilkan obyek-obyek yang bermakna, bertujuan, dan masuk-akal. Sesuatu yang tidak wajar, mendua, tidak normal, tidak bermanfaat, dan tidak bertujuan tidak pernah terjadi. Segala sesuatu, dari unit terkecil sampai unsur terbesar, terorganisir dan mempunyai tujuan yang beragam.

Semuanya ini merupakan bukti kuat adanya Pencipta, Yang Mahakuasa, dan menunjukkan kenyataan bahwa segala sesuatu itu menjadi ada sesuai dengan kemauan-Nya kapan saja Ia kehendaki. Dalam Al-Qur'an, Allah menunjukkan penciptaan-Nya sehingga:

Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dengan sebenarnya; tatkala Ia berfirman, “Jadilah!” maka ia pun jadi. Firman-Nya adalah kebenaran. (Surat al-An’aam, 73)



SETELAH LEDAKAN DAHSYAT

Ketika Roger Penrose, seorang fisikawan yang mendalami penelitian tentang asal-usul alam semesta, membuktikan bahwa adanya alam semesta bukan kebetulan belaka, ini menunjukkan bahwa pasti ada tujuannya. Bagi sebagian orang, ‘alam semesta itu sudah lama di sana’ dan akan tetap di sana. Kita hanya mendapati diri berada tepat di tengah-tengah benda semesta ini. Pandangan ini mungkin tidak dapat membantu kita dalam memahami alam semesta. Menurut pandangan Penrose, ada banyak masalah yang mendalam tentang alam semesta yang di luar jangkauan indera kita saat ini.
Pandangan Roger Penrose ini sesungguhnya merupakan bahan pemikiran yang baik. Seperti yang kata-kata ini tunjukkan, banyak orang salah mengira bahwa adanya alam semesta dengan segala keharmonisannya yang sempurna itu ada bukan demi apa-apa dan bahwa mereka hidup di alam semesta ini demi peran yang lagi-lagi tidak bermakna.
Akan tetapi, tidaklah lumrah sama sekali bahwa suatu tatanan yang sempurna dan menakjubkan itu terjadi setelah adanya Ledakan Dahsyat, yang bagi kalangan ilmiah berarti pembentukan alam semesta.
Singkatnya, bila kita periksa sistem hebat ini di alam semesta, kita lihat bahwa adanya alam semesta dan cara kerjanya itu bersandar pada keseimbangan yang sangat cermat dan keteraturan yang, karena terlalu rumit, tidak bisa dijelaskan dengan penyebab-penyebab yang kebetulan. Sebagai bukti, alam semesta sama sekali tidak mungkin terbentuk sendiri atau secara kebetulan setelah terjadinya suatu ledakan dahsyat. Terbentuknya tata aturan sedemikian itu yang mengikuti suatu ledakan seperti Ledakan dahsyat hanya dimungkinkan sebagai hasil dari penciptaan yang supernatural.
Rencana dan tata aturan yang tiada banding itu tentunya membuktikan keberadaan sang Pencipta dengan pengetahuan, kebijakan dan kekuatan yang tidak terbatas, Yang telah menciptakan zat dari sesuatu yang tidak ada dan Yang mengendalikan dan mengaturnya secara berkesinambungan. Sang Pencipta ini ialah Allah, Penguasa langit, bumi dan seisinya. Semua fakta ini juga menunjukkan kita bagaimana filosofi materialisme, yang hanya merupakan suatu dogma abad ke-19, diganti dengan ilmu pengetahuan abad ke-20.
Dengan menguak rencana, disain, dan tata aturan hebat yang lazim ditemui di alam semesta itu, ilmu pengetahuan modern telah membuktikan keberadaan Sang Pencipta Yang telah menciptakan dan mengatur semua makhluk: yaitu, Allah.
Dengan berpijak pada jumlah manusia yang luar biasa banyaknya selama berabad-abad dan bahkan telah mengaburkan sendiri dengan topeng ilmu pengetahuan, materialisme membuat kesalahan besar dan menolak keberadaan Allah, Yang menciptakan dan mengatur zat dari sesuatu yang tidak ada.
Pada suatu hari, materialisme akan dikenang dalam sejarah sebagai keyakinan primitif dan takhyul yang bertentangan dengan akal dan juga ilmu pengetahuan.


AYAT-AYAT DI LANGIT DAN DI BUMI

Bayangkan bahwa anda membangun sebuah kota besar dengan menyertakan jutaan Legos bersama-sama. Misalkan di kota ini ada gedung-gedung pencakar langit, jalan-jalan berkelak-kelok, stasiun kereta api, pelabuhan udara, pusat-pusat perbelanjaan, lorong-lorong bawah tanah, dan juga sungai-sungai, danau-danau, hutan, dan pantai. Misalkan ada juga yang tinggal di dalamnya ribuan orang yang berseliweran di jalan raya, duduk-duduk di rumah, dan bekerja di kantor. Masukkan juga seluk-beluknya, termasuk lampu lalulintas, kotak pos, dan papan sinyal di terminal bus.
Jika seseorang mendatangi anda dan mengatakan bahwa semua Legos kota ini, yang anda dirikan dengan perencanaan yang matang hingga serinci-rincinya, dan semua bagian yang anda tempatkan dengan susah-payah itu muncul secara kebetulan hingga terwujud kota ini, bagaimanakah keadaan jiwa orang ini menurut anda?
Kini, tengoklah lagi kota yang telah anda bangun itu dan ingatlah bahwa keseluruhan kota ini akan rata dengan tanah bila anda lupa meletakkan sepotong Lego di tempatnya atau mengubah letaknya. Bisakah anda bayangkan seberapa besar keseimbangan dan tatanan yang telah anda tegakkan?
Kehidupan di dunia tempat tinggal ini juga mungkin dibuat dengan penghimpunan sejumlah besar bagian kecil seperti itu yang tak terbayangkan oleh benak manusia. Ketiadaan satu bagian kecil saja mungkin berarti akhir riwayat bumi ini.
Segala benda, dari unit terkecil zat yang berupa atom hingga galaksi yang mengandung trilyunan bintang, dari bulan pelengkap bumi hingga sistem matahari, semuanya berjalan dengan keserasian yang sempurna. Sistem yang tertata rapi ini berjalan mulus bagaikan arloji. Orang-orang sangat yakin bahwa sistem yang telah berumur trilyunan tahun ini akan berfungsi tanpa mengesampingkan bagian terkecil, sehingga mereka dapat menyusun rencana dengan bebas mengenai sesuatu yang mereka perkirakan akan terwujud dalam 10 tahun mendatang. Tak seorang pun khawatir kalau-kalau matahari tidak terbit esok hari. Sebagian besar orang tidak berpikir tentang 'mungkinkah bumi ini berubah menjadi lepas dari gravitasi matahari dan mulai bergerak menuju kegelapgulitaan entah di mana?'; atau bertanya, 'Apa yang mencegahnya dari kejadian ini?'
Dengan cara yang sama, manakala orang-orang menjelang tidur, mereka yakin bahwa jantung atau sistem pernafasan mereka tidak akan sesantai otak mereka. Akan tetapi, bila salah satu dari dua sistem penting ini berhenti-henti beberapa detik saja, maka bisa-bisa nyawa melayang.
Ketika 'kacamata biasa' di sekitar kehidupan kita tanggalkan dan sebab-akibat peristiwa-peristiwa tidak lagi ditaksir seolah-olah 'berlangsung dalam kejadian alamiahnya', kita lihat dengan gamblang bahwa segala benda tersusun dari sistem terencana yang amat teliti dan sangat saling bergantung sehingga seolah-olah kita bergantung pada kehidupan dengan kulit atau gigi kita. Perhatikanlah tatanan hebat yang berlaku di tempat ke mana pun anda memandang. Tentu saja, ada kekuatan besar yang menciptakan tatanan dan keserasian sedemikian itu. Pemilik kekuatan besar ini ialah Allah, Yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Dalam satu ayat Al-Qur'an difirmankan:

Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis; tak akan kau lihat ketidakseimbangan dalam ciptaan (Allah) Yang Maha Pemurah. Balikkanlah pandanganmu sekali lagi, tampakkah olehmu ada yang cacat? Lalu ulanglah pandanganmu sekali lagi; pandanganmu akan berbalik kepadamu, letih dan membingungkan. (Surat al-Mulk, 3-4)

Bila kita memandang makhluk-makhluk di langit, di bumi, dan semua yang terletak di antaranya, ternyata mereka semua membuktikan keberadaan Pencipta mereka dengan sendirinya. Di bab ini, kita akan memikirkan gejala alam dan makhluk hidup yang terlihat oleh semua orang, sekalipun tak pernah terpikirkan, dan bagaimana mereka menjadi ada dan melanjutkan keberadaan mereka. Jika kita hendak menuliskan semua ayat Allah di alam semesta, maka diperlukan ribuan jilid ensiklopedi. Karena itu, dalam bab ini, kita hanya akan secara singkat berurusan dengan beberapa pokok-persoalan yang layak untuk dipertimbangkan panjang-lebar.
Akan tetapi, penyebutan-penyebutan singkat ini pun akan membantu para ‘manusia yang berakal’ yang insyaf untuk memperhatikan fakta terpenting kehidupan mereka atau sekurang-kurangnya membantu mereka mengingatnya sekali lagi.
Karena Allah itu Ada.
Karena Dialah asal pertama langit dan bumi dan Dia bisa dipahami melalui akal.


KEAJAIBAN DI TUBUH KITA

'Mata Yang Setengah-Jadi Tak Bisa Melihat'
Apa yang terbersit di benak anda manakala mendengar kata 'mata'? Sadarkah anda bahwa salah satu hal terpenting dalam kehidupan adalah kemampuan untuk melihat? Jika menyadarinya, sudahkan anda memikirkan tanda-tanda lain yang terkandung dalam mata anda?
Mata adalah sepotong bukti yang paling nyata bahwa makhluk-makhluk hidup diciptakan. Semua organ penglihatan, termasuk mata binatang dan mata manusia, merupakan contoh yang sangat menonjol perihal rancangan yang sempurna. Organ istimewa ini amat rumit sampai-sampai mengungguli peralatan tercanggih di dunia ini.
Supaya mata dapat melihat, semua bagiannya harus bekerja sama secara serasi. Sebagai misal, jika mata kehilangan kelopak, tetapi masih mempunyai semua bagian lain seperti kornea, selaput penghubung, selaput pelangi, biji mata, lensa mata, retina, selaput koroid, urat mata, dan kelenjar airmata, itu pun sudah amat rusak dan akan segera kehilangan fungsi penglihatannya. Begitu pula, jika produksi airmata berhenti, maka mata akan segera kering dan menjadi buta kendati semua organ lain masih ada.


'Rantai kebetulan' yang diajukan oleh para evolusionis kehilangan semua maknanya menghadapi susunan rumit ini. Mustahil menjelaskan keberadaan mata kecuali sebagai zat ciptaan istimewa. Mata itu memiliki sistem rumit dengan banyak bagian dan, sebagaimana dibahas di atas, semua bagian pembentuk ini pasti menjadi ada pada waktu yang sama. Mustahil mata yang setengah-jadi berfungsi pada 'setengah melihat'. Pada keadaan-keadaan semacam ini, peristiwa penglihatan tak bisa berlangsung sama sekali. Seorang ilmuwan evolusionis menerima kebenaran ini:
Ciri umum mata dan sayap adalah hanya berfungsi jika tersusun sepenuhnya. Dengan kata lain, mata yang setengah-jadi tidak bisa melihat; burung dengan sayap setengah-sayap tidak dapat terbang.13
Dalam hal ini, kita menghadapi lagi pertanyaan yang sangat penting: siapa yang menciptakan semua unsur mata sekaligus?
Pemilik mata tentu saja bukan orang yang membuat putusan mengenai pembentukannya. Karena bagi yang tiada berpengetahuan tentang seperti apakah penglihatan itu tidak mungkin berhasrat untuk mempunyai organ penglihatan dan melekatkannya pada tubuhnya. Jadi, kita harus menerima keberadaan Pemilik Yang Maha Bijaksana yang menciptakan makhluk hidup dengan indera seperti penglihatan, pendengaran, dan sebagainya. Ada pernyataan lain bahwa sel-sel yang tak bernyawa bisa mencapai fungsi yang mensyaratkan nyawa seperti penglihatan dan pendengaran dengan kehendak dan upaya mereka sendiri. Sangatlah jelas bahwa ini mustahil. Dalam Al-Qur'an, dinyatakan bahwa penglihatan dilimpahkan kepada makhluk hidup oleh Allah:

Katakanlah: Dialah Yang telah menjadikan kamu dan membuatkan untuk kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani; sedikit sekali kamu bersyukur. (Surat al-Mulk, 23)


Pasukan di Dalam Tubuh Manusia

Setiap hari, berlangsung pertempuran di bagian terdalam raga yang tidak anda rasakan. Di satu pihak, virus dan bakteri bermaksud menyerbu tubuh anda dan mengambil kendali terhadapnya dan di pihak lain, sel-sel kekebalan melindungi tubuh dari musuh-musuh ini.
Musuh-musuh ini menunggu dalam keadaan siap-serang untuk memasuki kawasan yang mereka tuju; begitu ada kesempatan, mereka menuju kawasan sasaran. Namun demikian, para prajurit kawasan sasaran yang berdisiplin, tertata dan kuat itu tidak mudah menyerah kepada musuh. Pertama, para prajurit (fagosit) yang menelan dan menahan pasukan musuh itu tiba di medan tempur. Walau begitu, kadang-kadang pertempuran tersebut lebih liat daripada kemampuan tempur prajurit-prajurit ini. Pada keadaan semacam ini, prajurit-prajurit lain (makrofaga) dikerahkan. Keterlibatan mereka menyebabkan kehebohan di kawasan sasaran dan para prajurit lain (sel T pembantu) pun dipanggil untuk bertempur.
Prajurit-prajurit ini sangat mengenal penghuni setempat. Mereka dengan cepat bisa membedakan pasukan mereka sendiri dari pasukan musuh. Mereka segera mengerahkan prajurit (sel-sel B) yang ditugaskan untuk memproduksi senjata. Para serdadu ini mempunyai kemampuan luar biasa. Meskipun mereka tidak pernah melihat musuh, mereka dapat menghasilkan senjata yang akan menyebabkan musuh tak berdaya. Di samping itu, mereka mengangkut senjata-senjata yang mereka hasilkan itu sejauh semestinya. Selama perjalanan dalam tugas yang sulit ini mereka berhasil tidak menyebabkan kerusakan apa pun pada mereka sendiri atau pada sekutu-sekutu mereka. Kemudian, tim penyerang (sel-sel T pembunuh) menyiangi jalan. Mereka membongkar bahan beracun yang mereka angkut sendiri ke lokasi tergenting musuh. Bila menang, sekelompok prajurit lain (sel-sel T pendesak) tiba di medan tempur dan mengirimkan semua serdadu mereka kembali ke barak mereka. Para prajurit yang tiba di medan tempur terakhir (sel-sel memori) mencatat semua informasi yang relevan mengenai musuh, sehingga bisa dipakai di kejadian penyerbuan serupa di masa mendatang.

Pasukan hebat yang dibahas di atas tersebut ialah sistem kekebalan di tubuh manusia. Segala hal yang dijelaskan tersebut dilakukan oleh sel-sel mikroskopik yang tak terlihat dengan mata telanjang. (Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat Harun Yahya, For Men of Understanding, "The Signs in the Heaven and the Earth".)
Berapa banyak orang yang sadar bahwa mereka memiliki pasukan yang tertata, berdisiplin, dan sempurna di dalam tubuh mereka? Berapa banyak dari mereka yang sadar bahwa mereka dikelilingi dari semua sisi oleh mikroba-mikroba yang, jika tak terhalang, akan menyebabkan mereka menderita penyakit yang parah atau bahkan meninggal? Sesungguhnya, terdapat banyak mikroba yang berbahaya di udara yang kita hirup, di air yang kita minum, di makanan yang kita makan, dan di permukaan benda yang kita sentuh. Walaupun seseorang tak menyadari semua itu, sel-sel tersebut di tubuhnya berupaya sekuat tenaga untuk menyelamatkannya dari penyakit yang mungkin bahkan bisa menimbulkan kematiannya.
Kemampuan semua sel kekebalan untuk membedakan sel-sel musuh dari sel-sel tubuh, kemampuan sel-sel B untuk menyiapkan senjata selama dibutuhkan tanpa merugikan sel-sel tubuh lainnya, terpenuhinya tugas sel-sel penerima sinyal secara komplit tanpa masalah apa pun segera seusai mereka selesaikan pekerjaan mereka, dan kemampuan sel-sel memori tersebut hanyalah beberapa ciri istimewa sistem ini.

Karena semua alasan itu, cerita pembentukan sistem kekebalan tak pernah diangkat oleh para penulis evolusionis.
Dengan berfungsinya penyakit atau tanpa sistem kekebalan, sangatlah sulit bagi seseorang untuk bertahan hidup karena ia akan terbuka bagi semua mikroba dan virus di dunia luar. Saat ini, orang seperti ini hanya bisa hidup dalam ruang khusus tanpa kontak langsung dengan apa pun di luar ruang. Karena itu, tanpa sistem kekebalan, tak mungkin seseorang bertahan hidup di lingkungan primitif. Ini mengarahkan kita kepada fakta bahwa suatu sistem yang sangat rumit semacam sistem kekebalan hanya bisa diciptakan seluruhnya sekaligus dengan semua unsurnya.


Sistem Terencana Secara Rinci

Bernafas, makan, berjalan, dan lain-lain merupakan fungsi manusia yang amat alamiah. Namun kebanyakan orang tidak memikirkan bagaimana tindakan-tindakan dasar ini berlangsung. Sebagai contoh, bila anda makan buah, anda tidak memikirkan bagaimana makanan ini bisa bermanfaat bagi tubuh anda. Satu-satunya hal di benak anda adalah memakan makanan yang menyehatkan; pada saat yang sama, tubuh anda terlibat dalam suatu proses luar biasa yang sangat rinci dengan tujuan menjadikan makanan ini sesuatu yang menyehatkan.
Sistem pencernaan yang melangsungkan proses rinci ini mulai berfungsi segera sesudah sepotong makanan masuk ke dalam mulut. Dengan terlibat dalam suatu sistem sejak awal-mula, air liur membasahi makanan dan mempermudah pengunyahannya oleh gigi dan peluncurannya melalui kerongkongan.
Kerongkongan membantu pengangkutan makanan ke perut dengan bekerjanya suatu keseimbangan yang sempurna. Di sini, makanan itu dicerna dengan asam hidroklorik yang terdapat di perut. Asam ini sangat kuat sehingga mampu melarutkan tidak hanya makanan, tetapi juga dinding perut. Tentu saja, kerusakan semacam ini tidak diperbolehkan di sistem yang sempurna ini. Suatu keluaran yang disebut lendir yang keluar selama pencernaan itu menutupi seluruh dinding perut dan memberikan perlindungan yang sempurna melawan pengaruh buruk asam hidroklorik. Jadi, perut tercegah dari penghancuran diri-sendiri.
Bagian lain dari sistem pencernaan itu terencana juga. Potongan-potongan makanan berfaedah yang dilumatkan dengan sistem pencernaan itu diserap oleh dinding usus kecil dan memasuki pembuluh darah. Permukaan-dalam usus kecil ini ditutupi dengan sulur mungil yang disebut 'vilus'. Di puncak sel-sel ini di atas vilus adalah panjangan mikroskopik yang disebut mikrovilus. Panjangan-panjangan ini berfungsi sebagai pompa untuk menyerap gizi. Beginilah cara penyerapan gizi oleh pompa-pompa yang disampaikan semuanya ke seluruh tubuh dengan sistem peredaran.
Hal yang layak diperhatikan di sini adalah bahwa evolusi sama sekali tidak bisa menjelaskan sistem yang baru saja diringkas dengan singkat ini. Menurut teori evolusi, organisme yang rumit itu berkembang dari keadaan primitif melalui akumulasi perubahan susunan kecil-kecilan secara bertahap. Bagaimanapun, sebagaimana telah dinyatakan dengan jelas, sistem di dalam perut tidak mungkin terbentuk selangkah demi selangkah. Ketiadaan satu faktor saja akan menimbulkan kematian organismenya.
Tatkala makanan diterima masuk ke dalam perut, getah-perut memperoleh kemampuan untuk melumatkan makanan sebagai hasil dari serangkaian perubahan kimiawi. Kini, bayangkanlah makhluk hidup yang dalam suatu proses yang katanya evolusi; dalam tubuhnya tidak mungkin terjadi transformasi kimiawi yang terencana semacam itu. Makhluk hidup ini tidak bisa memperoleh kemampuan ini, sehingga tidak bisa mencerna makanan yang dimakannya dan akan kelaparan sampai mati dengan setumpuk makanan di perutnya.
Selain itu, selama pengeluaran asam pelarut ini, dinding perut harus menghasilkan keluaran yang disebut lendir pada saat itu juga. Kalau tidak, asam di dalam perut ini akan meremukkan perut. Karena itu, supaya kehidupan berlanjut, perut harus mengeluarkan keduanya (asam dan lendir) pada waktu yang bersamaan. Ini memperlihatkan bahwa yang pasti terjadi sebetulnya bukan evolusi secara kebetulan setahap demi setahap, melainkan suatu penciptaan terencana dengan semua sistemnya.
Semua ini menunjukkan bahwa raga manusia mirip pabrik besar yang tercipta dari banyak mesin kecil yang bekerja bersama-sama dengan keserasian yang sempurna. Sebagaimana pabrik-pabrik yang memiliki perancang, insinyur, dan perencana, tubuh manusia pun memiliki Pencipta Yang Agung.


HEWAN DAN TUMBUHAN

Jutaan jenis hewan dan tumbuhan yang terdapat di dunia ini hadir sebagai ayat yang membuktikan keberadaan dan kemungkinan Pencipta kita.
Semua makhluk hidup ini--sejumlah kecilnya akan kita bahas di sini sebagai contoh--pantas untuk diperiksa sendiri-sendiri. Mereka semua memiliki sistem tubuh yang berlainan, taktik pertahanan yang beragam, cara makan yang unik, dan metode perkembangbiakan yang menarik. Sayangnya, tidak mungkin memaparkan semua sifat mereka dalam sejilid buku. Berjilid-jilid ensiklopedi pun tidak akan cukup untuk tugas ini.
Akan tetapi, sedikit contoh yang akan kita bahas di sini pun akan memadai untuk membuktikan bahwa kehidupan di bumi tidak mungkin dijelaskan dengan mengatakannya kejadian kebetulan.

Dari Ulat ke Kupu-Kupu

Bila anda mempunyai 450-500 telur dan harus melindunginya dari ancaman lingkungan, apa yang akan anda lakukan? Langkah terbijak bagi anda adalah mengambil tindakan pencegahan supaya tidak terpencar berhamburan, umpamanya karena angin atau faktor lingkungan lainnya. Dengan menjadi hewan yang menelurkan kebanyakan telurnya pada satu waktu (450-500), ulat sutera menggunakan cara yang sangat cerdas untuk melindungi telur-telurnya: ulat sutera itu menyatukan telur-telur tersebut dengan zat kental (benang) yang dikeluarkannya untuk mencegah supaya telur-telur itu tidak terpencar ke sekitarnya.
Ulat-ulat yang memunculkan telur-telur mereka mula-mula mendapati cabang yang aman bagi mereka sendiri dan kemudian mengikatkannya dengan benang yang sama. Lalu, untuk mengembangbiakkan mereka sendiri, mereka mulai memintal kepompong dengan benang yang mereka keluarkan. Untuk melengkapi proses ini, diperlukan waktu 3-4 hari bagi ulat yang baru membuka mata menatap kehidupan. Selama jangka waktu ini, ulat itu membuat ribuan putaran dan menghasilkan benang sepanjang rata-rata 900-1500 meter.14 Pada akhir proses ini, mulailah tugas baru sebagai bagian dari metamorfosis untuk menjadi kupu-kupu yang anggun.

Tindakan yang dilakukan oleh ulat sutera induk untuk melindungi telur-telurnya atau pun perilaku ulat mungil tanpa kesadaran, pendidikan, atau pengetahuan tersebut tidak bisa dijelaskan oleh teori evolusi. Khususnya, ajaibnya kemampuan si induk untuk menghasilkan benang yang dipakai untuk mengamankan telur-telurnya. Pengetahuan ulat yang baru lahir tentang lingkungan yang paling cocok bagi dirinya sendiri, pemintalan kepompongnya yang sesuai dengan hal ini, pelaksanaan metamorfosisnya, dan kehadirannya melalui metamorfosis yang tanpa masalah ini berada di luar pemahaman manusia. Karenanya, kita bisa mengatakan ala kadarnya bahwa setiap ulat lahir ke dunia dengan dibekali pengetahuan tentang apa yang harus dilakukannya, yang berarti bahwa semua hal ini 'diajarkan' sebelum ia lahir.

Mari kita jelaskan ini dengan sebuah contoh. Apa pendapat anda jika melihat bayi yang baru lahir bisa berdiri selama beberapa jam setelah kelahirannya, mengumpulkan benda-benda yang ia butuhkan untuk membuat alas tidurnya (seperti selimut kapas, bantal, kasur), dan kemudian menyatukannya dengan rapi, membuat alas tidurnya dan berbaring di atasnya? Setelah anda pulih dari keterkejutan terhadap peristiwa ini, mungkin anda mengira bahwa bayi itu pasti diajari dengan cara yang luar biasa di rahim induknya untuk mengerjakan proses seperti itu. Kejadian ulat itu tidak berbeda dari bayi dalam contoh ini.

Ini sekali lagi mengarahkan kita pada kesimpulan yang sama: makhluk-makhluk hidup hadir ke dalam kehidupan, berkelakuan dan hidup dengan cara yang ditentukan oleh Allah Yang menciptakan mereka. Ayat Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Allah memberi ilham kepada lebah dan memerintahkannya untuk membuat madu (Surat an-Nahl, 68-69) memberi contoh tentang rahasia besar dunia makhluk hidup. Rahasia ini adalah bahwa semua makhluk hidup tunduk kepada kehendak Allah dan mengikuti takdir yang ditentukan oleh Dia. Karena inilah lebah membuat madu dan ulat sutera membuat sutera.

Sayap Yang Simetris

Bila kita pandang sayap-sayap kupu-kupu di gambar, kita lihat kesimetrisan sempurna yang terdapat pada sayap-sayap ini. Sayap-sayap yang seperti renda ini banyak dihiasi dengan pola, sorotan, dan warna yang masing-masing bagaikan karya seni.
Bila anda lihat sayap-sayap kupu-kupu ini, anda perhatikan bahwa pola dan warnanya pada kedua sisi sama persis, kendati anda lihat seteliti mungkin. Bahkan titik terkecil pun terdapat pada kedua sayap, yang dengan demikian menunjukkan kesimeterisan dan tatanan yang tidak bercacat.

Di samping itu, tak satu pun dari warna-warna di sayap-sayap tipis ini bercampur dengan yang lain, masing-masing terpisah dengan tegas dari yang lain. Sebenarnya, warna-warna ini terbentuk melalui penumpukan sisik-sisik mungil yang menggugus satu sama lain. Tidakkah merupakan keajaiban bagaimana sisik-sisik kecil, yang mudah tersebar dengan sentuhan lembut tangan anda, bisa tertata di kedua sayap tanpa kekeliruan sedikit pun di pembagiannya sehingga menghasilkan pola yang tepat sama? Pemindahan sebuah sisik tunggal pun akan menghancurkan kesimetrisan sayap dan merusak keindahannya. Namun demikian, anda tak pernah melihat kecampuradukan sayap kupu-kupu di bumi ini. Sayap-sayap itu rapi dan anggun seolah-olah dibuat oleh seniman. Sesungguhnya sayap-sayap tersebut buatan Pencipta Yang Agung.


Hewan dengan Leher Terpanjang: Jerapah

Jerapah mempunyai banyak karakteristik yang menakjubkan. Salah satunya adalah bahwa lehernya tegak pada 7 tulang belakang, sama dengan mamalia lainnya, walaupun leher ini sangat panjang. Fakta yang menakjubkan lainnya adalah bahwa jerapah sama sekali tidak memiliki masalah pemompaan darah naik ke otaknya di puncak lehernya yang panjang. Dengan sedikit berpikir saja akan terlintas betapa sulitnya keharusan pemompaan darah sedemikian tinggi. Namun jerapah tidak mempunyai masalah mengenai hal ini, karena jantungnya dilengkapi dengan perlengkapan untuk memompa darah setinggi sesuai dengan keperluannya. Ini memungkinkan jerapah menjalani kehidupannya tanpa susah-payah.

Sekalipun begitu, jerapah masih menghadapi masalah lain ketika minum air. Pada dasarnya, jerapah mestinya mati karena tekanan darah yang tinggi setiap membungkukkan leher untuk minum air. Akan tetapi, sistem yang sempurna di lehernya meredam risiko ini dengan lengkap. Ketika jerapah membungkuk, katup-katup di kantung lehernya menutup dan mencegah darah yang berlebihan akibat aliran ke otak.
Tidak ada keraguan bahwa jerapah tidak memperoleh ciri-ciri ini dengan merencanakannya menurut kebutuhannya. Bahkan lebih tidak masuk akal bila mengatakan bahwa semua perlengkapan penting ini dibentuk seiring dengan berlalunya waktu melalui proses evolusi secara bertahap. Supaya tetap hidup, jerapah membutuhkan sistem pemompaan untuk mengalirkan darah ke otak dan sistem katup untuk mencegah tekanan darah yang tinggi sewaktu membungkuk. Jika salah satu dari karakteristik ini tidak ada atau tidak berfungsi dengan tepat, maka mustahil bagi jerapah untuk terus hidup.
Kesimpulan yang harus ditarik dari semua ini adalah bahwa spesies jerapah lahir ke dunia dengan segala karakteristiknya yang amat penting bagi kehidupannya. Mustahil bagi makhluk yang tidak menguasai tubuhnya untuk mendapatkan ciri-ciri dasarnya secara sengaja. Jadi, ini jelas-jelas membuktikan bahwa jerapah diciptakan melalui penciptaan yang disengaja, yaitu oleh Allah.


Penyu Laut

Penyu-penyu laut hidup di gelombang samudera dengan bergerombol menuju pantai bila tiba saatnya untuk berkembang biak. Walaupun ini bukan pantai biasa. Pantai yang mereka datangi untuk berkembang biak pasti tempat kelahirannya.15 Kadang-kadang penyu laut harus melakukan perjalanan sejauh 800 kilometer untuk tiba di sana. Namun perjalanan yang panjang dan keras tidak mengubah keadaan ini. Mereka tiba di pantai tempat kelahiran mereka untuk melahirkan keturunan mereka, apa pun yang terjadi.

Sungguh luar biasa bagaimana suatu makhluk hidup bisa menemukan jalan kembalinya ke pantai yang sama persis sesudah 20-25 tahun keberangkatannya dari sana.16 Yang lebih luar biasa, penyu laut bisa menemukan arah tempat kelahirannya di kedalaman samudera yang cahayanya sedikit sekali, dan kemudian membedakannya dari begitu banyak pantai yang serupa.
Akhirnya, ribuan musafir yang tanpa kompas ini mencapai pantai yang sama pada waktu yang sama. Alasan yang melandasi pertemuan yang bertubi-tubi ini yang pada mulanya merupakan misteri itu kini menjadi kejutan besar ketika akhirnya terkuak. Karena penyu-penyu tahu bahwa keturunan mereka tidak bisa bertahan hidup di keadaan laut, mereka memendam telur mereka di bawah pasir di pantai. Tetapi mengapa mereka semua bertemu di pantai yang sama pada waktu yang sama? Apakah bayi mereka tidak akan bertahan hidup jika mereka melakukan hal yang sama di waktu yang berbeda dan di pantai yang berlainan? Orang-orang yang melakukan penelitian mengenai topik ini dihadapkan dengan situasi yang menarik. Ribuan keturunan di bawah pasir itu harus mengatasi sejumlah kendala besar setelah memecahkan telur mereka dengan gumpalan keras pada kepala mereka. Bayi penyu seberat rata-rata 31 gram ini tidak bisa secar sendiri-sendiri menggali lapisan tanah di atas mereka. Mereka semua saling membantu. Ketika ribuan bayi penyu di pantai mulai menggali tanah, mereka membuatnya pada permukaan pasir selama beberapa hari. Walau demikian, sebelum muncul di permukaan, mereka menunggu sesaat hingga malam tiba. Ini karena pada siang hari, terdapat bahaya yang mengintai dari para pemangsa. Di samping itu, akan cukup sulit bagi mereka untuk merangkak di atas pasir yang terbakar oleh sinar matahari. Bila malam tiba, mereka naik ke permukaan setelah menyudahi proses penggalian. Kendati gelap, mereka bekerja keras menuju laut dan berangkat dari pantai untuk kembali ke sana pada 20-25 tahun kemudian.
Mustahil bagi bayi-bayi penyu ini untuk mengetahui bahwa mereka harus menggali jalan mereka ke atas sesudah bermunculan dari telur mereka dan menunggu sesaat pada jarak tertentu dari laut. Sama sekali tidak mungkin bagi mereka untuk mengetahui, tatkala masih terpendam di tanah, apakah ini siang ataukah malam, bahwa para pemangsa terdapat di luar sana dan bahwa mereka bisa menjadi mangsa predator, bahwa pasirnya terbakar karena matahari, bahwa ini bisa membahayakan mereka, dan bahwa mereka harus bekerja keras menuju laut. Jadi, bagaimanakah pelaksanaan yang disengaja ini muncul?
Satu-satunya jawaban atas pertanyaan ini adalah bahwa bayi-bayi penyu ini telah agak 'terprogram' untuk berperilaku secara demikian, yang berarti bahwa Pencipta mereka telah mengilhami mereka naluri yang menolong mereka menyelamatkan kehidupan mereka.


Kumbang Pengebom

Kumbang pengebom merupakan serangga yang padanya telah banyak dilakukan penelitian. Ciri yang menyebabkan serangga ini sangat populer adalah bahwa kumbang pengebom menggunakan metode kimiawi untuk melindungi diri dari musuh-musuhnya.
Pada keadaan bahaya, serangga ini menyemprotkan hidrogem peroksida dan hidroquinon yang tersimpan di tubuhnya ke arah si musuh untuk melindungi diri. Sebelum bertempur, susunan-susunan istimewa yang disebut cuping pengeluar membuat campuran pekat kedua zat kimia ini. Campuran ini disimpan di ruang terpisah yang disebut ruang penyimpanan. Ruang ini dihubungkan dengan ruang kedua yang disebut ruang peledakan. Kedua ruang ini dijaga agar terpisah satu sama lain dengan otot sfingter. Ketika serangga ini merasakan bahaya, ia memencet otot-otot yang mengelilingi ruang penyimpanan seraya mengendurkan otot sfingter, sedangkan zat kimia di ruang penyimpanan dipindahkan ke ruang peledakan. Sejumlah besar panas diluncurkan dan terjadilah penguapan. Uap dan gas oksigen luncuran ini menggunakan tekanan pada dinding-dinding ruang peledakan, dan zat kimianya disemprotkan ke arah musuh melalui suatu saluran yang mengarah keluar dari tubuh kumbang tersebut.17
Masih merupakan misteri besar bagi para peneliti, bagaimana serangga bisa melabuhkan sistem kokoh di dalam dirinya sendiri yang akan cukup untuk memicu reaksi kimia yang dengan mudah bisa membahayakannya seraya juga mengisolasi diri dari pengaruh sistem ini. Tak meragukan, keberadaan dan bekerjanya sistem ini terlalu rumit untuk disifatkan pada serangga sendiri. Masih merupakan bahan diskusi, bagaimana kumbang pengebom membuat sistem sedemikian itu bekerja dalam tubuh mungilnya yang berukuran sekitar 2 cm panjangnya, ketika manusia yang pakar hanya bisa menampilkannya di laboratorium.
Satu-satunya kebenaran yang muncul di sini adalah bahwa serangga ini merupakan contoh nyata yang menolak teori evolusi sepenuhnya, karena mustahil bagi sistem kimia rumit ini untuk dibentuk dengan serangkaian berbagai kebetulan dan berlalu hingga generasi mendatang. Bahkan, kerusakan atau 'cacat' kecil pun pada sepotong tunggal sistem itu membuat hewan tersebut tak berdaya, sehingga akan segera terbunuh atau akan menyebabkannya bunuh-diri. Karena itu, satu-satunya penjelasan adalah bahwa senjata kimia di tubuh serangga ini pasti muncul sekaligus beserta semua bagiannya dan tanpa cacat.


Sarang Rayap

Semua orang mungkin terkejut bila menyaksikan sarang rayap yang didirikan di tanah. Sarang-sarang ini merupakan keajaiban arsitektur, yang tingginya mencapai 5 atau 6 meter.
Bila anda bandingkan ukuran rayap dan sarangnya, akan anda dapati bahwa rayap itu telah berhasil merampungkan proyek arsitekturnya yang berukuran 300 kali lebih besar daripada dirinya sendiri. Namun yang lebih aneh lagi ialah bahwa rayap-rayap itu buta.
Orang yang tak pernah melihat sarang besar yang dibangun oleh rayap buta mungkin mengira bahwa sarang itu terbuat dari gundukan pasir yang saling bertumpukan. Akan tetapi, sarang rayap membuktikan rancangan yang mengagumkan yang tak terbayangkan oleh benak manusia; di dalamnya terdapat saluran-saluran yang saling berhubungan, lorong-lorong, sistem ventilasi, langsiran produksi cendawan khusus, dan pintu keluar pengaman.

Jika anda mengumpulkan ribuan orang buta dan memberi mereka semua jenis peralatan teknik, anda tak akan pernah bisa membuat mereka menyusun sarang yang serupa dengan yang dibuat oleh sekumpulan rayap. Jadi, pikirkan saja:
- Bagaimana bisa seekor rayap yang panjangnya 1-2 cm mempelajari informasi rekayasa dan arsitektur yang dibutuhkan untuk memuluskan rancangan tersebut?
- Bagaimana bisa ribuan ekor rayap buta mengelola pekerjaan secara serasi untuk membangun bangunan ini yang merupakan keajaiban artistik?
- Jika anda belah sarang rayap menjadi dua pada tahap awal pembangunannya, dan kemudian menyatukannya kembali, maka akan anda lihat bahwa semua gang, saluran, dan jalan saling bersesuaian. Bagaimana kejadian ajaib ini bisa dijelaskan?
Kesimpulan yang harus ditarik dari contoh ini adalah bahwa Allah telah menciptakan semua makhluk hidup secara unik dan tanpa contoh lebih dahulu. Bahkan satu sarang rayap pun cukup bagi manusia untuk memahami Allah dan yakin bahwa Dialah Yang menciptakan semuanya.


Burung Pelatuk

Sebagaimana kita ketahui bersama, burung-burung pelatuk membangun sarang-sarang mereka dengan mengebor lubang-lubang di batang pohon dengan paruh mereka. Ini mungkin terdengar biasa bagi kebanyakan orang. Namun hal yang lalai untuk diperhatikan adalah mengapa burung pelatuk tidak mengalami pendarahan ketika mereka memukul-mukul secara dahsyat dengan kepala mereka. Yang dilakukan oleh burung pelatuk ini serupa dengan orang yang memukul paku ke dinding dengan kepalanya. Jika orang mencoba melakukan perbuatan seperti ini, mungkin ia akan mengalami pusing yang diikuti dengan gegar otak. Akan tetapi, burung pelatuk bisa mematuk batang pohon yang keras 38-43 kali dalam waktu dua atau tiga detik saja tanpa menderita apa-apa.18
Tidak terjadi apa-apa karena struktur kepala burung pelatuk tercipta secara ideal untuk tugas semacam itu. Tengkorak burung pelatuk mempunyai sistem suspensi yang luar biasa yang menyerap daya pukulan. Muka dan beberapa urat tengkoraknya yang berdampingan dengan paruh dan rahangnya itu sangat kokoh sehingga turut mengurangi efek pukulan yang kuat selama pematukan.19
Rancangan dan perencanaan tidak berakhir di sini. Dengan terutama lebih menyukai kayu tusam, burung pelatuk mengecek umur pohon sebelum mengebor lubang padanya dan memilah yang umurnya lebih dari 100 tahun, karena kayu tusam yang umurnya lebih dari 100 tahun menderita suatu penyakit yang menyebabkan kulit kayu keras dan tebal untuk dilembutkan. Baru-baru ini sajalah hal ini ditemukan oleh sains dan mungkin anda membacanya di sini untuk pertama kalinya dalam kehidupan anda; burung pelatuk telah mengetahuinya selama berabad-abad.
Ini bukan satu-satunya alasan mengapa burung pelatuk lebih menyukai kayu tusam. Burung pelatuk menggali rongga di sekeliling sarang mereka yang fungsinya pada mulanya tidak terpahami. Kemudian rongga-rongga ini terpahami untuk melindungi mereka dari bahaya besar. Seiring dengan waktu, damar lengket yang lolos dari kayu tusam memenuhi rongga sehingga rintisan sarang burung pelatuk penuh dengan genangan yang dengan demikian ini, burung pelatuk bisa terlindung dari ular, musuh terbesar mereka.
Corak menarik lain burung pelatuk adalah mulut mereka yang cukup tipis untuk juga menyusup sarang semut di pohon. Mulut mereka juga lengket yang memungkinkan mereka untuk mengumpulkan semut di sana. Kesempurnaan penciptaan ini selanjutnya terungkap oleh fakta bahwa mulut mereka mempunyai susunan yang mencegah mereka dari bahaya asam di tubuh semut-semut.20
Burung pelatuk, yang setiap cirinya dibahas di berbagai paragraf di atas, dengan semua corak rincinya membuktikan bahwa mereka itu 'diciptakan'. Jika burung pelatuk berkembang secara kebetulan sebagaimana klaim teori evolusi, mereka akan mati sebelum memperoleh ciri konsisten yang luar biasa seperti itu dan mereka akan punah. Akan tetapi, karena mereka diciptakan oleh Allah dengan 'rancangan' istimewa yang disesuaikan dengan kehidupan mereka, mereka memulai kehidupan mereka dengan semua sifat-sifat pentingnya.


Kamuflase

Salah satu strategi pertahanan hewan adalah kamuflase. Beberapa hewan mempunyai perlindungan khusus yang berupa struktur tubuh dan pewarnaan yang semuanya sesuai dengan habitat mereka. Tubuh-tubuh makhluk hidup ini sangat serasi dengan lingkungan mereka yang bila anda lihat di gambar, tidak bisa anda katakan apakah itu tanaman ataukah hewan, atau membedakan mereka dari sekeliling mereka.
Sebagaimana yang akan kita lihat pada halaman-halaman berikut, keserupaan yang luar biasa pada seekor serangga dengan daun membantunya mengalihkan perhatian musuh-musuhnya. Jelas bahwa hewan mungil ini tidak membuat tubuhnya kelihatan seperti daun. Mungkin ia tidak sadar juga bahwa ia terlindung karena terlihat seperti daun. Namun demikian, kamuflase ini sedemikian tangkas sehingga segera mengena sebagai taktik pertahanan yang terencana secara khusus dan 'tercipta'.

Mata Palsu

Ada beberapa metode pertahanan menarik yang tak terbayangkan dan luar biasa di dunia hewan. Salah satunya ialah mata palsu. Dengan mata palsu semacam ini, berbagai kupu-kupu, ulat, dan spesies ikan meyakinkan musuh mereka bahwa mereka 'berbahaya'.
Kupu-kupu di gambar kiri membuka sayap mereka segera sesudah merasakan suatu bahaya dan mempertontonkan sepasang mata di setiap sayap mereka yang tampaknya cukup mengancam musuh-musuh mereka.
Mari kita luangkan waktu dan berpikir: mungkinkah mata yang sangat meyakinkan tersebut merupakan hasil dari kebetulan? Bagaimana mungkin kupu-kupu tahu bahwa sepasang mata yang menakutkan akan tampak bila ia membuka sayapnya dan bahwa pandangan ini akan menggetarkan musuhnya? Pernahkah kupu-kupu melihat pola pada sayapnya dan memutuskan bahwa pola ini menakutkan dan bahwa ini bisa berfaedah pada kejadian bahaya?
Pola yang meyakinkan seperti itu hanya mungkin merupakan hasil dari rancangan yang disengaja, bukan dari kebetulan. Lagipula, sama sekali tidak mungkin bahwa kupu-kupu menyadari pola-pola pada sayapnya dan menemukannya sendiri sebagai taktik pembelaan. Jelas bahwa Allah, Yang menciptakan kupu-kupu, melimpahkan pada tubuhnya pola seperti itu dan memberi ilham naluri kepada hewan untuk dipakai pada keadaan bahaya.

Bunga Teratai

Bunga-bunga kecil biasanya dianggap biasa oleh orang-orang, meski sempurna sepenuhnya. Orang-orang tidak mencerap keajaiban penciptaan bunga-bunga ini karena terlihat ada di mana-mana setiap hari. Karena itu, bunga-bunga yang tumbuh di tempat yang sangat berbeda, dalam keadaan yang sangat lain, dan dalam ukuran yang sangat berbeda akan ditaksir tanpa 'kacamata biasa' dan dengan demikian membantu kita mencerap keberadaan Allah.
Teratai-teratai Amazon yang tumbuh di lumpur lengket yang menutupi dasar Sungai Amazon cukup menarik untuk mengganti 'kacamata biasa' orang-orang, karena mereka melangsungkan kehidupan mereka tidak dengan cara yang biasanya kita saksikan setiap hari, tetapi dengan perjuangan yang sangat lain.
Tanaman-tanaman ini mulai tumbuh di lumpur dasar Sungai Amazon, dan kemudian menjangkau permukaan sungai. Tujuannya adalah mencapai sinar matahari yang sangat penting untuk keberadaan mereka. Tatkala akhirnya mencapai permukaan air, mereka berhenti tumbuh dan mengembangkan pucuk bundar berduri. Pucuk-pucuk ini berkembang menjadi daun-daun raksasa dengan jangkauan 2 meter dalam beberapa jam. Dengan 'mengetahui' bahwa semakin banyak menutupi permukaan sungai dengan daun-daun yang berhamparan, semakin mampu mereka memanfaatkan sinar matahari, teratai-teratai ini banyak menggunakan siang hari untuk melakukan fotosintesis. Mereka 'tahu' bahwa kalau tidak, mereka tidak akan dapat bertahan hidup di dasar sungai karena langkanya cahaya. Tentu saja, menjalankan taktik 'cerdik' seperti ini jelas merupakan ilham bagi tanaman.

Akan tetapi, sinar matahari saja tidak memadai bagi terata-teratai Amazon. Mereka juga membutuhkan oksigen. Sekalipun demikian, tentu saja oksigen ini tidak ada di tanah berlumpur tempat akar-akar mereka. Karena inilah teratai membentangkan tangkai yang berkembang dari akar ke atas menuju permukaan air yang mengambangkan daun-daun mereka. Kadang-kadang tangkai-tangkai ini tumbuh setinggi 11 meter; mereka berkaitan dengan daun-daun dan berfungsi sebagai pengangkut oksigen antara daun dan akar.21
Bagaimana pucuk itu bisa tahu pada tahap awal kehidupannya di kedalaman sungai bahwa ia membutuhkan oksigen dan sinar matahari untuk mempertahankan hidup, bahwa ia tidak akan bisa hidup tanpanya, dan bahwa segala sesuatu yang dibutuhkannya ini terdapat di permukaan air? Makhluk yang baru saja mengenal kehidupan ini tidak menyadari kenyataan bahwa air ini mempunyai permukaan atau pun keberadaan matahari dan oksigen.
Karena itu, jika seluruh kejadian ini ditaksir dari sudut pandang evolusionis, tumbuh-tumbuhan ini pasti sudah lama takluk oleh keadaan lingkungan dan menjadi punah. Akan tetapi, teratai masih ada saat ini dengan segala kesempurnaannya.
Perjuangan kehidupan teratai-teratai yang sulit dipercaya ini masih berlangsung setelah mereka mencapai sinar dan oksigen di permukaan air, yang di sini mereka menggulung daun-daun raksasa mereka ke atas supaya tidak tenggelam.
Mereka dapat melangsungkan kehidupan dengan semua pencegahan ini. Sekalipun demikian, mereka tahu bahwa ini tidak cukup untuk perkembangbiakan. Mereka membutuhkan makhluk hidup yang akan membawa serbuk-sari mereka ke teratai lain, dan makhluk hidup ini ialah kumbang yang tercipta dengan ketertarikannya pada warna putih. Hewan ini lebih suka teratai putih ini daripada bunga-bunga menarik lainnya di Sungai Amazon. Ketika teratai Amazon dikunjungi oleh hewan ini yang akan melestarikan spesies mereka, mereka menutup semua daun mereka, membelenggu mereka, dan menawari mereka serbuk-sari yang cukup banyak. Mereka membiarkan mereka bebas setelah menyekap mereka selama satu malam, dan kemudian mengubah warna mereka supaya mereka tidak membawa kembali serbuk-sari yang sama kepada mereka. Segera setelah putih murni, teratai meriah lalu menghiasi sungai Amazon dengan warna merah-muda.
Bisakah rencana-rencana yang diperhitungkan secara baik dan tanpa cacat seperti itu merupakan karya pucuk yang tidak menyadari segalanya? Tentu tidak. Mereka ialah hasil dari kebijaksanaan Allah, Yang mengciptakan segala sesuatu. Semua seluk-beluk yang diringkas di sini menunjukkan bahwa tanaman, seperti semua makhluk hidup di alam semesta ini, menjadi ada dengan telah diperlengkapi dengan sistem yang paling sesuai, dan bersyukurlah kepada Pencipta mereka.



KESIMPULAN

Bisakah angin membentuk pesawat terbang secara kebetulan? Fisikawan terkenal Sir Fred Hoyle membuat pengamatan yang sangat tajam mengenai asal-usul kehidupan. Dalam bukunya The Intelligent Universe ia menulis:
Peluang bahwa bentuk kehidupan yang lebih tinggi mungkin muncul dengan cara ini [secara kebetulan] sebanding dengan peluang bahwa angin puyuh yang melanda melalui tempat barang rongsokan bisa membentuk Boeing 747 dari bahan-bahan di situ.22
Pembandingan Hoyle ini cukup berilham. Contoh-contoh yang kita bahas tadi juga mengungkapkan bahwa keberadaan kehidupan dan juga kesempurnaan sistemnya tersebut memaksa kita untuk mencari kekuatan hebat yang menjadikan ini semua. Sebagaimana angin topan yang tidak bisa menghasilkan pesawat terbang sebagai hasil dari kebetulan, mustahil juga bagi alam semesta untuk menjadi ada sebagai hasil dari kejadian yang tak terencana dan lebih-lebih mengandung susunan yang sangat rumit di dalamnya. Yang benar, alam semesta diperlengkapi dengan banyak sekali sistem dengan kerumitan yang jauh lebih tak terbatas daripada sistem pesawat terbang.
Segala yang kami katakan di bab ini menantang kita dengan bukti perencanaan yang tak bercacat bukan hanya di sekeliling yang dekat dengan kita, melainkan juga di pedalaman. Orang yang menaksir ayat-ayat ini yang juga merupakan bukti yang tak terbantahkan baik oleh akal maupun nurani hanya bisa sampai pada satu kesimpulan: tidak ada tempat bagi kebetulan di alam semesta ini; alam semesta ini DICIPTAKAN dengan segala hal-hal kecil di dalamnya.
Dan Allah, Pencipta sistem yang sempurna ini, Dialah Yang mempunyai kekuatan dan pengetahuan yang tak terbatas.

Bab 4
PARA ILMUWAN MENYAKSIKAN AYAT-AYAT ALLAH


Liputan kita sejauh ini memperlihatkan bahwa sifat-sifat alam semesta yang ditemukan dengan ilmu pengetahuan menunjukkan keberadaan Allah. Ilmu pengetahuan mengarahkan kita kepada kesimpulan bahwa alam semesta memiliki Pencipta dan bahwa Pencipta ini sempurna dalam hal kekuasaan, kebijaksanaan, dan pengetahuan. Agamalah yang memperlihatkan jalan kepada kita untuk mengenal Allah. Karena itu, bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah metode yang kita gunakan untuk melihat dan menyelidiki dengan lebih baik kenyataan-kenyataan yang disebut oleh agama. Namun demikian, sekarang, beberapa ilmuwan yang melangkah maju atas nama ilmu pengetahuan mengambil sudut pandang yang seluruhnya berbeda. Dalam pandangan mereka, penyelidikan ilmiah tidak menyiratkan ciptaan Allah. Mereka justru meluncurkan pemahaman ilmu pengetahuan yang ateistik dengan mengatakan bahwa mustahil menjangkau Allah melalui data ilmiah: mereka mengklaim bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan dua pandangan yang berbenturan.
Sesungguhnya, pemahaman ilmu pengetahuan yang ateistik ini belum lama. Sampai beberapa abad yang lalu, ilmu pengetahuan dan agama tidak pernah dikira berbenturan satu sama lain, dan ilmu pengetahuan diterima sebagai metode pembuktian keberadaan Allah. Pemahaman ilmu pengetahuan yang disebut ateistik ini baru berkembang sesudah filsafat materialis dan positivis melanda dunia ilmui pengetahuan pada abad ke-18 dan ke-19.
Terutama setelah Charles Darwin merumuskan teori evolusi pada 1859, kalangan yang berpandangan materialistik mulai secara ideologis membela teori ini, yang mereka lihat sebagai altertnatif terhadap agama. Teori evolusi berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan oleh suatu pencipta, tetapi menjadi ada secara kebetulan. Akibatnya, agama disangka bertentangan tajam dengan ilmu pengetahuan. Para peneliti dari Britania yaitu Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln berpendapat mengenai persoalan ini bahwa satu setengah abad sebelum Darwin, ilmu pengetahuan belum bercerai dari agama dan sebenarnya merupakan bagian darinya, dengan maksud utama untuk melayaninya. Namun dengan munculnya Darwin, ilmu pengetahuan menjadi terlepas dari agama dan menetapkan diri sebagai pesaing mutlaknya dan alternatif terhadap agama. Tiga peneliti ini akhirnya menyimpulkan bahwa karenanya manusia terpaksa membuat pilihan antara keduanya.23
Sebagaimana yang kami nyatakan tadi, “jurang” antara ilmu pengetahuan dan agama bersifat ideologi sepenuhnya. Beberapa ilmuwan, yang dengan serius mempercayai materialisme, mengkondisikan mereka sendiri untuk membuktikan bahwa alam semesta tidak mempunyai pencipta dan mereka membuat berbagai teori dalam konteks ini. Teori evolusi adalah yang paling terkenal dan paling penting di antara berbagai teori itu. Di bidang astronomi pun jelas ada teori yang dikembangkan seperti “teori keadaan-tetap” atau “teori kekacaubalauan”. Akan tetapi, semua teori yang menolak penciptaan ini lumpuh oleh karena ilmu pengetahuan itu sendiri, sebagaimana yang telah kami tunjukkan dengan jelas di bab-bab terdahulu.
Dewasa ini, para ilmuwan yang masih mempertahankan teori-teori ini dan bersikeras menolak semua hal yang religius ialah orang-orang yang dogmatik dan fanatik, yang mengkondisikan mereka sendiri tidak untuk mengimani Allah. Seorang evolusionis dan zoolog terkenal, D.M.S. Watson mengakui dogmatisme ini ketika ia menjelaskan mengapa ia dan rekan-rekannya menerima teori evolusi:
Kalau begitu, ini akan menyajikan kesejajaran dengan teori evolusi itu sendiri, teori yang secara universal diterima, bukan karena bisa dibuktikan dengan bukti yang secara logis benar, melainkan karena satu-satunya alternatif, ciptaan istimewa, jelas-jelas sulit dipercaya.24
Apa yang dimaksud oleh Watson dengan “ciptaan istimewa” adalah ciptaan Allah. Sebagaimana yang diakui, para ilmuwan ini menganggapnya “tak bisa diterima”. Namun mengapa? Apakah karena ilmu pengetahuan mengatakannya demikian? Sebenarnya tidak. Sebaliknya, ilmu pengetahuan membuktikan kebenaran penciptaan. Satu-satunya alasan mengapa Watson menganggap fakta ini tak dapat diterima adalah karena ia telah mengkondisikan diri untuk menyangkal keberadaan Allah. Semua evolusionis lain mengambil sikap yang sama.
Para evolusionis tidak bersandar pada ilmu pengetahuan, tetapi filsafat materialisme dan mereka menyelewengkan ilmu pengetahuan untuk membuatnya cocok dengan filsafat ini. Seorang ahli genetika dan evolusionis terkenal dari Universitas Harvard, Richard Lewontin, mengakui kebenaran ini:
Ini bukan bahwa metode dan institusi ilmu pengetahuan agak memaksa kita untuk menerima penjelasan materialisme tentang dunia fenomenal, melainkan, sebaliknya, bahwa kita terpaksa oleh kesetiaan apriori kita terhadap penyebab materialis untuk membuat alat penyelidikan dan perangkat konsep yang menghasilkan penjelasan materialis, tidak peduli betapa konter-intuitifnya, tidak peduli betapa membingungkannya hal yang tak berawal. Lagipula, materialisme itu mutlak, sehingga kita tidak mungkin membiarkan Kaki Ilahi di pintu tersebut.25
Sebaliknya, dewasa ini, seperti dalam sejarah, terdapat ilmuwan-ilmuwan yang mempertegas keberadaan Allah, yang berlawanan dengan kelompok materialis dogmatis ini, dan mengakui ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk mengenal Dia. Beberapa kecenderungan yang berkembang di A.S. semisal “Kreasionisme” atau “Desain Cerdas” membuktikan dengan bukti ilmiah bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah.
Ini memperlihatkan kepada kita bahwa ilmu pengetahuan dan agama bukan sumber informasi yang bertentangan, melainkan bahwa ilmu pengetahuan justru merupakan metode yang mengesahkan kebenaran mutlak yang disediakan oleh agama. Perseteruan antara agama dan ilmu pengetahuan hanya berlangsung pada agama tertentu yang mengambil beberapa unsur takhyul di samping sumber ilahi. Akan tetapi, tentu saja ini bukan persoalan bagi Islam, yang hanya bergantung kepada wahyu murni dari Allah. Lebih-lebih, Islam terutama mendorong penyelidikan ilmiah, dan mengumumkan bahwa penyelidikan alam semesta merupakan metode untuk merambah ciptaan Allah. Ayat Al-Qur’an berikut ini menyinggung persoalan ini:

Tidakkah mereka melihat langit di atas mereka? Bagaimana Kami membuatnya dan menghiasinya, dan tiada cacat padanya? Dan bumi—Kami bentangkan, dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang tegak kuat dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai tanaman yang indah berpasang-pasang. ... Dan Kami turunkan dari langit air yang membawa berkah, dan dengan itu Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen; dan pohon kurma yang tinggi, dengan tunas-tunas tangkai saling terjalin. (Surat Qaaf, 6-7, 9-10)

Sebagaimana yang tersirat pada ayat di atas, Al-Qur’an selalu mendorong orang-orang untuk berpikir, bernalar, dan merambah dunia tempat tinggal mereka. Ini karena ilmu pengetahuan mendukung agama, menyelamatkan individu dari kejahiliyahan, dan menyebabkannya untuk berpikir dengan lebih sadar; ilmu pengetahuan membuka lebar-lebar dunia pemikiran dan membantu orang mencerap ayat-ayat Allah yang berbukti sendiri di alam semesta. Seorang fisikawan terkemuka Jerman, Max Planck, mengatakan bahwa “semua orang yang, apa saja bidangnya, mengkaji ilmu pengetahuan secara sungguh-sungguh itu akan membaca frase berikut ini di pintu kuil ilmu pengetahuan: “beriman”. Menurut dia, iman merupakan sifat dasar ilmuwan.26
Semua persoalan yang kita bahas sejauh ini tiba pada kesimpulan bahwa keberadaan alam semesta dan semua makhluk hidup tidak dapat dijelaskan dengan kebetulan. Banyak ilmuwan yang berwibawa di dunia ilmu pengetahuan yang telah mempertegas dan masih mempertegas kenyataan besar ini. Semakin banyak kita belajar tentang alam semesta, semakin tinggi penghargaan kita kepada tatanan yang tiada cacat ini. Semua detail yang baru ditemukan itu mendukung penciptaan dengan cara yang tak terbantah.

Mayoritas besar fisikawan modern menerima fakta penciptaan seperti yang kita pancangkan di abad ke-21. David Darling juga mempertahankan bahwa yang ada di permulaan bukan waktu, bukan ruang, bukan zat, bukan energi, atau pun noktah kecil atau rongga. Suatu pergerakan yang agak cepat dan fluktuasi dan getaran yang kalem terjadi. Darling berakhir-kalam dengan mengatakan bahwa bila tutup kotak kosmik terbuka, maka sulur keajaiban penciptaan akan tampak dari bawahnya.27
Di samping itu, hampir semua pendiri berbagai cabang ilmu pengetahuan beriman kepada Allah dan kitab suci-Nya. Fisikawan terbesar dalam sejarah, Newton, Faraday, Kelvin dan Maxwell merupakan sedikit contoh ilmuwan semacam itu.
Pada masa Isaac Newton, fisikawan besar, para ilmuwan percaya bahwa pergerakan benda-benda langit dan planet-planet bisa dijelaskan dengan hukum yang berbeda-beda. Namun demikian, Newton percaya bahwa pencipta bumi dan angkasa adalah sama dan, karena itu, bisa dijelaskan dengan hukum yang sama. Ia memperluas pandangan ini di bukunya dengan mengatakan bahwa sistem matahari dan planet yang sempurna hanya bisa bertahan di bawah kendali dan dominasi sesuatu yang berkuasa dan bijaksana.28
Telah terbukti, ribuan ilmuwan yang telah melakukan penelitian di bidang fisika, matematika, dan astronomi sejak Zaman Pertengahan semuanya sepakat pada gagasan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Pencipta tunggal dan selalu berfokus pada titik yang sama. Pendiri astronomi fisika, Johannes Kepler, menyatakan keimanannya yang kuat kepada Tuhan di salah satu bukunya yang menyatakan bahwa kita, sebagai hamba Tuhan yang miskin dan serba kekurangan, harus memperhatikan besarnya kebijaksanaan dan kekuasaan Tuhan dan berserah diri kepada-Nya.29
Fisikawan besar, William Thompson (Lord Kelvin), yang mendirikan termodinamika, ialah juga seorang Nasrani yang beriman kepada Allah. Ia menentang keras-keras teori evolusi Darwin dan menolaknya sama sekali. Ia menjelaskan secara singkat sebelum kematiannya bahwa ketika memperhatikan asal-usul alam semesta, tentulah ilmu pengetahuan mempertegas keberadaan Sang Mahakuasa.30
Salah seorang profesor fisika di Universitas Oxford, Robert Mattheus menyatakan fakta yang sama di bukunya yang terbit pada 1992 yang menjelaskan bahwa molekul DNA diciptakan oleh Tuhan. Mattheus menyatakan bahwa semua taraf ini berproses dengan keserasian yang sempurna dari sel tunggal sampai bayi hidup, lalu menjadi anak kecil, dan akhirnya menjadi dewasa. Semua peristiwa ini hanya bisa dijelaskan sebagai keajaiban, sebagaimana taraf-taraf biologis lainnya. Mattheus menanyakan bagaimana organisme yang rumit sesempurna itu bisa muncul dari sel yang mungil dan sesederhana itu dan bagaimana MANUSIA yang bermartabat diciptakan dari sebuah sel yang bahkan lebih kecil daripada titik pada huruf i. Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa ini bukan lain kecuali mukjizat.31
Sebagian ilmuwan lain yang menerima bahwa alam semesta diciptakan oleh Pencipta dan yang terkenal karena kontribusi mereka (dalam kurung) ialah:
Robert Boyle (Bapak Kimia Modern)
Iona William Petty (terkenal karena kajiannya tentang Statistika dan Ekonomi Modern)
Michael Faraday (salah seorang dari fisikawan terbesar sepanjang masa)
Gregory Mendel (Bapak Genetika; ia membatalkan Darwinisme dengan penemuannya dalam Genetika)
Louis Pasteur (nama terbesar dalam Bakteriologi; ia menyatakan perang terhadap Darwinisme)
John Dalton (Bapak Teori Atom)
Blaise Pascal (salah seorang dari matematikawan terpenting)
John Ray (nama terpenting dalam Sejarah Alam Britania)
Nicolaus Steno (stratiografer terkenal yang menyelidiki lapisan bumi)
Carolus Linnaeus (Bapak Klasifikasi Biologis)
Georges Cuvier (pendiri Anatomi Komparatif)
Matthew Maury (pendiri Oseanografi)
Thomas Anderson (salah seorang dari pelopor di bidang Kimia Organik)


BUKTI ILMIAH DAN MUKJIZAT AL-QUR’AN

Al-Qur’an diturunkan pada 14 abad yang lalu oleh Allah. Al-Qur’an bukan buku ilmiah. Akan tetapi, kitab ini mencakup beberapa penjelasan ilmiah dalam tautan keagamaannya. Penjelasan ini tidak pernah bertentangan dengan temuan-temuan ilmu modern. Sebaliknya, fakta-fakta tertentu yang baru ditemukan dengan teknologi abad ke-20 itu sebenarnya telah diungkapkan dalam Al-Qur’an 14 abad silam. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan salah satu bukti terpenting yang menegaskan keberadaan Allah.


MEMANDANG ALAM SEMESTA DENGAN KACAMATA AL-QUR’AN

Menurut data yang diperoleh pada abad ke-20, ternyata bahwa alam semesta ini menjadi ada secara tiba-tiba setelah sebelumnya tidak ada. Teori ini dikenal sebagai teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) yang berpandangan bahwa alam semesta ini pada mulanya terjadi dengan peledakan. Kita mengkaji teori ini dalam konteks historisnya yang terdukung dengan bukti-bukti ilmiah pada Bab Dua yang berjudul “Ada dari Tiada”. Pada bab ini, kita akan mengamati bagaimana Allah menyatakan kepada kita beberapa fakta ilmiah mengenai penciptaan alam semesta dalam Al-Qur’an.
Ada bukti yang sangat kuat yang mendukung teori Ledakan Dahsyat. Meluasnya alam semesta merupakan salah satunya dan bukti yang paling signifikan mengenai hal ini adalah saling menjauhnya galaksi-galaksi dan benda-benda langit. Untuk memahami dengan lebih baik, alam semesta bisa dibayangkan sebagai permukaan balon yang digelembungkan. Seperti halnya bagian-bagian permukaan balon yang saling menjauh ketika balon digelembungkan, begitu jugalah angkasa yang saling menjauh tatkala alam semesta meluas.
Dalam hal ini, mari kita rujuk ke ayat Al-Qur’an yang relevan. Pada satu ayat, berikut ini dinyatakan mengenai penciptaan alam semesta:

Dengan kekuasaan Kami membangun cakrawala, dan Kami yang menciptakan angkasa luas. (Surat adz-Dzaariyaat, 47)

Pada ayat lain yang mengacu pada langit, difirmankan:

Tidakkah orang-orang kafir mengerti bahwa langit dan bumi semula terpadu (sebagai satu kesatuan dalam penciptaan), lalu keduanya Kami pisahkan? Dan dari air Kami jadikan segalanya hidup. Tidakkah mereka mau beriman juga? (Surat al-Anbiyaa’, 30)

Kata-asal “ratk” tang diterjemahkan sebagai “terpadu” di ayat ini, berarti “sesuatu yang tertutup, padat, kedap, bergabung menjadi satu dalam massa yang berat” menurut kamus-kamus Arab. Maksudnya, ini dipakai untuk dua potong yang berlainan yang membentuk entitas. Pernyataan “pisahkan” adalah kata-kerja “fatk” dalam bahasa Arab dan ini berarti memecah obyek dalam keadaan “ratk”. Sebagai misal, penumbuhan benih dan tampilan pucuk-pucuknya di bumi diungkapkan dengan kata-kerja ini. Kini, mari kita lihat kembali ayat yang menunjukkan bahwa langit dan bumi itu dalam keadaan “ratk”, lalu keduanya diartikan “dipisahkan” dalam artian katakerja “fatk”. Maksudnya, yang satu menerobos yang lain dan membuat jalan keluarnya. Sungguh, bila kita mengingat kejadian pertama Ledakan Dahsyat, kita lihat bahwa bintik yang disebut telur kosmik itu mengandung semua bahan alam semesta. Segala sesuatu, bahkan “langit dan bumi” yang belum tercipta pun, terkandung di bintik ini dalam keadaan “ratk”. Sesudah itu, telur kosmik ini meledak, kemudian semua zat menjadi “fatk”.
Bila kita bandingkan ungkapan-ungkapan di ayat ini dengan bukti ilmiah, kita lihat bahwa ungkapan-ungkapan ini sangat bersesuaian. Yang cukup menarik, temuan-temuan ini belum ada sebelum abad ke-20.


PENCIPTAAN LANGIT

Steven Weinberg, pengarang buku The First Three Minutes, pernah menegaskan bahwa sepintas lalu, tampaknya langit mungkin merupakan suatu “alam tak berubah” yang kokoh. Sesungguhnya, awan-awan berarak-arakan mengejar bulan, kolong langit biru mengelilingi bintang kutub, bulan itu sendiri membesar dan mengecil dalam waktu yang lebih lama, dan bulan dan planet-planet bergerak melalui suatu bidang yang ditentukan oleh bintang-bintang. Akan tetapi, kita tahu bahwa semua ini kejadian setempat yang disebabkan oleh pergerakan dalam sistem matahari kita. Weinberg juga menambahkan bahwa di belakang planet-planet, bintang-bintang tampaknya tidak bergerak.
Memang, dengan pengamatan ke arah langit sepintas lalu, kita merasa bahwa segala benda itu sangat stabil dan tetap. Namun demikian, ini tidak benar. Terdapat kegiatan besar di langit dan fakta ini, yang tak telihat oleh mata telanjang, yang telah tercatat berabad-abad yang lalu di Al-Qur’an.
Terdapat banyak ayat di Al-Qur’an yang mengacu pada langit, kebanyakan dalam bentuk jamak. Kata “samawat”, yang bermakna “langit-langit”, dalam bahasa Arab berarti angkasa dan atmosfir bumi.
Hal pertama yang akan kita bahas di sini adalah penggunaan kata “langit” dengan bentuk jamak. Penggunaan bentuk jamak ini merupakan salah satu dari mukjizat Al-Qur’an. Sekarang mari kita jelaskan mengapa.
Bayangkan bahwa anda keluar di udara terbuka dan mengarahkan kepala anda menujui langit. Apa yang anda lihat? Jika musim panas, anda akan melihat langit biru cerah atau beberapa awan melayang di langit; dan jika musim dingin, langit abu-abu berkabut tertutup oleh awan. Apa pun yang anda lihat, anda tidak akan mampu melihat atmosfir yang mengelilingi bumi. Anda tak akan pernah tahu bahwa atmosfir ini tersusun dari beberapa lapisan. Bahwa Al-Qur’an membuat acuan rinci ini yang tak teramati dengan mata telanjang itu merupakan sepotong bukti besar bahwa inilah kata-kata Allah:

Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis; tak akan kau lihat ketidakseimbangan dalam ciptaan (Allah) Yang Maha Pemurah. Balikkanlah pandanganmu sekali lagi, tampakkah olehmu ada yang cacat? Lalu ulanglah pandanganmu sekali lagi; pandanganmu akan berbalik kepadamu, letih dan membingungkan. (Surat al-Mulk, 3-4)

Angkasa bisa dibayangkan sebagai rongga besar: rongga amat besar yang tak berbatas, suatu rongga yang mengandung bintang-bintang, planet-planet, dan benda-benda yang bergerak. Akan tetapi, angkasa itu bukan rongga itu sendiri. Angkasa merupakan suatu “sistem” yang terdiri atas berbagai bintang, sistem matahari, planet, satelit, dan komet yang semuanya tak terhitung banyaknya. Telah dinyatakan dalam Al-Qur’an bahwa langit dan angkasa diciptakan tanpa cacat dalam “tatanan besar”:

Tidakkah mereka melihat langit di atas mereka? Bagaimana Kami membuatnya dan menghiasinya, dan tiada cacat padanya? (Surat Qaaf, 6)


BINTANG DAN PLANET

Mari kita amati maksud kata “bintang” dalam Al-Qur’an. Bintang-bintang yang ditunjukkan dengan kata “najm” (bintang) dan “kandil” (pelita) mempunyai dua fungsi utama seperti yang tersirat dalam ayat-ayat. Mereka sumber cahaya dan dimanfaatkan untuk navigasi.
Terutama dalam ayat-ayat yang menggambarkan hari kebangkitan, ditekankan bahwa cahaya bintang keluar dan menjadi mengecil. Untuk matahari, yang merupakan bintang juga, dipakai kata “kandil”. Kata “kandil” digunakan juga bila mengacu pada bintang-bintang yang menghiasi langit. Sekalipun demikian, ada perbedaan yang amat penting ketika kata “nur” (sinar) dipakai untuk bulan. Dengan cara ini, bintang dan bukan bintang saling berbeda. Fakta ini, yang tidak mungkin diketahui 14 abad silam, merupakan satu mukjizat Al-Qur’an.
Kita telah menyebutkan bahwa fungsi-kedua bintang-bintang sebagaimana yang dirujuk dalam ayat-ayat itu merupakan pedoman navigasi. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dapat menentukan arah dengan bantuan bintang di langit. Di semua ayat ini, kata “najm” digunakan. Sungguh, sebelum penemuan kompas, yang mempunyai peran yang sangat penting pada awal-mula penemuan geografis pada Zaman Pertengahan, navigasi hanya bisa terwujud dengan bantuan bintang-bintang pada perjalanan malam hari.
Bagaimana mungkin bahwa bintang-bintang menunjukkan arah? Ini mungkin hanya jika tersusun dalam suatu tatanan di tempat tinggal tetap mereka. Jika suatu bintang terlihat di suatu tempat pada suatu malam, dan di tempat lain pada malam lain, maka dengan ini mustahil mendapatkannya. Dalam komnteks ini, tempat tertentu yang di situ bintang-bintang muncul di langit menjadi sangat penting. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

Selanjutnya, Aku bersumpah demi tempat-tempat terbenamnya bintang-bintang, dan itu sungguh suatu sumpah yang amat besar kalau kamu tahu. (Surat al-Waaqi’ah, 75-76)


MATAHARI DAN BULAN

Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut matahari dan bulan. Bila kata-kata Arab ini diselidiki, terungkaplah sifat yang menarik. Pada ayat-ayat ini, kata “siraj” (lampu) dan “wahhaj” (terang-membara) dipakai untuk matahari. Untuk bulan, kata “munir” (cerah berbinar-binar) digunakan. Sungguh, manakala matahari menghasilkan panas dan cahaya yang amat besar sebagai akibat dari reaksi nuklir di dalam, bulan hanya memantulkan cahaya yang diterimanya dari matahari. Ayat-ayat yang menunjukkan perbedaan ini adalah:

Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, dan membuat bulan yang bercahaya di antaranya, dan membuat matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? (Surat Nuuh, 15-16)

Telah Kami bangun di atas kamu tujuh cakrawala dan menempatkan (di situ) cahaya yang cemerlang. (Surat an-Nabaa’, 12-13)

Mahasuci Dia Yang telah menjadikan gugusan bintang di langit dan menempatkan sebuah pelita (yang cemerlang) dan sebuah bulan yang memberi penerangan. (Surat al-Furqaan, 61)

Perbedaan antara matahari dan bulan itu sungguh merupakan bukti di ayat ini. Yang satu dilukiskan sebagai sumber cahaya dan yang lain sebagai pemantul cahaya. Mustahil rincian seperti itu telah diketahui pada waktu itu. Baru berabad-abad kemudian manusia mulai mempunyai pengetahuan ini. Karena itu, fakta bahwa informasi ini telah diberikan di Al-Qur’an merupakan satu bukti bahwa Al-Qur’an diwahyukan oleh Tuhan.
Sekarang, mari kita alihkan perhatian kita ke karakteristik hebat lainnya yang terdapat pada benda-benda langit—yang merupakan pergerakan mereka di angkasa.

ORBIT YANG TERPAPAR DI AL-QUR’AN

Di atas, kita telah menyatakan bahwa benda-benda langit bergerak di angkasa. Pergerakan-pergerakan ini terkendali sepenuhnya dan semua benda bergerak dalam suatu orbit yang terhitung. Dalam Al-Qur’an, ayat-ayat tertentu mengacu pada pergerakan matahari dan bulan sebagai berikut: “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (secara eksak).” (Surat ar-Rahmaan, 5). “Tiada semestinya matahari menyusul bulan, dan malam tak akan mendahului siang. Masing-masing berenang dalam garis edarnya.” (Surat Yaasiin, 40). Sebuah ayat lain menyatakan efek yang sama:

Dialah Yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing berenang dalam garis edarnya. (Surat al-Anbiyaa’, 33)

Menurut sebuah teori mutakhir yang terakui, benda-benda yang padat dan sangat besar di alam semesta memaksakan kekuatan gravitasi terhadap benda-benda yang lebih kecil. Sebagai misal, bulan membuat orbit mengelilingi bumi, yang mempunyai volume yang lebih besar. Bumi dan planet-planet lain di tatasurya ini bergerak di suatu orbit mengelilingi matahari. Masih ada sistem besar lain yang dikelilingi oleh matahari di suatu orbit. Hal terpenting di semua rincian ini adalah bahwa tak satu pun dari bintang, planet, dan benda-benda lainnya di angkasa bergerak secara tak terkendali, memotong orbit lain, atau pun saling berbenturan.

Al-Qur’an mengisyaratkan pergerakan benda-benda secara serasi ini sebagai berikut:

Demi langit yang pebuh jalan-jalan. (Surat adz-Dzaariyaat, 7)

Matahari, sebagai salah satu dari trilyunan bintang di alam semesta, melakukan perjalanan lebih dari 17 juta kilometer per hari di angkasa. Perjalanan matahari ini ditunjukkan oleh Allah sebagai berikut:

Dan matahari beredar menurut waktu yang sudah ditentukan baginya; itulah ketentuan Yang Mahaperkasa, Mahatahu. (Surat Yaasiin, 38)


ATAP YANG TERJAGA BAIK

Kami jadikan langit sebagai atap yang terjaga baik, tetapi mereka berpaling dari tanda-tanda yang ada. (Surat al-Anbiyaa’, 32)

Hampir semua orang pernah melihat gambar permukaan bulan. Struktur permukaan ini sangat tidak rata karena kejatuhan meteor-meteor yang tak terhitung jumlahnya. Besarnya kawah-kawah yang terbentuk dengan meteor-meteor ini merupakan karakter bulan yang paling khas. Segala stasiun angkasa atau tempat tinggal yang didirikan di permukaan bulan tanpa dengan perisai khusus akan sangat berkemungkinan untuk rata dengan tanah. Satu-satunya cara untuk mencegahnya adalah “menjaga”-nya dengan berbagai cara.
Rincian ini, yang hampir tidak pernah kita pikirkan, disediakan bagi bumi dengan cara yang sangat alamiah. Karena itu, orang-orang tidak perlu mengambil tindakan ekstra untuk bertahan hidup. Atmosfer bumi menghancurkan semua meteor besar dan kecil yang mendekati bumi, menyaring sinar yang berbahaya di angkasa dan, dengan demikian, melaksanakan proses yang vital demi kelangsungan hidup manusia.
Banyak sinar yang berbahaya—dan bahkan fatal—mencapai bumi dari matahari dan bintang-bintang lain. Sumber utama sinar-sinar yang berbahaya ini terutama adalah ledakan energi, “kobaran” di matahari, bintang terdekat dengan bumi.
Selama matahari ini bersorot, suatu awan plasma terlempar ke angkasa dengan kecepatan 1.500 km/detik. Awan plasma ini, yang tersusun dari proton yang bermuatan positif dan elektron yang bermuatan negatif, menghantarkan listrik. Ketika awan itu mendekati bumi dengan kecepatan 1.500 km/detik, awan ini mulai menghasilkan arus listrik di bawah pengaruh bidang magnet di sekeliling bumi. Di sisi lain, bidang magnetik bumi itu mengerahkan gaya pendorong terhadap awan plasma tersebut yang mengalir langsung melalui ini. Gaya ini menghentikan pergerakan awan itu dan menjaganya pada jarak tertentu. Kini, mari kita amati daya awan plasma yang “dihentikan” sebelum mencapai bumi.
Walaupun awan plasma itu tertahan oleh bidang magnetik bumi, pengaruhnya masih tercerap dari bumi. Dengan mengikuti kobaran kuat tersebut, transformer-transformer bisa meledak di saluran-saluran yang bertegangan tinggi, jaringan komunikasinya bisa putus atau gabungan jaringan listriknya bisa berhamburan.
Di suatu ledakan bintik-matahari, energi yang diluncurkan akan terhitung sama dengan 100 trilyun kali energi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima. Limapuluh-delapan jam sesudah kobaran, aktivitas yang menonjol bisa diamati pada jarum kompas, dan panasnya melonjak sampai 2.500 C pada ketinggian sekitar 250 kilometer di atas atmosfir.
Sekalipun demikian, arus partikel lain disebarkan dari matahari dengan kecepatan yang relatif lebih rendah, kira-kira 400 km/detik. Ini disebut “angin matahari.” Angin matahari dikendalikan dengan lapisan partikel bermuatan yang disebut “Lajur Radiasi Van Allen” yang dihasilkan di bawah pengaruh bidang magnetik bumi dan, dengan demikian, tidak membahayakan bumi. Pembentukan lapisan ini dimungkinkan karena karakteristik inti bumi. Inti ini mengandung logam-logam magnetik seperti besi dan nikel. Yang lebih penting adalah bahwa nukleusnya tersusun dari dua struktur yang berbeda. Inti dalamnya padat, sedangkan inti luarnya cair. Dua lapisan inti ini masing-masing berputar. Pergerakan ini menciptakan efek magnetik di logam-logam yang mengarah pada pembentukan bidang magentik. Lajur Van Allen itu merupakan perpanjangan dari bidang magnetik ini yang merentang ke jangkauan atmofir terluar. Bidang magnetik ini melindungi bumi terhadap bahaya-bahaya yang mungkin berasal dari angkasa. Angin-angin matahari tidak bisa lewat melalui Lajur Van Allen, 40.000 mil dari bumi. Bila dalam bentuk partikel-partikel yang bermuatan listrik, mereka menjumpai bidang magnetik ini, terurai dan tersebar di sekitar lajur ini.


Tepat seperti Lajur Van Allen, atmosfir bumi juga melindungi bumi dari efek-efek angkasa yang merusak. Kami menyebutkan bahwa atmosfir melindungi bumi dari meteor. Akan tetapi, ini bukan hanya ciri atmosfir. Sebagai misal, suhu minus 273 di angkasa luar, yang disebut “nol mutlak” yang akan berdampak fatal bagi orang-orang, sedangkan suhu di atmosfir bumi lebih tinggi secara permanen.
Yang lebih menarik adalah bahwa atmosfir hanya membiarkan masuk sinar-sinar, gelombang-gelombang radio, dan cahaya-cahaya yang tidak berbahaya, karena ini merupakan unsur-unsur yang vital bagi kehidupan. Sinar ultraviolet, yang hanya dibiarkan masuk sebagian oleh atmosfir, sangat penting untuk fotosintesis tanaman dan untuk kelangsungan hidup semua makhluk hidup. Pancaran ini, yang terpancar dengan sangat kuat dari matahari ke bumi, disaring melalui lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian yang diperlukan saja yang mencapai bumi. Sinar matahari adalah salah satu persyaratan hidup yang paling mendasar.
Singkatnya, terdapat suatu sistem hebat yang berfungsi di bumi yang mencakup-diri dan melindunginya dari bahaya luar. Dalam Al-Qur’an, keadaan bumi yang berperisai diungkapkan dengan ayat berikut ini:

Dan Kami telah menjadikan langit (sebagai) atap yang terjaga baik; (namun) mereka berpaling dari ayat-ayat ini. (Surat al-Anbiyaa’, 32)

Tiada keraguan bahwa pada abad ke-7, mengetahui perlindungan atmosfir atau pun keberadaan Lajur Van Allen adalah mustahil. Sekalipun begitu, ungkapan “atap yang terjaga baik” menjelaskan dengan sempurna perantara-perantara pelindung di sekitar bumi yang belum ditemukan hingga zaman modern. Jadi, ayat tersebut yang menyebut langit sebagai “atap yang terjaga baik” menunjukkan bahwa al-Qur’an dikirim oleh Sang Pencipta Yang berpengetahuan atas segala sesuatu.


RELATIVITAS WAKTU

Relativitas waktu adalah fakta ilmiah yang terbukti saat ini. Akan tetapi, hingga Einstein mengetengahkan “teori relativitas” pada awal abad 20, tak seorang pun mengira bahwa waktu bisa relatif dan bergantung pada kecepatan dan massa.
Namun ada pengecualian! Al-Qur’an telah mengeluarkan informasi tentang relativitas waktu! Tiga ayat mengenai hal ini ialah:

Mereka meminta kepadamu supaya azab dipercepat, tetapi Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sungguh, satu hari menurut Allah seperti seribu tahun dalam perhitungan kamu. (Surat al-Hajj, 47)

Ia mengatur semua urusan dari langit sampai ke bumi, kemudian (semua itu) kembali kepada-Nya dalam satu hari, yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan kamu. (Surat as-Sajdah, 5)

Para malikat dan roh naik kepada-Nya pada suatu hari yang ukurannya limapuluh ribu tahun. (Surat al-Ma’aarij, 4)

Sebagai kitab yang diwahyukan pertama kali pada 610, Al-Qur’an yang menyiratkan relativitas yang sangat dini merupakan bukti lain bahwa inilah kitab ilahi.


PERPUTARAN BUMI

Bahasa Arab, bahasa pewahyuan Al-Qur’an, merupakan bahasa yang maju dan sangat kaya. Kosakatanya sangat luas dan variasi kata-katanya banyak. Karena alasan ini, beberapa kata verbal Arab tidak bisa diterjemahkan ke berbagai bahasa dengan kata tunggal. Sebagai contoh, kata “hasyiya” berarti “takut yang disertai takjub” (untuk berbagai jenis rasa takut lain dipakai kata-kata lain). Contoh lain, kata “karia” dipakai untuk mengacu pada “kemalangan yang menohok”, yakni Hari Pembalasan.
Salah satu kata verbal adalah “takwir”. Dalam bahasa Indonesia, ini berarti “menumpuk benda-benda seperti menumpuk kain yang terhampar”. Sebagai misal, dalam kamus-kamus Arab kata ini dipakai untuk tindakan saling membungkus, dengan cara seperti surban. Sekarang mari kita lihat sebuah ayat yang menggunakan kata “takwir”:

Dialah Yang menciptakan langit dan bumi dengan sebenarnya. Dia menutupkan malam ke atas siang dan menutupkan siang ke atas malam. (Surat az-Zumar, 5)
Informasi yang terdapat di ayat tersebut yang mengenai saling-bungkus antara siang dan malam itu mencakup informasi yang akurat tentang bentuk bumi. Situasi ini bisa benar hanya jika bumi ini bundar. Ini berarti bahwa dalam Al-Qur’an, perputaran bumi telah diisyaratkan.
Akan tetapi, paham astronomi tentang waktu, mencerap dunia secara berbeda. Sebagaimana yang telah kami sebutkan, lalu dikira bahwa dunia adalah planet datar dan semua penjelasan dan perhitungan ilmiah didasarkan pada kepercayaan ini. Akan tetapi, karena Al-Qur’an itu firman Allah, kata-kata yang paling benarlah yang dipakai dalam memerikan alam semesta.
FUNGSI GUNUNG

Menurut temuan-temuan geologis, pegunungan itu muncul sebagai hasil dari pergerakan dan perbenturan pelat raksasa yang merupakan kerak bumi. Pelat-pelat ini amat besar dan membawa semua benuanya. Bila dua pelat bertabrakan, yang satu biasanya tergelincir di bawah yang lain dan puing-puing di antara keduanya terangkat. Tonjolan besar di puing-puing yang terpadatkan ini membentuk pegunungan dengan terangkat lebih tinggi daripada sekelilingnya. Sementara itu, tonjolan yang merupakan pegunungan bergerak di bawah tanah selain di atas tanah. Ini berarti bahwa pegunungan mempunyai bagian yang terseret ke bawah sebesar bagiannya yang terlihat. Perpanjangan pegunungan di bawah tanah ini mencegah kerak bumi dari tergelincie pada lapisan magma atau antara lapisan-lapisannya.
Dengan penjelasan ini, salah satu dari sifat pegunungan yang paling bermakna adalah formasinya di titik-titik gabung pada pelat-pelat bumi yang tertekan bersama-sama dengan berdekatan ketika mendekat dan “memancangkan” diri. Artinya, kita bisa mempersamakan pegunungan dengan paku-paku yang merekatkan potongan-potongan kayu.
Selanjutnya, tekanan yang didesakkan oleh pegunungan terhadap kerak bumi dengan massa yang amat besar itu mencegah pergerakan magma di inti bumi dari penjangkauan bumi dan penghancuran kerak bumi. Lapisan tengah bumi, yang disebut inti, merupakan kawasan yang terbuat dari bahan-bahan yang mendidih di suhu yang mencapai ribuan derajat. Pergerakan di inti ini menyebabkan pemisahan bagian-bagian untuk tegak di antara pelat-pelat yang membereskan bumi. Pegunungan yang tegak di bagian-bagian ini menghalangi pergerakan ke atas dan melindungi bumi dari gempa bumi yang keras.
Sangat menarik untuk dicatat bahwa fakta-fakta teknis ini yang ditemukan oleh geologi modern di masa kita sekarang telah terungkap dalam Al-Qur’an ribuan tahun yang lalu. Dalam suatu ayat tentang pegunungan, dinyatakan dalam Al-Qur’an:

Dia menciptakan langit tanpa tiang yang dapat kau lihat; Dia memancangkan di atas bumi gunung-gunung supaya tidak menggoyangkan kamu; dan Dia menebarkan di dalamnya binatang-binatang dari segala jenis. (Surat Luqman, 10)

Dengan ayat ini, Al-Qur’an menolak takhyul yang biasanya diakui pada waktu itu. Dengan mempunyai pengetahuan astronomis primitif seperti masyarakat-masyarakat lain pada waktu itu, orang-orang Arab mengira bahwa langit terangkat tinggi di atas gunung. (Inilah kepercayaan tradisional yang kemudian ditambahkan di Perjanjian Lama untuk menjelaskan alam semesta.) Kepercayaan ini berpendapat bahwa ada pegunungan tinggi di dua ujung bumi yang datar. Inilah “penopang” langit. Pegunungan ini dikira sebagai tiang yang menyangga langit di atas tempatnya. Ayat tersebut menolak hal ini dan menyatakan bahwa langit itu “tanpa penopang”. Fungsi geologis sejati juga diungkapkan: untuk mencegah getaran. Sebuah ayat lain menekankan hal itu pula:

Dan Kami jadikan di atas bumi gunung-gunung, supaya bumi tidak bergoyang bersama mereka, dan Kami jadikan lorong-lorong lebar di antaranya, supaya mereka mendapat petunjuk. (Surat al-Anbiyaa’, 31)


HUJAN

Hujan sesungguhnya merupakan salah satu dari unsur-unsur terpenting bagi kelangsungan hidup di bumi. Hujan adalah prasyarat bagi kesinambungan aktivitas di suatu kawasan. Hujan, yang membawa zat-zat yang penting bagi kehidupan, termasuk bagi manusia, disebutkan di berbagai ayat Al-Qur’an yang memberi informasi mendasar mengenai pembentukan hujan, sifat-sifat dan efek-efeknya. Informasi ini, yang belum pernah diketahui oleh orang-orang pada masa itu, menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah.
Kini, mari kita periksa informasi yang tersaji dalam Al-Qur’an perihal hujan.


Proporsi Hujan

Dalam ayat kesebelas Surat az-Zukhruf, hujan didefinisikan sebagai air yang diturunkan dengan “ukuran yang sesuai”, sebagai berikut:

Ia menurunkan (dari waktu ke waktu) hujan dari langit sesuai dengan ukuran, dan Kami hidupkan dengan itu daerah yang sudah mati. Demikian juga kamu akan dibangkitkan (dari kematian). (Surat az-Zukhruf, 11)

“Ukuran” yang disebutkan di ayat ini berkaitan dengan sepasang sifat hujan. Pertama, air hujan yang jatuh di bumi selalu sama. Diperkirakan, dalam satu detik, 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini sama dengan curah air yang jatuh ke bumi dalam satu detik. Ini berarti bahwa air beredar terus-menerus di suatu daur yang seimbang menurut suatu “ukuran”.
Suatu ukuran lain yang terkait dengan hujan adalah mengenai kecepatan jatuhnya. Ketinggian minimal awan mendung adalah 1.200 meter. Bila jatuh dari ketinggian ini, suatu obyek yang bobot dan ukurannya sama dengan air hujan akan semakin cepat dan jatuh ke tanah dengan kecepatan 558 km/jam. Tentu saja, obyek apa pun yang membentur tanah dengan kecepatan itu akan menyebabkan kerusakan besar. Jika hujan yang terjadi itu jatuh dengan cara seperti itu, semua lahan panenan akan hancur, kawasan pemukiman, perumahan, dan mobil-mobil akan remuk, dan orang-orang tidak bisa berjalan-jalan tanpa perlindungan ekstra. Padahal, perhitungan ini hanya untuk awan setinggi 1.200 meter; ada juga awan mendung setinggi 10.000 meter. Air hujan dari tempat setinggi ini bisa memiliki kecepatan yang amat merusak.
Akan tetapi, kenyataannya tidak begitu. Dari ketinggian berapa pun, kecepatan air hujan hanya 8-10 km/jam kala menimpa tanah. Alasan untuk hal ini adalah bentuk istimewa yang mereka ambil. Bentuk istimewa ini meningkatkan pengaruh pemecah di atmosfir dan mencegah pemercepatan kala air hujan mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Dewasa ini parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini.)
Ini belum semua “ukuran” hujan. Untuk contoh, di lapisan atmosfir tempat berawalnya hujan, suhunya bisa turun hingga serendah 400 Celsius di bawah nol. Namun demikian, air hujan tak pernah menjadi partikel-partikel es. (Ini tentu saja berarti ancaman yang fatal untuk makhluk hidup di bumi.) Alasannya adalah bahwa air di atmosfir itu air murni. Sebagaimana yang kita tahu, air murni sulit membeku, di suhu yang sangat rendah sekalipun.


Pembentukan Hujan

Bagaimana hujan terbentuk masih merupakan misteri besar bagi orang-orang dalam waktu yang lama. Baru setelah radar cuaca ditemukan, bisa didapatkan tahap-tahap pembentukan hujan.
Pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, “bahan baku” hujan naik ke udara. Lalu awan terbentuk. Akhirnya curahan hujan terlihat.
Tahap-tahap ini ditetapkan dengan jelas di Al-Qur’an berabad-abad yang lalu yang memberi informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan:

Dialah Allah Yang mengirimkan angin yang menggerakkan awan; lalu Ia membentangkannya di langit sesuai dengan kehendak-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kau lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka bila Ia menurunkannya kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang Ia kehendaki, mereka pun bergembira ria. (Surat ar-Ruum, 48)

Kini mari kita amati tiga tahap yang disebutkan dalam ayat ini.
TAHAP 1: “Dialah Allah Yang mengirimkan angin...”
Gelembung-gelembung udara yang tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan yang pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap air”.
TAHAP 2: “...dan yang menggerakkan awan; lalu Ia membentangkannya di langit sesuai dengan kehendak-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal...”
Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (engan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.
TAHAP 3: “...lalu kau lihat air hujan keluar dari celah-celahnya.”
Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel-partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan, dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-Qur’an-lah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.


Menghidupkan Negeri Yang Sudah Mati

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang mengundang perhatian kita pada fungsi istimewa hujan, yakni “memberi kehidupan kepada negeri yang sudah mati”:

Kami menurunkan air bersih dari langit. Dengan itu Kami hidupkan negeri yang sudah mati, dan Kami beri minum segala yang Kami ciptakan, hewan ternak dan manusia yang banyak. (Surat al-Furqaan, 48-49)

Di samping menyediakan air untuk bumi, yang merupakan kebutuhan makhluk hidup yang tak terelakkan, hujan juga mempunyai pengaruh penyuburan.

Air hujan yang mencapai awan setelah diuapkan dari laut mengandung zat-zat tertentu “yang menghidupkan” negeri yang telah mati. Air “pemberi kehidupan” ini disebut “air tensi permukaan”. Air tensi permukaan terbentuk pada tingkat puncak permukaan laut yang oleh para biolog disebut "lapisan mikro". Di lapisan ini, yang ketipisannya kurang dari sepersepuluh milimeter, terdapat banyak sisa organik yang disebabkan oleh polusi zooplankton dan ganggang mikroskopik. Beberapa sisa ini menyeleksi dan menghimpun dalam lubuk mereka beberapa unsur yang amat jarang di air laut, seperti fosfor, magnesium, potasium, dan beberapa logam berat seperti tembaga, seng, kobalt, dan timah. Air yang bermuatan "penyubur ini" terangkat ke langit oleh angin dan setelah beberapa saat kemudian jatuh ke tanah di dalam air hujan. Benih dan tanaman di bumi mendapati banyak garam metalik dan unsur-unsur yang esensial bagi pertumbuhan mereka di sini di air hujan ini. Peristiwa ini diungkapkan di sebuah ayat lain dalam Al-Qur’an:

Dan Kami turunkan dari langit air yang membawa berkah, dan dengan itu Kami tumbukan kebun-kebunan dan biji-bijian yang dapat dipanen. (Surat Qaaf, 9)

Garam-garam yang jatuh dengan hujan merupakan contoh kecil unsur-unsur tertentu (kalsium, magnesium, potasiom, dsb.) yang dipakai untuk menambah kesuburan. Logam-logam berat yang terdapat di tipe-tipe aerosol ini merupakan unsur lain yang menambah kesuburan dalam pertumbuhan dan pemproduksian tanaman.
Tanah tandus bisa dilengkapi dengan semua unsur yang esensial bagi tanaman dalam periode 100 tahun hanya dengan penyubur yang dicurahkan dengan hujan. Hutan-hutan juga berkembang dan makan dengan bantuan aerosol yang berbasis-laut. Dengan cara ini, 150 juta ton penyubur jatuh ke seluruh permukaan tanah setiap tahun. Jika tidak ada penyuburan alamiah seperti ini, maka tidak akan ada tanaman di bumi, dan keseimbangan ekologis akan cacat.
Yang lebih menarik adalah bahwa kebenaran ini, yang hanya bisa ditemukan oleh sains modern, telah diungkapkan oleh Allah berabad-abad yang lalu.


ANGIN PENYERBUKAN

Dalam Al-Qur’an, angin dinyatakan sebagai “penyerbukan”:

Dan Kami tiupkan angin yang “menyerbuki”, kemudian Kami turunkan hujan dari langit, yang dengan itu Kami beri kamu air (yang berlimpah). (Surat al-Hijr, 22)

Dalam bahasa Arab, kata “penyerbukan” menyiratkan penyerbukan tanaman dan juga awan. Begitu pula, sains modern telah menunjukkan bahwa angin memang memiliki kedua fungsi ini. Angin, seperti yang tersebut di atas, menyerbuki awan dengan membawa kristal-kristal yang akan mengambil bagian dalam pembentukan air hujan. Di sisi lain, angin juga menyerbuki tanaman.
Tanaman-tanaman melempar benih serbuk-sari yang mengandung sel sperma ke udara. Kebanyakan tanaman diciptakan secara ideal untuk menangkap serbuk-sari dari angin. Cemara, bunga yang bergantungan, dan beberapa tanaman lain membuat terusan yang terbuka terhadap arus udara, yang membawa benih-benih ini ke tanaman lain yang berspesies sama. Benih-benih serbuk-sari yang mengandung sel-sel sperma tiba di organ-organ reproduksi yang mensyukuri kanal-kanal ini. Serbuk-sari yang mencapai sel telur menyuburkan telur dan sehingga sel telur itu beralih menuju benih.
Kebanyakan tanaman diciptakan secara ideal untuk menangkap serbuk-sari dari angin. Cemara, bunga yang bergantungan, dan beberapa lainnya membuat terusan yang terbuka terhadap arus udara. Serbuk-sari penghasil sperma tiba di kawasan reproduksi yang mensyukuri terusan-terusan ini. Tanaman-tanaman melempar benih serbuk-sari penghasil sperma ke udara. Sesudah itu, arus udara membawa benih-benih ini ke tanaman lain yang berspesies sama. Serbuk-sari yang mencapai sel telur menyuburkan telur dan sehingga sel telur itu beralih menuju benih.


KEUNIKAN SIDIKJARI

“Sidikjari” yang terbentuk pada ujung jari dengan pola nyata pada kulit bersifat sangat unik bagi si empunya. Setiap orang yang hidup di bumi mempunyai setelan sidikjari yang berlainan. Semua orang yang hidup sepanjang sejarah juga mempunyai sidikjari yang berbeda-beda. Sidik ini tak akan berubah selama hayat seseorang kecuali jika terjadi kecelakaan besar.

Karena itulah sidikjari diterima sebagai kartu identitas yang sangat penting dan dipakai untuk tujuan ini di seluruh dunia.
Akan tetapi, dua abad yang lalu, sidikjari tidak begitu penting, karena baru ditemukan pada akhir abad ke-19 bahwa semua sidikjari saling berbeda. Pada 1880, seorang ilmuwan Inggris yang bernama Henry Faulds menyatakan dalam suatu artikel yang diterbitkan di Nature bahwa sidikjari orang-orang tidak berubah sepanjang hayat mereka, dan bahwa terdakwa-terdakwa bisa diyakinkan dengan sidikjari yang mereka tinggalkan di permukaan benda seperti kaca.32 Pada 1884, untuk pertama kalinya seorang pembunuh ditentukan dengan identifikasi sidikjari. Sejak itu, sidikjari telah menjadi metode yang penting untuk identifikasi. Namun sebelum abad ke-19, kebanyakan orang mungkin tak pernah mengira bahwa bentuk sidikjari mereka yang bergelombang itu mempunyai makna atau merupakan catatan yang berharga.
Pada abad ke-7, Al-Qur’an menunjukkan bahwa ujung jari manusia mengandung karakteristik yang penting:

Apakah manusia mengira bahwa Kami tak akan mengumpulkan tulang-tulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun kembali ujung jari-jarinya. (Surat al-Qiyaamah, 3-4)

KELAHIRAN MANUSIA

Terdapat banyak pokok-persoalan yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang mengundang manusia untuk beriman. Kadang-kadang langit, kadang-kadang hewan, dan kadang-kadang tanaman ditunjukkan sebagai bukti bagi manusia oleh Allah. Dalam banyak ayat, orang-orang diseru untuk mengalihkan perhatian mereka ke arah proses terciptanya mereka sendiri. Mereka sering diingatkan bagaimana manusia sampai ke bumi, tahap-tahap mana yang telah kita lalui, dan apa bahan dasarnya:

Kami telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah Kami Penciptanya? (Surat al-Waaqi’ah, 57-59)

Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya yang luar biasa itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci sehingga mustahil bagi orang yang hidup di abad ke-7 untuk mengetahuinya. Beberapa di antaranya sebagai berikut:
1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya (sperma).
2. Yang laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
4. Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di rahim.
Orang-orang yang hidup pada zaman kala al-Qur’an diturunkan, pasti, tahu bahwa bahan dasar kelahiran berhubungan dengan mani laki-laki yang terpancar selama persetubuhan seksual. Fakta bahwa bayi lahir sesudah jangka waktu sembilan bulan tentu saja merupakan peristiwa yang gamblang dan tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Akan tetapi, sedikit informasi yang dikutip di atas itu berada jauh di luar pengertian orang-orang yang hidup pada masa itu. Ini baru disahihkan oleh ilmu pengetahuan abad ke-20.

Sekarang mari kita periksa satu demi satu.
1) Air Mani
Selama persetubuhan seksual, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu. Sperma-sperma melakukan perjalanan 5-menit yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur. Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, yang berukuran setengah dari sebutir garam, hanya akan membolehkan masuk satu sperma. Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Qur’an :

Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan? (Surat al-Qiyaamah, 36-37)

Seperti yang telah kita amati, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal-usul ilahi.
2) Campuran di dalam Mani
Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.
Yang cukup menarik, ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta ini, yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran:

Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, lalu Kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan. (Surat al-Insaan, 2)

Di ayat lain, mani lagi-lagi disebut sebagai campuran dan ditekankan bahwa manusia diciptakan dari "bahan campuran" ini :

Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina. (Surat as-Sajdah, 7-8)

Kata Arab "sulala", yang diterjemahkan sebagai “sari”, berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti “bagian dari suatu kesatuan”. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan firman dari Yang Berkehendak Yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.
3) Penentuan Jenis Kelamin Bayi
Sampai belum lama ini diperkirakan bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh gen-gen laki-laki dan perempuan bersamaan. Ilmu genetika dan mikrobiologi yang kian maju pada abad ke-20 membuktikan bahwa si perempuan tidak berperan dalam proses ini.
Dua dari 46 kromosom yang menentukan struktur manusia merupakan kromosom jenis kelamin. Kromosom-kromosom ini disebut “XY” pada pria dan “XX” pada wanita, karena bentuk kromosomnya menggambarkan huruf-huruf ini. Kromosom Y adalah kromosom yang pada khususnya membawa gen-gen laki-laki.
Pembentukan bayi berawal dengan penyatuan dua kromosom: satu dari si ayah dan satu dari si bunda. Karena yang perempuan hanya memiliki kromosom X, sel-sel reproduksinya (ova) hanya akan mengandung kromosom ini. Di sisi lain, yang laki-laki mempunyai kromosom X dan Y, sehingga setengah dari sel-sel reproduksinya (sperma) merupakan kromosom X dan setengah lainnya Y. Jika suatu sel telur menyatu dengan sperma yang mengandung kromosom X, maka keturunannya perempuan; jika penyatuannya dengan sperma yang mengandung kromosom Y, maka keturunannya laki-laki.

Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh yang mempunyai kromosom X dan Y, yaitu si laki-laki, yang menyatu dengan kromosom X dari si perempuan.
Hal ini sama sekali belum diketahui hingga penemuan genetika pada abad ke-20. Pada banyak budaya, justru diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh kondisi tubuh (kesehatan, dll.) sang ibu. Itulah mengapa wanita-wanita disalahkan bila mereka mendapatkan anak perempuan. (Keyakinan primitif ini masih lazim.)
Akan tetapi, tigabelas abad sebelum gen-gen ditemukan, Al-Qur’an mengungkapkan informasi yang menyangkal hal ini. Dalam suatu ayat dinyatakan bahwa kepriaan atau kewanitaan itu tercipta dari air mani; dengan kata lain, sumber jenis kelamin itu bukan perempuan, melainkan laki-laki.

... Dia Yang menciptakan berpasangan, jantan dan betina, dari benih kala ditempatkan. (Surat an-Najm, 45-46)


4) Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim
Ketika sperma pria menyatu dengan sel telur wanita sebagaimana terpapar di atas, terbentuklah bahan dasar calon bayi. Sel tunggal ini, yang dalam biologi dikenal sebagai “zigot”, akan mulai berbiak sendiri melalui pembagian dan akhirnya menjadi “sepotong daging”.
Akan tetapi, zigot itu tidak menjalani masa perkembangannya dalam ruang hampa. Zigot melekat pada rahim bagaikan akar-akar yang tertancap dengan kokoh di tanah dengan sulur-sulur mereka. Melalui ikatan ini, zigot bisa memperoleh bahan-bahan yang amat penting bagi pertumbuhannya dari tubuh ibunya.
Rincian sedetail itu belum bisa diketahui tanpa pengetahuan yang mantap tentang kedokteran. Tentu saja pada empatbelas abad yang lalu belum ada orang yang mempunyai pengetahuan semacam itu. Yang cukup menarik, dalam Al-Qur’an, Allah selalu menyebut zigot yang berkembang di rahim sang ibu sebagai “segumpal darah”:

Bacalah! Atas nama Tuhanmu yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah beku. Bacalah! Dan Tuhanmu Maha Mulia. (Surat al-‘Alaq, 1-3)

Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan? Kemudian ia menjadi segumpal darah; lalu (Allah) membuat jadi bentuk yang serasi. Dan Dia menjadikannya sepasang, jantan dan betina. (Surat al-Qiyaamah, 36-39)

Makna Arab kata “gumpalan” adalah “sesuatu yang melekat di suatu tempat”. Kata ini secara harfiah dipakai untuk memerikan lintah yang melekat di tubuh untuk menghisap darah. Tentu saja, inilah kata terbaik yang memungkinkan untuk memaparkan zigot yang melekat di dinding rahim dan menyerap makanannya dari situ.
Al-Qur’an mengungkap lebih banyak lagi mengenai zigot. Dengan secara sempurna melekat di dinding rahim, zigot itu mulai tumbuh. Sementara itu, rahim si ibu terisi dengan suatu cairan yang disebut "cairan amnion" yang mengitari zigot. Corak terpenting cairan amnion, tempat pertumbuhan bayi, adalah melindungi bayi dari pukulan-pukulan yang berasal dari luar. Dalam Al-Qur’an, fakta ini terungkap sebagai berikut:

Bukankah Kami ciptakan kamu dari cairan yang hina, lalu Kami tempatkan di tempat yang kukuh terlindung ? (Surat al-Mursalaat, 20-21)


Semua informasi ini yang tersaji dalam Al-Qur’an mengenai pembentukan menusia itu menunjukkan bahwa Al-Qur’an berasal dari suatu sumber yang mengetahui pembentukan ini hingga serinci-rincinya.
Ini sekali lagi membuktikan bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah. Omong kosong sajalah pernyataan bahwa informasi yang dihasilkan oleh Al-Qur’an mengenai kelahiran itu kebetulan belaka: karena terdapat banyak rincian yang terungkap dalam Al-Qur’an dan catatan serinci itu bagaimanapun tidak mungkin "secara kebetulan" cocok dengan kebenaran.
Semua paparan Al-Qur’an itu benar karena semua ayatnya berisi firman Allah. Allah-lah Yang menciptakan dan membentuk manusia di rahim ibunya, firman-Nya-lah paparan terbaik tentang proses ini. Allah menciptakan kita semua dengan cara seperti yang terperi di awal kehidupan kita di ayat lain sebagai berikut:
Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah liat. Kemudian Kami jadikan dia air mani, yang tersimpan di tempat yang kukuh sekali. Kemudian mani itu Kami jadikan segumpal darah; kemudian segumpal darah Kami jadikan tulang-belulang dan tulang itu Kami bungkus dengan daging, lalu Kami kembangkan menjadi makhluk lain lagi. Maka Mahasuci Allah, Pencipta terbaik. (Surat al-Mu’minuun, 12-14)

BAGIAN DUA
ORANG YANG TAK MAMPU MEMAHAMI FAKTA PENCIPTAAN


TIPUDAYA TEORI EVOLUSI

Teori evolusi adalah suatu filosofi dan konsepsi dunia yang menghasilkan suatu kesalahan hipotesis, asumsi, dan skenario khayalan dengan tujuan menjelaskan keberadaan dan asal-usul kehidupan dengan hanya seputar kebetulan. Filosofi ini berakar jauh di zaman lalu sekuno Yunani-kuno.
Semua filosofi ateis yang menolak adanya penciptaan, secara langsung atau pun tak langsung, menganut dan membela teori evolusi. Kondisi yang sama saat ini berlaku pula untuk semua ideologi dan sistem yang berlawanan dengan agama.
Paham evolusi ini tersembunyi dalam samaran ilmiah selama satu setengah abad yang digunakan untuk membenarkan diri-sendiri. Walaupun dianggap berkedudukan sebagai teori ilmiah selama pertengahan abad ke-19, teori itu, walaupun sepenuhnya merupakan usaha terbaik dari para pembelanya, sejauh ini belum disahkan oleh eksperimen atau pun temuan ilmiah apa pun. Sesungguhnya, “sains sejati” tempat bergantung teori itu jelas-jelas menunjukkan dan terus menunjukkan berulangkali bahwa teori itu tidak cocok dengan kenyataan.
Percobaan laboratorium dan perhitungan probabilistik telah secara gamblang menjelaskan bahwa asam amino sumber kehidupan tidak dapat dibuat secara kebetulan. Sel, yang dikira timbul secara kebetulan dalam kondisi yang primitif dan tak terkontrol menurut para evolusionis, masih tidak bisa disintesiskan, sekalipun di laboratorium dengan teknologi tinggi tercanggih abad ke-20. Bukanlah “bentuk transisional” tunggal, makhluk-makhluk yang disangka memperlihatkan evolusi-bertahap organisme-organisme modern dari yang lebih primitif sebagaimana pernyataan teori neo-Darwinis, yang pernah ada di mana saja di dunia walaupun dengan pencarian yang paling cerdas dan lama di peninggalan fosil.
Dengan berupaya menghimpun bukti evolusi, para evolusionis dengan tidak sengaja membuktikan sendiri bahwa evolusi tidak mungkin terjadi sama sekali.
Orang yang pada mulanya mengajukan teori evolusi, dalam bentuk yang pada hakikatnya dibela dewasa ini, ialah seorang biolog amatir Inggris yang bernama Charles Robert Darwin. Darwin pertama kali menerbitkan gagasannya dalam buku yang berjudul The Origin of Species by Means of Natural Selection pada 1859. Darwin menyatakan dalam bukunya bahwa semua makhluk hidup memiliki leluhur yang sama dan bahwa mereka berkembang satu sama lain dengan cara seleksi alamiah. Mereka yang terbaik dalam beradaptasi dengan lingkungan mewariskan perilaku mereka ke generasi berikutnya, dan lambat laun, sifat-sifat yang menguntungkan ini mengubah individu-individu menjadi spesies yang berbeda total dari leluhur mereka. Dengan demikian, manusia ialah produk yang paling maju dari mekanisme seleksi alamiah ini. Singkatnya, suatu spesies berasal dari spesies lain.
Ide khayal Darwin dianut dan dikembangkan oleh kalangan ideologis dan politis tertentu dan teorinya menjadi sangat populer. Alasan utamanya adalah bahwa tingkat pengetahuan saat itu belum memadai untuk menyingkapkan bahwa skenario imajinasi Darwin itu salah. Ketika Darwin mengajukan asumsinya, disiplin ilmu genetika, mikrobiologi, dan biokimia belum ada. Jikalau ada, Darwin mungkin dengan mudah mengenali bahwa teorinya tidak ilmiah sama sekali, dan sehingga takkan ada yang berusaha mengajukan pernyataan omong kosong tersebut; informasi yang menentukan spesies telah ada dalam gen dan seleksi alamiah tidak mungkin menghasilkan spesies baru dengan mengubah gen.
Pada masa bergaungnya buku Darwin, ahli botani Austria yang bernama Gregor Mendel menemukan kaidah pewarisan sifat di tahun 1865. Meskipun kurang dikenal hingga akhir abad itu, penemuan Mendel menjadi sangat penting pada awal 1900-an dengan lahirnya ilmu genetika. Beberapa waktu kemudian, struktur gen dan kromosom ditemukan. Pada 1950-an, penemuan molekul DNA, yang menghimpun informasi genetik, menempatkan teori evolusi pada krisis yang hebat, karena keluarbiasaan informasi dalam DNA tidak mungkin diterangkan sebagai kejadian kebetulan.
Selain semua perkembangan ilmiah ini, tidak ada bentuk-bentuk transisi, yang diduga menunjukkan evolusi organisme hidup secara bertahap dari yang primitif menuju spesies yang maju, yang pernah ditemukan walaupun dengan pencarian bertahun-tahun.
Perkembangan ini mestinya menyebabkan teori Darwin menjadi debu sejarah. Akan tetapi, tidaklah demikian, karena kalangan tertentu senantiasa merevisi, memperbaharui, dan mengangkat teori itu ke dataran ilmiah. Usaha ini hanya berarti jika kita menyadari bahwa di belakang teori itu lebih terdapat tujuan ideologis daripada kepedulian ilmiah.
Namun demikian, beberapa kalangan yang mempercayai pentingnya berpegang pada teori tersebut, yang telah menemui jalan buntu, segera menyusun model baru. Nama model baru ini adalah neo-Darwinisme. Menurut teori ini, spesies berkembang sebagai hasil dari mutasi-mutasi, perubahan-perubahan kecil dalam gen mereka, dan yang paling sesuailah yang bertahan hidup melalui mekanisme seleksi alamiah. Akan tetapi, tatkala terbukti bahwa mekanisme yang diajukan oleh neo-Darwinisme ini tidak sah, dan perubahan-perubahan kecil pun tidak cukup untuk pembentukan makhluk hidup, para evolusionis mulai mencari model baru. Mereka bangkit dengan klaim baru yang disebut “keseimbangan bersela” (punctuated equilibrium) yang tidak bersandar pada landasan rasional atau pun ilmiah. Model ini menyatakan bahwa makhluk hidup tiba-tiba berkembang menjadi spesies lain tanpa bentuk transisi sama sekali. Dengan kata lain, spesies tanpa “nenek moyang“ evolusioner tiba-tiba muncul. Ini merupakan cara pemerian penciptaan, kendati para evolusinis enggan untuk mengakuinya. Mereka mencoba menutupinya dengan skenario yang tidak masuk akal. Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa burung pertama dalam sejarahnya tiba-tiba, entah bagaimana, menetas keluar dari telur reptil. Teori tersebut juga mengemukakan bahwa hewan darat karnivora bisa berubah menjadi paus raksasa, dengan berubah bentuk secara tiba-tiba dan menyeluruh.

Klaim-klaim ini, yang semuanya bertentangan dengan kaidah genetika, biofisika, dan biokimia, adalah seilmiah dongeng katak yang berubah menjadi pangeran! Namun demikian, dengan tertekan oleh krisis dari pernyataan neo-Darwinis, beberapa paleontolog evolusionis menganut teori ini, yang mempunyai perbedaan yang bahkan lebih aneh daripada neo-Darwinisme itu sendiri.
Model ini hanya bermaksud memberi penjelasan atas kesenjangan dalam penemuan fosil yang tidak dapat diterangkan dengan model neo-Darwinis. Akan tetapi, usaha menjelaskan kesenjangan evolusi burung dalam penemuan fosil dengan pernyataan bahwa “burung secara tiba-tiba menetas keluar dari telur reptil“ kurang rasional, karena menurut penerimaan para evolusionis sendiri, evolusi dari suatu spesies ke spesies lain mensyaratkan perubahan informasi genetik yang besar dan menguntungkan. Akan tetapi, tidak ada mutasi apa pun yang mengembangkan informasi genetik atau menambah informasi baru untuk itu. Pemindahan hanya mengecualikan informasi genetik. Jadi, ”mutasi bruto” yang dibayangkan dengan model keseimbangan bersela hanya akan menyebabkan pengurangan dan pelemahan informasi genetik “bruto”, yakni “besar”.
Teori keseimbangan bersela itu tentu saja cuma hasil imajinasi. Meskipun ada kebenaran bukti, para pembela evolusi tidak bimbang untuk memuja teori ini. Mereka terpaksa melakukannya karena fakta bahwa model evolusi yang diajukan oleh Darwin tidak dapat dibuktikan oleh penemuan fosil. Darwin mengklaim bahwa spesies mengalami perubahan bertahap yang memerlukan keberadaan setengah-burung/setengah-reptil atau setengah-ikan/setengah-reptil yang ganjil. Akan tetapi, tidak satu pun “bentuk transisi“ ditemukan meskipun dengan penelitian secara luas para evolusionis dan penggalian ratusan dari ribuan fosil.
Para evolusionis memakai model keseimbangan bersela dengan harapan merahasiakan kegagalan besar ini. Seperti yang telah kita kemukakan, sangatlah jelas bahwa teori ini fantasi, sehingga pudar sendiri. Model keseimbangan bersela tak pernah diajukan sebagai model yang konsisten, tetapi justru digunakan sebagai pelarian dalam hal yang jelas-jelas tidak cocok dengan model evolusi bertahap. Sejak para evolusionis menyadari bahwa organ-organ rumit seperti mata, sayap, paru-paru, otak dan lain-lain menolak model evolusi bertahap secara terang-terangan, dalam hal-hal tertentu ini mereka terpaksa berlindung dalam interpretasi model keseimbangan bersela yang fantastik.


ADAKAH PENEMUAN FOSIL YANG MEMBENARKAN TEORI EVOLUSI?

Teori evolusi menyatakan bahwa evolusi suatu spesies menjadi spesies lain berlangsung secara bertahap, setapak demi setapak selama jutaan tahun. Kesimpulan logis yang ditarik dari klaim semacam ini adalah bahwa organisme hidup luar biasa yang disebut “bentuk transisi” seharusnya telah hidup selama masa-masa transformasi ini. Karena para evolusionis menyebutkan bahwa setiap makhluk hidup berkembang dari makhluk hidup lain setahap demi setahap, jumlah dan macam bentuk transisi ini seharusnya sudah ada jutaan.
Jika makhluk sedemikian itu pernah hidup, maka kita mestinya bisa melihat bekasnya di mana-mana. Pada kenyataanya, jika tesis ini benar, jumlah bentuk transisi antara seharusnya lebih besar daripada jumlah spesies hewan yang hidup hari ini dan fosil yang mereka wariskan mestinya juga berlimpah di seluruh dunia.
Sejak Darwin, para evolusionis telah mencari fosil dan hasilnya bagi mereka adalah kekecewaan yang menohok. Di mana pun di dunia ini—baik di darat maupun di kedalaman lautan—tidak ada yang mempunyai bentuk transisi antara dua spesies yang pernah ditemukan.
Darwin sendiri sadar akan ketiadaan bentuk-bentuk transisi sedemikian itu. Harapan terbesarnya adalah bahwa mereka akan ditemukan di masa mendatang. Walaupun berharap demikian, ia melihat bahwa kesalahan terbesar yang menghalangi teorinya adalah tidak adanya bentuk transisi. Karena itulah, dalam bukunya The Origin of Species, ia menulis:
Jika setiap spesies berasal dari spesies lain secara bertahap, mengapa di mana-mana kita tidak melihat bentuk transisi yang amat banyak? Mengapa semua alam yang tidak teratur, termasuk spesies, sebagaimana yang kita lihat, tidak dipastikan? ... Akan tetapi, karena dengan teori ini bentuk-bentuk transisi yang tak terhitung seharusnya ada, mengapa kita tidak mendapati mereka terpendam di balik tanah dengan jumlah yang tak terkira? ... Tetapi di kawasan antara, yang mempunyai kondisi-antara kehidupan, mengapa kita sekarang tidak menemukan jenis yang kemungkinan besar merupakan perantara? Kesulitan ini cukup membingungkan saya dalam waktu yang lama.1
Kekhawatiran Darwin masuk akal. Masalah ini juga menimpa para evolusionis lain. Derek V. Ager, seorang paleontolog terkenal dari Britania, menerima kenyataan yang memalukan ini:
Masalahnya, jika kita selidiki peninggalan fosil secara rinci, baik pada tingkat orde maupun spesies, kita dapati—lagi-lagi—bukan evolusi bertahap, melainkan meledaknya satu kelompok secara mendadak dengan mengorbankan kelompok lain.2
Kesenjangan dalam penemuan fosil tidak dapat diterangkan dengan pemikiran yang bernafsu bahwa belum cukup fosil yang tergali dan bahwa fosil yang tidak ada akan ditemukan di kemudian hari. T. Neville George, seorang paleontolog evolusionis lain, menjelaskan penalarannya:
Tidak perlu lagi dimintakan pengertian lebih jauh atas kurangnya penemuan fosil. Bagaimanapun, [penemuan fosil] ini telah menjadi hampir terlalu banyak, dan penemuan [tersebut] lebih dari cukup... Namun begitu, penemuan fosil masih tersusun dari kesenjangan-kesenjangan.3



KEHIDUPAN MUNCUL DI BUMI SECARA TIBA-TIBA DAN DALAM BENTUK RUMIT

Bila strata terestrial dan penemuan fosil diselidiki, terlihat bahwa organisme hidup muncul serentak. Stratum tertua bumi yang mengandung fosil makhluk hidup yang pernah ditemukan adalah “Cambrian“ yang ditaksir berumur 530–520 juta tahun.
Makhluk hidup yang terdapat pada strata milik periode Cambrian dalam penemuan fosil semuanya muncul tiba-tiba tanpa keberadaan pendahulu mereka. Aneka organisme hidup ini, yang tersusun dari sejumlah besar makhluk yang rumit, muncul dengan sedemikian tiba-tiba sehingga kejadian yang menakjubkan ini disebut “Peledakan Cambrian” dalam literatur ilmiah.

Kebanyakan organisme hidup yang terdapat di stratum ini mempunyai organ yang sangat maju seperti mata, atau sistem-sistem yang terlihat dalam organisme dengan pengorganisasian yang sangat maju seperti insang, sistem peredaran darah, dan sebagainya. Tidak ada tanda dalam penemuan fosil yang mengindikasikan bahwa organisme ini punya nenek-moyang. Richard Monestarsky, editor majalah Earth Sciences, menyatakan kehidupan spesies yang muncul secara mendadak:
Setengah milyar tahun yang lalu bentuk-bentuk hewan yang benar-benar rumit yang kita lihat hari ini tiba tiba muncul. Peristiwa ini, tepat pada awal periode Cambrian, sekitar 550 juta tahun yang lalu, menandai peledakan evolusi yang memenuhi lautan dengan makhluk-makhluk rumit pertama di dunia. Fila, hewan besar zaman sekarang, sudah ada pada awal Cambrian dan mereka tidak berbeda dengan yang ada pada saat ini.4

Dengan tanpa mampu mendapatkan jawaban atas pertanyaan bagaimana bumi menjadi penuh dengan ribuan aneka spesies hewan, para evolusionis menggunakan khayalan periode 20 juta tahun sebelum Periode Cambrian untuk menjelaskan bagaimana kehidupan berasal dan “kejadian yang tak diketahui”. Periode ini disebut “kesenjangan evolusi” (evolutionary gap). Tidak ada bukti untuk ini yang pernah ditemukan, dan bahkan saat ini konsepnya masih benar-benar keruh dan kabur.

Pada tahun 1984, banyak [hewan] invertebrata digali di Chengjiang, yang terletak di tengah dataran tinggi Yunann di pedalaman China baratdaya. Di antaranya adalah trilobit, yang kini tiada, tetapi strukturnya tidak kalah rumit daripada segala hewan tak bertulang belakang modern.

Stefan Bengston, paleontolog evolusionis dari Swedia, menerangkan situasinya sebagai berikut:
Jika ada peristiwa dalam sejarah kehidupan yang menyerupai mitos penciptaan manusia, maka itu adalah diversifikasi kehidupan laut yang mendadak ini ketika organisme-organisme multiseluler beralih menjadi pelaku dominan dalam ekologi dan evolusi. Dengan sulit dimengerti (dan memalukan) Darwin, kejadian ini masih membuat kita terpesona.5
Kemunculan tiba-tiba makhluk-makhluk hidup kompleks ini dengan tanpa nenek moyang tidak kalah sulit untuk dimengerti (dan memalukan) para evolusinis saat ini daripada Darwin 135 tahun yang lalu. Selama hampir satu setengah abad, mereka tidak mempunyai kemajuan selangkah pun untuk melewati hal yang menghalangi Darwin.
Sebagaimana bisa dilihat, penemuan fosil mengindikasikan bahwa makhluk hidup tidak berkembang dari bentuk yang primitif ke bentuk yang maju, tetapi justru muncul semuanya secara tiba-tiba dan dalam keadaan yang sempurna. Ketiadaan bentuk-bentuk transisi tidak hanya pada periode Cambrian. Tidak pernah ditemukan satu bentuk transisi yang mengesahkan dugaan “kemajuan” evolusi hewan bertulang belakang—dari ikan ke amfibi, reptil, burung, dan mamalia. Setiap spesies hidup muncul seketika dan dalam bentuknya yang mutakhir, sempurna dan lengkap, dalam penemuan fosil.
Dengan kata lain, makhluk-makhluk hidup tidak menuju keberadaan melalui evolusi. Mereka diciptakan.


KEPALSUAN EVOLUSI
Tipudaya Gambar-Gambar

Penemuan fosil adalah sumber utama bagi mereka yang mencari-cari bukti teori evolusi. Bila diperiksa dengan cermat dan tanpa prasangka, penemuan fosil justru lebih menyangkal teori evolusi daripada mendukungnya. Namun demikian, penafsiran yang menyesatkan terhadap fosil oleh para evolusionis dan gambaran prasangka mereka kepada publik telah memberi banyak orang kesan bahwa penemuan fosil sesungguhnya mendukung teori evolusi.
Kerentanan beberapa temuan dalam penemuan fosil terhadap semua jenis interpretasi melayani maksud para evolusionis sebaik-baiknya. Fosil-fosil yang tergali kebanyakan tidak memuaskan untuk identifikasi yang andal. Fosil biasanya terdiri atas pecahan tulang tak lengkap yang tersebar. Karena alasan ini, menyimpangkan data yang tersedia dan menggunakannya dengan sekehendak hati sangat mudah. Tidak mengejutkan, rekonstruksi (gambar dan model) yang dibuat oleh para evolusionis berdasarkan sisa-sisa fosil sedemikian itu seluruhnya disajikan secara spekulatif dengan tujuan membenarkan tesis evolusi. Karena orang-orang mudah terpengaruh oleh informasi visual, model-model rekonstruksi khayalan ini bertindak untuk meyakinkan mereka bahwa makhluk-makhluk rekonstruksi ini benar-benar ada di masa lalu.
Para evolusionis peneliti menggambar makhluk khayalan seperti manusia, yang biasanya berdasarkan sebiji gigi, atau sepotong pecahan rahang atau tulang paha atau lengan atas, dan menyajikannya kepada masyarakat umum dengan cara yang sensasional seakan-akan mereka ialah rantai evolusi manusia. Gambar-gambar ini telah berperan penting dalam pemantapan citra “manusia primitif” di benak banyak orang.

Kajian yang didasarkan pada sisa-sisa tulang ini hanya bisa mengungkapkan karakteristik umum makhluk yang diteliti. Rincian-rincian yang berbeda terdapat di jaringan lunak yang lenyap dengan cepat seiring dengan waktu. Dengan jaringan-jaringan lunak yang ditafsirkan secara spekulatif, segala hal menjadi mungkin dalam garis batas imajinasi pembuat rekonstruksi. Earnst A. Hooten dari Universitas Harvard menjelaskan situasinya seperti ini:
Upaya memulihkan bagian-bagian lunak itu adalah tindakan yang bahkan lebih berbahaya. Bibir, mata, telinga, dan ujung hidung tidak meninggalkan pertanda pada bagian-bagian tulang yang menjadi acuan. Berdasarkan tengkorak Neanderthal, anda sama-sama bisa membuat model dengan ciri-ciri seekor simpanse atau pun raut wajah seorang filsuf. Dugaan restorasi tipe-tipe manusia kuno mempunyai nilai ilmiah yang sangat sedikit, kalau ada, dan mungkin hanya menyesatkan publik... Jadi, jangan mempercayai rekonstruksi.6


Penelitian Yang Dibuat untuk Membuat Fosil Palsu

Dengan tidak mampu mendapatkan bukti teori evolusi yang sah dalam peninggalan fosil, beberapa evolusionis berusaha membuatnya sendiri. Usaha-usaha ini, yang telah dimasukkan dalam ensiklopedi-ensiklopedi di bawah judul “kepalsuan evolusi”, adalah indikasi yang paling gamblang bahwa teori evolusi merupakan ideologi dan filosofi yang dibela mati-matian oleh para evolusionis. Dua dari kepalsuan yang paling payah dan cemar diperikan di bawah ini:

Manusia Piltdown
Charles Dawson, seorang dokter terkenal dan paleoantropolog amatir, mengajukan klaim bahwa ia menemukan sepotong tulang rahang dan pecahan tengkorak di sebuah lubang di kawasan Piltdown, Inggris, pada 1912. Kendati tengkorak itu menyerupai manusia, tulang rahangnya justru menyerupai monyet. Spesimen ini diberi nama “Manusia Piltdown”. Dengan disangka berumur 500 ribu tahun, tulang-belulang itu dipajang sebagai bukti mutlak evolusi manusia. Selama lebih dari 40 tahun, banyak artikel ilmiah yang ditulis tentang “Manusia Piltdown”, banyak penafsiran dan gambar yang dibuat dan fosil tersebut disajikan sebagai bukti penting evolusi manusia.
Pada 1949, para ilmuwan menyelidiki fosil itu sekali lagi dan menyimpulkan bahwa “fosil” itu dusta yang disengaja yang mengandung tengkorak manusia dan tulang rahang orangutan.
Dengan memakai metode penanggalan fluor, para penyelidik mendapati bahwa tengkorak itu hanya berumur beberapa ribu tahun. Gigi-gigi di tulang rahang itu, yang merupakan milik orangutan, telah dipasangkan, dan peralatan “primitif” yang menyatukan fosil itu dengan meyakinkan adalah dusta kasar yang dipertajam dengan peralatan baja. Dalam analisis rinci yang disempurnakan oleh Oakley, Weiner, dan Clark, mereka mengungkapkan kepalsuan ini kepada publik pada 1953. Tulang tengkorak itu adalah milik manusia yang berumur 500 tahun, dan tulang rahang itu milik seekor kera yang belum lama mati! Gigi-gigi ditata di situ secara istimewa dengan suatu susunan dan ditambahkan pada rahang, dan sambungannya diisikan dengan tujuan agar menyerupai tatanan pada manusia. Lalu semua potongan-potongan ini dikotori dengan dikhromat potasium untuk memberi penampilan kuno. (Kotoran-kotoran ini lenyap bila dicelupkan dalam asam.) Le Gros Clark, seorang anggota tim yang mengungkapkan kepalsuan tersebut, tidak bisa menyembunyikan keheranannya:
Bukti-bukti goresan buatan ini segera membuka mata. Sesungguhnya ini amat jelas terlihat sehingga bisa dipertanyakan: mengapa dulu hal ini luput dari perhatian?7

Manusia Nebraska
Pada 1922, Henry Fairfield Osborn, direktur Museum Sejarah Alam Amerika, menyatakan bahwa ia menemukan fosil gigi geraham di Nebraska barat dekat Snake Brook yang terdapat pada periode Pliosen. Gigi ini disangka mengandung karakteristik umum manusia dan sekaligus kera. Argumen-argumen ilmiah yang mendalam bermula dengan sebagian menafsirkan gigi ini milik Pithecanthropus erectus sedangkan sebagian lainnya mengklaim bahwa ini lebih dekat dengan manusia modern. Fosil ini, yang menimbulkan perdebatan luas, bernama populer “Manusia Nebraska”. Fosil ini juga segera diberi “nama ilmiah”: “Hesperopithecus Haroldcooki”.

Terdapat banyak tokoh yang mendukung Osborn. Berdasarkan gigi tunggal ini, rekonstruksi kepala dan tubuh “Manusia Nebraska” digambar. Bahkan, Manusia Nebraska dilukis juga dengan seluruh anggota keluarganya.
Pada 1927, bagian lain dari tengkorak itu juga ditemukan. Menurut potongan-potongan baru ini, gigi tersebut bukan milik manusia atau pun kera, melainkan seekor spesies babi liar Amerika yang sudah punah yang disebut Prostennops.


APAKAH MANUSIA DAN KERA BERASAL DARI LELUHUR YANG SAMA?

Menurut klaim teori evolusi, manusia dan kera modern mempunyai leluhur yang sama. Makhluk-makhluk ini berkembang seiring dengan waktu dan beberapa di antara mereka menjadi kera-kera masa kini, sedangkan sekelompok lain yang mengikuti cabang evolusi lain menjadi manusia masa kini.
Para evolusionis menyebut “leluhur bersama” pertama manusia dan kera ini “Australopithecus” yang berarti “Kera Afrika selatan”. Terdapat berbagai jenis Australopithecus, yang hanya spesies kera lama yang telah menjadi berbeda. Sebagiannya tegap, sementara lainnya kecil dan rapuh.
Para evolusionis menggolongkan tahap evolusi manusia berikutnya sebagai “Homo”, yakni “manusia”. Menurut klaim evolusionis, makhluk hidup dalam tahap “Homo” ini lebih berkembang daripada Australopithecus, dan tidak banyak berbeda dari manusia modern. Manusia modern masa kini, Homo sapiens, konon terbentuk pada tahap terakhir evolusi spesies ini.
Yang betul, makhluk hidup yang disebut Australopithecus dalam skenario khayalan yang dikarang-karang oleh para evolusionis sesungguhnya merupakan anggota aneka ras manusia yang hidup di masa lalu dan lalu punah. Para evolusionis menata berbagai fosil kera dan manusia dalam suatu urutan dari yang terkecil ke yang terbesar agar terbentuk skema “evolusi manusia”. Akan tetapi, riset telah menunjukkan bahwa fosil-fosil ini sama sekali tidak menyiratkan proses evolusi dan bahwa sebagian makhluk yang diduga keras leluhur manusia ini ialah kera sejati sedangkan sebagian lainnya ialah manusia sejati.
Sekarang, mari kita perhatikan Australopithecus, yang menurut para evolusionis melambangkan tahap pertama skema evolusi manusia.

Australopithecus: Kera Punah
Para evolusionis mengklaim bahwa Australopithecus adalah leluhur manusia modern yang paling primitif. Ini ialah spesies lama dengan struktur kepala dan tengkorak yang serupa dengan yang dimiliki oleh kera-kera modern, namun dengan kapasitas tengkorak yang lebih kecil. Menurut pernyataan para evolusionis, makhluk-makhluk ini mempunyai sifat yang amat penting yang mengesahkan mereka sebagai leluhur manusia: bipedalisme.
Pergerakan kera dan manusia berbeda sepenuhnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bergerak bebas dengan dua kaki. Beberapa hewan lain memang memiliki kemampuan terbatas untuk bergerak dengan cara ini, namun mereka memiliki kerangka yang bungkuk.
Menurut para evolusionis, makhluk hidup yang disebut Australopithecus ini mempunyai kemampuan untuk berjalan dengan lebih membungkuk daripada berpostur tegak seperti manusia. Bahkan langkah-langkah bipedal terbatas ini mencukupi untuk mendorong para evlusionis untuk memperhitungkan bahwa makhluk hidup ini leluhur manusia.
Akan tetapi, bukti pertama yang menolak dugaan para evolusionis bahwa Australopithecus itu bipedal berasal dari para evolusionis itu sendiri. Bahkan, kajian yang mendalam terhadap fosil-fosil Australopithecus memaksa para evolusionis untuk menerima bahwa ini terlihat menyerupai kera “juga”. Dengan melaksanakan penelitian anatomis yang mendalam terhadap fosil-fosil Australopithecus pada pertengahan 1970-an, Charles E. Oxnard mempersamakan struktur tengkorak Australopithecus dengan yang terdapat pada orangutan:
Bagian penting dari kebijakan konvensional mengenai evolusi manusia didasarkan pada pecahan-pecahan fosil gigi, rahang, dan tengkorak australopithecus. Ini semua menunjukkan bahwa hubungan yang dekat antara australopithecus dan leluhur manusia tidak benar. Semua fosil ini berbeda dari gorila, simpanse, dan manusia. Bila dikaji sebagai satu kelompok, australopithecus tampaknya lebih mirip dengan orangutan.8
Yang benar-benar memalukan para evolusionis adalah penemuan bahwa Australopithecus itu berpostur bungkuk dan tidak mungkin berjalan dengan dua kaki. Bagi Australopithecus yang diduga bipedal namun dengan kerangka bungkuk, sangatlah tidak efektif untuk bergerak dengan cara sedemikian itu karena akan memerlukan energi yang terlampau banyak. Dengan alat simulasi komputer yang dilakukan pada 1996, Robin Crompton paleoantropolog Inggris juga memperagakan bahwa kerangka “campuran” semacam itu mustahil. Crompton mencapai kesimpulan berikut ini: makhluk hidup hanya berjalan dengan salah satu dari dua cara: tegak atau dengan empat kaki. Jenis kerangka yang di antara keduanya tidak mungkin lestari selama rentang waktu yang lama karena konsumsi energi yang berlebihan. Ini berarti bahwa Australopithecus mustahil berjalan bipedal dengan postur bungkuk.
Barangkali kajian terpenting yang menunjukkan bahwa Australopithecus tidak mungkin bipedal muncul pada 1994 dari riset anatomis Fred Spoor dan timnya dari Jurusan Biologi Sel dan Anatomi Manusia di Universitas Liverpool, Inggris. Kelompok ini melaksanakan pengkajian terhadap bipedalisme makhluk hidup yang telah memfosil. Riset mereka menyelidiki mekanisme keseimbangan otomatis yang terdapat pada rumah-siput telinga, dan temuan-temuannya menunjukkan kesimpulan bahwa Australopithecus tidak mungkin bipedal. Ini menggugurkan segala klaim bahwa Australopithecus itu seperti manusia.

Rangkaian Homo: Manusia Sejati
Tahap berikutnya dalam evolusi-manusia khayalan adalah “Homo”, yakni rangkaian manusia. Makhluk hidup ini ialah manusia yang tidak berbeda dari manusia modern, namun memiliki beberapa perbedaan rasial. Dengan berusaha menafsirkan perbedaan-perbedaan ini, para evolusionis melambangkan orang-orang ini tidak sebagai “ras” manusia modern, tetapi sebagai “spesies” lain. Namun demikian, seperti yang segera kita saksikan, orang-orang dalam rangkaian Homo itu tidak lain kecuali jenis ras manusia asli.
Menurut skema khayal para evolusionis, evolusi khayal internal rangkaian spesies Homo adalah sebagai berikut: Pertama Homo erectus, lalu Homo sapiens purba dan manusia Neanderthal, kemudian manusia Cro-Magnon, dan akhirnya manusia modern.
Semua “spesies” yang telah kita sebut di atas tidak lain kecuali manusia asli, walaupun para evolusionis menyatakan sebaliknya. Mula-mula mari kita periksa Homo erectus, yang diacu oleh para evolusionis sebagai spesies manusia yang paling primitif.
Bukti paling menonjol yang menunjukkan bahwa Homo ercetus bukan spesies “primitif” adalah fosil “Turkana Boy”, salah satu dari Homo erectus tertua yang diketemukan. Diperkirakan bahwa ini adalah fosil anak lelaki berusia 12 tahun, yang tingginya 1,83 meter pada masa remajanya. Struktur kerangka tegak fosilnya tidak berbeda dari yang terdapat pada manusia modern. Tingginya dan struktur kerangka rampingnya cocok seluruhnya dengan yang terdapat pada manusia yang hidup di daerah tropis masa kini. Fosil ini merupakan satu dari potongan-potongan bukti terpenting bahwa Homo erectus hanyalah contoh ras manusia modern lainnya. Paleontolog evolusionis Richard Leaky membandingkan Homo erectus dengan manusia modern sebagai berikut:
Kita bisa juga melihat perbedaan bentuk tengkorak, tingkat tonjolan wajah, ketegapan pundak, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan ini barangkali tidak lebih nyata daripada yang kita lihat dewasa ini antara ras-ras manusia modern yang berbeda secara geografis. Variasi biologis semacam itu timbul tatkala populasi-populasi saling terpisah secara geografis selama waktu yang signifikan.9
Leaky bermaksud mengatakan bahwa perbedaan antara Homo erectus dan kita tidak lebih dari perbedaan antara orang Negro dan orang Eskimo. Corak tengkorak Homo erectus itu dihasilkan dari cara makan mereka, emigrasi genetik mereka, dan dari tidak bercampurnya mereka dengan ras manusia lain selama rentang waktu yang panjang.
Sepotong bukti kuat lain bahwa Homo erectus bukan spesies “primitif” adalah bahwa fosil-fosil spesies yang telah digali ini berumur duapuluh tujuh ribu tahun dan bahkan tigabelas ribu tahun. Menurut sebuah artikel yang terbit di Time—yang bukan terbitan ilmiah, namun berpengaruh luas terhadap dunia ilmiah—fosil-fosil Homo erectus yang berumur duapuluh tujuh ribu tahun ditemukan di pulau Jawa. Di rawa Kow di Australia, beberapa fosil yang berusia tigabelas ribu tahun ditemukan yang mengandung ciri-ciri Homo Sapiens-Homo erectus. Semua fosil ini menunjukkan bahwa Homo erectus melanjutkan kehidupan mereka hingga waktu yang dekat dengan zaman kita dan tidak lain kecuali ras manusia yang pernah terkubur dalam sejarah.

Homo Sapiens Purba dan Manusia Neanderthal
Homo sapiens purba ialah pendahulu-langsung manusia kontemporer dalam skema evolusi khayalan. Para evolusionis tidak mempunyai fakta banyak untuk membicarakan manusia-manusia ini, karena mereka hanya terdapat sedikit perbedaan antara mereka dan manusia modern. Beberapa peneliti bahkan menyatakan bahwa anggota ras ini masih hidup hari ini, dan menunjuk orang-orang Aborigin di Australia sebagai contoh. Seperti Homo sapiens, orang-orang Aborigin juga mempunyai alismata tebal yang menonjol, struktur rahang yang melereng ke dalam, dan volume otak yang agak lebih kecil. Lagipula, penemuan yang signifikan telah dicapai yang mengisyaratkan bahwa orang-orang semacam ini hidup di Hungaria dan di beberapa desa di Italia belum lama ini.
Para evolusionis menunjuk fosil manusia yang tergali di lembah Neander, Belanda, yang dinamai Manusia Neanderthal. Terdapat banyak peneliti kontemporer yang mendefinisikan Manusia Neanderthal sebagai sub-spesies manusia modern dan menyebutnya “Homo sapiens neandertalensis”. Jelas bahwa ras ini hidup bersama manusia modern pada waktu yang sama dan kawasan yang sama. Temuan-temuan itu memberi kesaksian bahwa orang-orang Neanderthal mengubur yang meninggal, memainkan instrumen musik, dan mempunyai kesamaan budaya dengan Homo sapiens sapiens yang hidup selama periode yang sama. Tengkorak modern dan struktur tengkorak fosil Neanderthal seluruhnya tidak terbuka untuk segala spekulasi. Seorang pengarang terkemuka dalam persoalan ini, Erik Trinkaus dari Universitas New Mexico menulis:
Perbandingan rinci sisa-sisa tengkorak Neanderthal dengan tegkorak manusia modern memperlihatkan bahwa tidak ada di anatomi Neanderthal yang kesimpulannya menunjukkan kemampuan gerak, peran, intelektual, atau pun kebahasaan yang lebih rendah daripada kemampuan manusia modern.10
Pada kenyataannya, orang-orang Neanderthal bahkan memiliki beberapa keunggulan “evolusioner” atas manusia modern. Kapasitas tengkorak orang Neanderthal lebih besar daripada kapasitas tengkorak manusia modern, mereka lebih tegap dan lebih berotot daripada kita. Trinkau menambahkan: “Satu ciri Neanderthal yang paling khas adalah keraksasaan tubuh dan tulang lengan dan tungkai mereka. Semua tulang yang diawetkan itu menyiratkan kekuatan yang jarang dimiliki oleh manusia modern. Lagipula, ketegapan ini tidak hanya terdapat di kalangan laki-laki dewasa, sebagaimana yang mungkin kita duga, tetapi juga terbukti ada di perempuan dewasa, remaja, dan bahkan anak-anak.”
Tepatnya, manusia Neanderthal ialah ras manusia tertentu yang berbaur dengan ras lain seiring dengan waktu.
Semua faktor ini menujukkan bahwa skenario “evolusi manusia” yang dibuat oleh para evolusionis merupakan isapan jempol mereka, dan bahwa manusia selalu manusia dan kera selalu kera.


MUNGKINKAH KEHIDUPAN BERASAL DARI KEBETULAN MELALUI EVOLUSI?

Teori evolusi berpendapat bahwa kehidupan berawal dengan sebuah sel yang terbentuk secara kebetulan dalam kondisi bumi yang primitif. Karena itu, mari kita periksa komposisi sel dengan perbandingan sederhana untuk memperlihatkan betapa tidak masuk-akal menganggap keberadaan sel—suatu susunan yang masih misterius dalam banyak hal, bahkan juga ketika kita hendak melangkah di abad ke-21 ini—berasal dari kebetulan dan fenomena alam.
Dengan semua sistem operasionalnya, sistem komunikasinya, transportasinya, dan manajemennya, sel tidak kalah rumitnya daripada kota besar. Sel mengandung stasiun-stasiun daya yang menghasilkan energi yang dikonsumsi oleh sel, pabrik-pabrik yang menghasilkan enzim dan hormon yang amat penting bagi kehidupan, bank data yang menyimpan semua informasi penting mengenai semua produk yang dihasilkan, sistem-sistem transportasi kompleks dan pipa-pipa untuk mengangkut bahan mentah dan produk dari satu tempat ke tempat lain, laboratorium-laboratorium hebat dan kilang-kilang minyak untuk mengurai bahan-bahan mentah dari luar menjadi bagian-bagian yang bisa dimanfaatkan, dan protein-protein selaput yang dikhususkan untuk mengendalikan bahan-bahan yang keluar-masuk. Ini semua hanyalah sebagian kecil dari sistem yang amat canggih ini.
Sel sama sekali tidak terbentuk dari kondisi bumi yang primitif. Sel, yang komposisi dan mekanismenya amat rumit, tidak bisa dibuat di laboratorium kita yang paling canggih sekalipun. Juga dengan penggunaan asam-asam amino, yang merupakan blok-blok pembangun sel, mustahil dihasilkan banyak organ tunggal sel, seperti mitokondria atau ribosom, sebanyak sel yang utuh. Sel pertama yag diaku hasil dari evolusi secara kebetulan itu hanyalah isapan jempol khayalan dan hasil dari fantasi seperti manusia berbadan kuda.

Mungkinkah Protein Kebetulan?
Bukan hanya sel yang tidak mungkin diproduksi; dalam keadaan alamiah, mustahil dibentuk protein, tunggal sekalipun, dari ribuan molekul protein kompleks penyusun sel.
Protein adalah molekul raksasa yang terdiri atas asam-asam amino yang tertata dengan rangkaian jumlah dan susunan yang tertentu. Molekul-molekul ini merupakan blok-blok pembangun sel hidup. Yang paling sederhana tersusun dari 50 asam amino; namun ada beberapa protein yang terdiri dari ribuan asam amino. Di samping itu, ketiadaan atau penggantian asam amino tunggal dalam struktur protein sel hidup, yang masing-masing mempunyai fungsi khusus, menyebabkan protein menjadi timbunan molekul yang tiada guna. Para pendiri teori evolusi, dalam hal pembentukan protein, tidak mampu menunjukkan “pembentukan kebetulan” asam amino.
Kita bisa dengan mudah memperagakan, dengan perhitungan probabilitas sederhana yang bisa dipahami oleh siapa saja, bahwa struktur fungsional protein sama sekali tidak mungkin terjadi secara kebetulan.
Ada duapuluh jenis asam amino. Jika kita pertimbangkan bahwa molekul protein rata-rata tersusun dari 288 asam amino, maka terdapat 10300 kombinasi asam yang berlainan. Di antara semua kemungkinan rangkaian ini, hanya “satu” yang merupakan molekul protein yang diminta. Rangkaian-rangkaian asam amino lain tidak berguna sama sekali atau berpotensi membahayakan makhluk hidup. Dengan kata lain, peluang pembentukan secara kebetulan satu molekul protein saja yang dikutip di atas adalah “1 dalam 10300”. Peluang “1” ini terjadi dari bilangan astronomis yang berisi angka 1 yang diikuti dengan 300 nol pada praktisnya nol saja; ini mustahil. Lagipula, satu molekul protein yang terdiri dari 288 asam amino adalah agak rendah bila dibandingkan dengan beberapa molekul protein raksasa yang mengandung ribuan asam amino. Bila kita terapkan perhitungan probabilitas yang serupa itu terhadap molekul-molekul protein raksasa ini, kita lihat bahwa kata “mustahil” pun menjadi tidak memadai.
Jika pembentukan secara kebetulan satu protein saja mustahil, maka milyaran kali lebih mustahil bagi sekitar satu juta protein untuk secara kebetulan bersama-sama muncul dengan cara yang tertata dan menjadi sel manusia yang lengkap. Lebih-lebih, sel bukan sekadar sekumpulan protein. Di samping protein, sel-sel juga mengandung asam nukleik, karbohidrat, lipida, vitamin, dan banyak zat kimia lain semisal elektrolit, semuanya tertata secara serasi dan dengan desain dengan proporsi tertentu, baik struktur maupun fungsinya. Masing-masing berfungsi sebagai unsur atau blok pembangun dengan berbagai organ.
Seperti yang telah kita lihat, teori evolusi tidak mampu menjelaskan pembentukan sebuah saja dari jutaan protein di dalam sel, biarlah menjelaskan sel itu sendiri.
Prof. Dr. Ali Demirsoy, seorang pakar evolusionis terkemuka Mesir, dalam bukunya Kalitim ve Evrim (Warisan dan Evolusi), membahas peluang pembentukan Cytochrome-C secara kebetulan, salah satu dari enzim terpenting bagi kehidupan:
Peluang pembentukan rangkaian Cytochrome-C mungkin nol. Dengan kata lain, jika kehidupan memerlukan suatu rangkaian tertentu, bisa dikatakan bahwa peluangnya untuk terwujud adalah satu kali di alam semesta. Kalau tidak, kekuatan metafisis di luar definisi kita mestinya telah bertindak dalam pembentukannya. Menerima yang terakhir ini tidak tepat demi tujuan-tujuan ilmu pengetahuan. Karena itu, kita harus menengok hipotesis pertama.11
Sesudah baris-baris ini, Demirsoy menerima bahwa peluang ini, yang ia terima hanya karena “lebih tepat demi tujuan-tujuan ilmu pengetahuan”, tidak realistis:
Peluang penyediaan rangkaian asam amino tertentu untuk Cytochrome-C adalah bagaikan peluang kera yang menulis sejarah manusia dengan mesin ketik—dengan mengambil begitu saja bahwa kera itu mengetik huruf secara acak.12
Rangkaian yang benar asam amino yang tepat saja tidak cukup untuk pembentukan satu molekul protein yang terdapat di makhluk hidup. Di samping ini, masing-masing dari duapuluh jenis asam amino yang berlainan yang terdapat di susunan protein ini harus kidal. Secara kimiawi, ada dua jenis asam amino yang berbeda yang disebut “kidal” dan “non-kidal”. Perbedaan antara keduanya adalah simetri-cermin antara tiga struktur dimensionalnya, yang serupa dengan orang yang kidal dan non-kidal. Asam amino kedua jenis ini terdapat di alam dengan jumlah yang sama dan dapat saling terikat dengan sempurna. Namun, riset menyingkapkan fakta yang menakjubkan: semua protein yang terdapat di struktur makhluk hidup terbuat dari asam amino kidal. Bahkan satu asam amino tunggal non-kidal yang melekat di struktur protein membuatnya tak berguna.
Mari kita umpamakan sesaat bahwa kehidupan menjadi ada secara kebetulan sebagaimana tuntutan para evolusionis. Dalam hal ini, asam amino kidal dan non-kidal yang muncul secara kebetulan harus ada di alam dengan jumlah yang kira-kira sama. Persoalan bagaimana protein bisa hanya memilih asam amino kidal, dan betapa tidak satu pun asam amino non-kidal yang terlibat dalam proses kehidupan masih merupakan sesuatu yang membingungkan para evolusionis. Dalam Britannica Science Encyclopaedia, sebuah pembela gigih teori evolusi, para pengarangnya menunjukkan bahwa asam-asam amino semua organisme-hidup di bumi dan blok-blok polimer kompleks seperti protein memiliki asimetri kidal yang sama. Mereka menambahkan bahwa ini serupa dengan mengundi dengan lontaran koin dan selalu mendapatkan kepala. Dalam ensiklopedi tersebut, mereka menyatakan bahwa mustahil memahami mengapa molekul-molekul menjadi kidal atau non-kidal dan bahwa pilihan ini secara mengagumkan berkaitan dengan sumber kehidupan di bumi.13
Belumlah memadai penataan asam amino dalam jumlah dan rangkaian yang benar, dan di struktur tiga-dimensi yang diperlukan. Pembentukan protein juga mensyaratkan agar molekul asam amino dengan lebih dari satu lengan saling dihubungkan dengan yang lain melalui lengan tertentu saja. Ikatan semacam ini disebut “ikatan peptida”. Asam-asam amino dapat membuat ikatan-ikatan yang berlainan satu sama lain; namun protein hanya terdiri atas asam amino yang menyatu dengan ikatan “peptida”.
Riset menunjukkan bahwa hanya 50% dari asam amino yang secara acak menyatu dengan ikatan peptida dan bahwa yang lainnya menyatu dengan ikatan-ikata lain yang tidak terdapat di protein. Agar berfungsi dengan tepat, setiap asam amino penyusun protein harus bergabung dengan asam amino lain dengan ikatan peptida, karena inilah satu-satunya yang harus dipilih oleh yang kidal. Tak meragukan, tidak ada mekanisme kendali untuk menyeleksi dan membiarkan asam amino non-kidal dan secara pribadi memastikan bahwa setiap asam amino membuat ikatan peptida dengan yang lain.
Dalam keadaan-keadaan ini, peluang molekul protein rata-rata yang mengandung limaratus asam amino yang menata sendiri dengan jumlah dan rangkaian yang benar, di samping peluang asam amino untuk hanya mengandung yang kidal dan hanya bergabung dengan ikatan peptida adalah sebagai berikut:
Peluang dengan rangkaian yang benar = 1/20500 = 1/10650
Peluang berkidal = 1/2500 = 1/10150
Peluang bergabung dengan ikatan “peptida” = 1/2499 = 1/10150
PROBABILITAS TOTAL = 1/10950, yakni peluang “1” dalam 10950
Sebagaimana bisa anda lihat di atas, peluang pembentukan molekul protein yang mengandung limaratus asam amino adalah “1” dibagi dengan angka yang terbentuk dengan menempatkan 950 nol setelah “1”, suatu bilangan yang tak terbayangkan oleh benak manusia. Ini hanya peluang di atas kertas. Pada praktisnya, peluang realisasinya adalah “0”. Dalam matematika, peluang yang lebih kecil daripada 1050 secara statistik peluang realisasinya dianggap “0”.
Bila kemustahilan pembentukan molekul protein yang terbuat dari limaratus asam amino mencapai angka sejauh itu, selanjutnya kita bisa mendorong batas-batas akal ke tingkat kemustahilam yang lebih tinggi. Di molekul “hemoglobin, suatu protein yang vital, terdapat limaratus tujuhpuluh-empat asam amino, yang jumlahnya jauh lebih besar daripada asam amino penyusun protein yang kita sebut di atas. Sekarang, perhatikan hal ini: di satu sel saja dari milyaran sel darah merah, terdapat “280.000.000” (280 juta) molekul hemoglobin. Usia kira-kira bumi tidak memadai untuk mampu membentuk satu protein tunggal saja, membiarkan sel darah merah sendirian, dengan metode “coba dan coba lagi”. Kesimpulan dari semua ini adalah bahwa teori evolusi terjerumus ke jurang dalam kemustahilan pada tahap pembentukan protein tunggal.

Mencari Jawaban atas Munculnya Kehidupan
Dengan menyadari keganjilan besar terhadap peluang kehidupan yang terbentuk secara kebetulan, para evolusionis tidak mampu memberi penjelasan yang rasional atas keyakinan mereka, sehingga mereka mulai mencari cara untuk menunjukkan bahwa keganjilan itu tidak terlalu merisaukan.
Mereka merancang sejumlah eksperimen laboratorium untuk mengatasi persoalan tentang bagaimana kehidupan muncul sendiri dari zat yang non-hidup. Eksperimen yang paling terkenal dan paling terhormat adalah yang dikenal sebagai “Eksperimen Miller” atau “Eksperimen Urey-Miller”, yang dilaksanakan oleh Stanley Miller peneliti dari Amerika pada 1953.
Dengan tujuan membuktikan bahwa asam amino bisa menjadi ada dengan kebetulan, Miller menciptakan suatu atmosfir di laborataoriumnya yang ia anggap ada di bumi purba (namun yang di kemudian hari terbukti tidak realistis) dan ia pasang untuk penelitian. Campuran yang ia pakai untuk atmosfir purba ini terdiri dari amonia, metana, hidrogen, dan uap air.
Miller mengetahui bahwa metana, amonia, uap air, dan hidrogen tidak akan saling bereaksi dalam kondisi alamiah. Ia sadar bahwa ia harus menyisipkan energi ke dalam campuran itu untuk memulai reaksi [kimia]. Ia berpendapat bahwa energi ini bisa berasal dari cahaya petir di atmosfir purba dan, berdasarkan anggapan ini, ia menggunakan pelepasan listrik buatan di eksperimennya.
Miller mendidihkan campuran gas ini pada 100 0C selama seminggu, dan, di samping itu, ia memasukkan arus listrik ke ruangan tersebut. Pada akhir minggu itu, Miller menganalisis zat-zat kimia yang terbentuk di ruangan itu dan mengamati bahwa terdapat duapuluh asam amino, yang merupakan unsur dasar protein, yang telah tersintesis.
Eksperimen ini menimbulkan kehebohan besar di kalangan evolusionis dan mereka mengajukannya sebagai keberhasilan yang luar biasa. Dengan terdorong oleh pikiran bahwa eksperimen ini jelas-jelas mengesahkan teori mereka, para evolusionis segera memproduksi skenario baru. Miller disangka telah membuktikan bahwa asam amino bisa terbentuk sendiri. Dengan berlandaskan hal ini, mereka buru-buru menyusun hipotesis tahap-tahap berikutnya. Menurut skenario mereka, selanjutnya asam-asam amino menyatu secara kebetulan dengan rangkaian yang tepat untuk membentuk protein. Beberapa protein yang terbentuk secara kebetulan ini menempatkan diri di struktur yang menyerupai selaput sel, yang “agaknya” menjadi eksis dan membentuk sebuah sel primitif. Lama-kelamaan sel-sel itu menyatu dan membentuk organisme hidup. Arus utama terbesar skenario ini adalah eksperimen Miller.
Akan tetapi, eksperimen Miller tidak lain kecuali dibuat-buat, dan karenanya terbukti tidak benar dalam banyak hal.

Kebatilan Eksperimen Miller
Hampir setengah abad berlalu sejak Miller mengadakan eksperimen ini. Walaupun ternyata batil dalam banyak hal, para evolusionis masih mengajukan Miller dan hasil-hasilnya sebagai bukti mutlak bahwa kehidupan bisa terbentuk seketika dari zat non-hidup. Akan tetapi, bila kita nilai eksperimen Miller secara kritis, tanpa bias dan subyektivitas pemikiran evolusionis, situasinya tidak seoptimis pemikiran evolusionis. Miller menetapkan sendiri tujuannya untuk membuktikan bahwa asam amino bisa terbentuk dengan sendirinya dalam kondisi primitif bumi. Beberapa asam amino dihasilkan, tetapi pelaksanaan eksperimen itu bertentangan dengan tujuannya dalam banyak hal, seperti yang sekarang hendak kita lihat.
 Miller mengisolasi asam-asam amino itu dari lingkungan segera setelah mereka terbentuk, dengan menggunakan mekanisme yang disebut “perangkap dingin”. Kalau ia tidak melakukannya, kondisi lingkungan tempat terbentuknya asam amino akan segera menghancurkan molekul-molekul tersebut.
Sangatlah sia-sia dugaan bahwa mekanisme buatan jenis ini serupa dengan kondisi purba bumi, yang mencakup radiasi ultraviolet, halilintar, berbagai zat kimia, dan oksigen bebas dengan persentase yang tinggi. Tanpa mekanisme semacam itu, segala asam amino yang memang terbentuk akan segera hancur.
 Lingkungan atmosfir purba yang diupayakan tiruannya oleh Miller dalam eksperimennya tidak realistis. Nitrogen dan karbondioksida merupakan unsur atmosfir purba, namun Miller mengabaikannya dan justru memakai metana dan amonia.
Mengapa? Mengapa para evolusionis bertahan pada gagasan bahwa atmosfir primitif mengandung banyak metana (CH4), amonia (NH3), dan uap air (H2O)? Jawabannya sederhana: tanpa amonia, mustahil mensintesiskan asam amino. Kevin McKean membahas hal ini dalam suatu artikel yang terbit di majalah Discover:
Miller dan Urey meniru atmosfir purba bumi dengan campuran metana dan amonia. Menurut mereka, bumi [pada zaman purba itu] sebenarnya merupakan campuran yang homogen dari logam, batu, dan es. Namun dalam penelitian-penelitian mutakhir, terpahami bahwa bumi sangat panas pada waktu itu dan tersusun dari nikel dan dan besi yang membara. Karena itu, atmosfir kimiawi pada masa itu mestinya sebagian besar terbentuk dari nitrogen (N2), karbondioksida (CO2), dan uap air (H2O). Namun ini semua bukan metana dan amonia untuk menghasilkan molekul-molekul organik.14
Setelah lama bungkam, Miller sendiri mengakui bahwa lingkungan atmosfir yang ia manfaatkan dalam eksperimennya tidak realistis.
 Hal penting lain yang membatalkan eksperimen Miller bahwa terdapat cukup oksigen untuk menghancurkan semua asam amino di atmosfir pada saat para evolusionis mengira bahwa asam amino terbentuk. Konsentrasi oksigen ini tentu saja menghalangi pembentukan asam amino. Situasi ini sepenuhnya meniadakan eksperimen Miller, yang melalaikan oksiogen secara total. Seandainya ia menggunakan oksigen di eksperimennya, metana akan terurai menjadi karbondioksida dan air, dan amonia akan terurai menjadi nitrogen dan air.
Di sisi lain, karena belum ada lapisan ozon, tidak mungkin ada molekul organik yang hidup di bumi karena tidak terlindung sama sekali dari sinar ultraviolet yang menyengat.
 Di samping beberapa asam amino yang amat perlu bagi kehidupan, eksperimen Miller juga menghasilkan banyak asam organik dengan karakteristik yang sangat membahayakan struktur dan fungsi makhluk hidup. Jika ia tidak mengisolasi asam-asam amino tersebut dan membiarkan mereka di lingkungan yang sama dengan zat-zat kimiawi ini, kehancuran mereka atau perubahan mereka menjadi campuran yang berbeda melalui reaksi kimia tidak akan terhindarkan. Lebih-lebih, sejumlah besar asam amino non-kidal juga terbentuk. Keberadaan asam-asam amino ini sendiri menyangkal teori [evolusi], bahkan dengan penalarannya sendiri, karena asam amino non-kidal tidak mampu berfungsi dalam komposisi organisme-organisme hidup dan merupakan protein yang tiada guna bila mereka terdapat di komposisi mereka.
Kesimpulannya, keadaan pada waktu terbentuknya asam amino dalam eksperimen Miller tidak layak bagi bentuk-bentuk kehidupan untuk menjadi ada. Media pembentukan mereka adalah campuran asam amino yang menghancurkan dan mengoksidasi segala molekul yang berguna yang mungkin diperoleh.
Para evolusionis itu sendiri sebenarnya membuktikan kesalahan teori evolusi, kendati mereka tidak bermaksud demikian, dengan mengajukan eksperimen ini sebagai “bukti”. Jika eksperimen tersebut membuktikan sesuatu, maka itu adalah bahwa asam amino hanya bisa diproduksi di lingkungan laboratorium yang terkendali yang telah dirancang secara khusus dan disengaja dengan semua kondisi yang diperlukan. Dengan kata lain, eksperimen tersebut menunjukkan bahwa yang menyebabkan kehidupan (termasuk asam amino yang “hampir hidup”) menjadi ada bukanlah kebetulan yang tak disengaja, melainkan kehendak yang disengaja—atau dengan satu kata, Penciptaan. Karena itu, setiap tahap Penciptaan merupakan ayat yang membuktikan kepada kita keberadaan dan kekuasaan Allah.

DNA: Molekul Ajaib
Teori evolusi belum mampu menyediakan penjelasan yang masuk akal perihal keberadaan molekul yang merupakan basis sel. Bahkan, perkembangan ilmu genetika dan penemuan asam nukleik (DNA dan RNA) menimbulkan masalah yang baru sekali bagi teori evolusi.
Pada 1955, karya dua ilmuwan DNA, James Watson dan Francis Crick, meluncurkan era baru biologi. Terdapat banyak ilmuwan yang mengarahkan perhatian mereka ke ilmu genetika. Kini, setelah bertahun-tahun penelitian, ilmuwa-ilmuwan telah banyak memetakan struktur DNA.
Di sini, kami perlu memberi beberapa informasi dasar tentang struktur dan fungsi DNA.
Molekul yang disebut DNA, yang terdapat di inti masing-masing dari 100 trilyun sel di tubuh kita, mengandung rencana konstruksi yang lengkap tentang tubuh manusia. Informasi mengenai karakteristik seseorang, dari tampilan fisik hingga struktur organ dalam, direkam di DNA dengan sistem penyandian istimewa. Informasi di DNA disandi dalam rangkaian empat basis khusus yang menyusun molekul ini. Basis-basis ini ditentukan sebagai A, T, G, dan C menurut huruf awal nama mereka. Semua perbedaan struktural di antara orang-orang bergantung pada variasi rangkaian basis-basis ini. Terdapat sekitar 3,5 milyar nukleotida, yakni 3,5 trilyun huruf di molekul DNA.
Data DNA yang mengenai protein atau organ tertentu tercakup dalam unsur-unsur khusus yang disebut “gen”. Sebagai misal, informasi mengenai mata ada di sederetan gen khusus, sedangkan informasi mengenai jantung ada di sederetan lain. Sel-sel itu menghasilkan protein dengan menggunakan informasi di semua gen ini. Asam amino yang merupakan struktur protein ditentukan oleh tatanan rangkaian tiga nukleotida di DNA.

Dalam hal ini, sebuah rincian penting layak diperhatikan. Suatu kekeliruan di rangkaian nukleotida penyusun suatu gen menyebabkan gen itu tidak berguna sama sekali. Bila kita perhatikan bahwa terdapat 200 ribu gen di tubuh manusia, ini merupakan bukti tambahan betapa mustahil bagi jutaan nukletida yang menyusun gen-gen ini terbentuk secara kebetulan dengan rangkaian yang benar. Seorang biolog evolusionis, Frank Salisbury, mengomentari kemustahilan ini seraya mengatakan:
Protein medium mungkin meliputi sekitar 300 asam amino. Gen DNA yang mengendalikan ini sekitar 1.000 nukleotida di rantai ini. Karena ada empat jenis nukleotida di rantai DNA, yang mengandung 1.000 hubungan bisa ada dalam 41000 bentuk. Dengan menggunakan aljabar kecil (algoritma), kita bisa melihat bahwa 41000 = 10600. Sepuluh dikalikan dengan dirinya sendiri 600 kali menghasilkan angka 1 yang diikuti dengan 600 nol! Bilangan ini jauh di luar jangkauan pemahaman kita.15
Angka 41000 sama dengan 10600. Kita memperoleh bilangan ini dengan menambahkan 600 nol terhadap 1. Karena 10 dengan 11 nol menunjukkan trilyun, bilangan dengan 600 nol memang angka yang sulit untuk dimengerti.
Evolusionis Prof. Ali Demirsoy terpaksa menerima persoalan berikut ini:
Pada kenyataannya, peluang pembentukan acak protein dan asam nukleik (DNA-RNA) terlampau kecil. Kesempatan munculnya serantai protein tertentu saja bersifat astronomik.16
Di samping semua kemustahilan ini, DNA nyaris tidak bisa terlibat dalam suatu reaksi karena bentuk spiral ikatan-gandanya. Ini juga membuatnya mustahil membayangkan bahwa ini bisa menjadi basis kehidupan.
Lebih-lebih, sementara DNA hanya bisa menggandakan diri dengan bantuan beberapa enzim yang pada kenyataannya protein, sintesis enzim-enzim ini hanya dapat terwujud dengan informasi yang disandi di DNA. Karena mereka berdua saling bergantung, mereka harus ada di waktu yang sama untuk penggandaan diri, atau salah satu dari keduanya harus “diciptakan” sebelum yang lain. Jacobson seorang mikrobiolog Amerika mengomentari persoalan ini:
Pengarahan yang lengkap untuk reproduksi rencana, untuk energi dan pencabutan bagian-bagian dari lingkungan mutakhir, untuk pertumbuhan rangkaian, dan untuk mekanisme efektor yang menerjemahkan instruksi menjadi pertumbuhan—semuanya harus hadir secara serempak pada saat itu (ketika kehidupan berawal). Kombinasi peristiwa ini tampaknya dengan luar biasa tidak mungkin kejadian yang kebetulan, dan seringkali dianggap berasal dari intervensi ilahi.17
Kutipan di atas ditulis dua tahun sesudah pengungkapan struktur DNA oleh James Watson dan Francis Crick. Walau terdapat semua perkembangan ilmu tersebut, masalah ini masih tak terpecahkan bagi para evolusionis. Ringkasnya, kebutuhan akan DNA dalam reproduksi, perlunya kehadiran beberapa protein untuk reproduksi, dan persyaratan untuk menghasilkan protein-protein ini menurut informasi di DNA seluruhnya melumpuhkan tesis-tesis evolusi.
Dua ilmuwan Jerman, Junker dan Scherer, menjelaskan bahwa sintesis semua molekul itu memerlukan evolusi kimiawi, membutuhkan kondisi yang khas, dan bahwa peluang pencampuran bahan-bahan ini yang secara teoretis mempunyai metode pemerolehan yang sangat lain adalah nol:
Hingga sekarang, tiada eksperimen yang diketahui bisa mendapatkan semua molekul yang diperlukan untuk evolusi kimiawi. Karena itu, menghasilkan berbagai molekul di tempat-tempat yang berlainan di bawah kondisi yang sangat laik dan kemudian membawa mereka ke tempat lain untuk reaksi dengan melindungi mereka dari unsur-unsur yang berbahaya seperti hidrolisis dan fotolisis adalah perlu.18
Singkatnya, teori evolusi tidak mampu untuk membuktikan semua tahap evolusi yang disangka terjadi pada level molekul.
Kesimpulan dari pembahasan kita sejauh ini, baik asam-asam amino maupun produk-produk mereka, yakni protein-protein penyusun sel-sel makhluk hidup, tidak bisa dihasilkan di segala lingkungan yang disebut “atmosfir primitif”. Lebih-lebih, faktor-faktor seperti struktur protein yang luar biasa rumitnya, corak kidal, non-kidal, dan sulitnya pembentukan ikatan peptida hanyalah sebagian dari alasan-alasan mengapa mereka juga tidak akan pernah dihasilkan di segala eksperimen mendatang.
Meskipun kita memperkirakan sesaat bahwa protein-protein agaknya memang terbentuk secara kebetulan, yang masih tidak berarti, karena protein bukan apa-apa sama sekali dengan sendirinya: mereka tidak bisa mereproduksi sendiri. Sintesis dimungkinkan hanya dengan informasi yang disandi di molekul-molekul DNA dan RNA. Tanpa DNA dan RNA, reproduksi protein mustahil. Rangkaian tertentu duapuluh asam amino yang berbeda yang disandi di DNA menentukan struktur semua protein di tubuh. Akan tetapi, seperti yang telah banyak dijelaskan oleh semua orang yang telah mengkaji molekul-molekul ini, DNA dan RNA mustahil terbentuk secara kebetulan.

FAKTA PENCIPTAAN
Dengan runtuhnya teori evolusi di segala bidang, nama-nama terkemuka di disiplin ilmu mikrobiologi sekarang ini menerima fakta penciptaan dan mulai membela pandangan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh suatu Pencipta dengan sengaja sebagai bagian dari penciptaan yang agung. Telah menjadi fakta bahwa orang-orang tidak bisa mengabaikannya. Ilmuwan-ilmuwan yang dapat mendekati pekerjaan mereka dengan otak terbuka telah mengembangkan suatu pandangan yang disebut “desain cerdas”. Michael J. Behe, salah seorang terkemuka dari ilmuwan-ilmuwan ini, menyatakan bahwa ia menerima mutlak adanya Pencipta dan memerikan kebuntuan mereka yang menyangkal fakta ini:
Hasil dari upaya yang kumulatif untuk menyelidiki sel—menyelidiki kehidupan di level molekul—adalah pekik “desain!” yang keras, jernih, tajam. Hasilnya sangat terang dan sangat bermakna sehingga harus dinilai sebagai salah satu dari prestasi terbesar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Keberhasilan sains ini mesti menimbulkan pekik “Eureka” dari sepuluhribu leher.
Akan tetapi, tiada buka sumbat botol, tiada tepuk tangan. Justru suatu keheningan aneh yang membuat malu di sekitar kerumitan belaka sel. Bila subyek ini muncul di publik, kaki mulai menyeret, dan pernapasan menjadi kembang-kempis. Secara pribadi orang-orang agak lebih santai, banyak yang terang-terangan menerima kejelasan ini namun kemudian menundukkan kepala, bergeleng-geleng, terpana. Mengapa masyarakat ilmiah tidak melahap penemuan ajaibnya? Mengapa observasi desain ditangani dengan sarung tangan intelektual? Dilemanya adalah bahwa kala satu sisi gajah ini dinamai desain cerdas, sisi lainnya harus dinamai Tuhan.19
Hari ini, terdapat banyak orang yang bahkan tidak sadar bahwa mereka dalam keadaan menerima sekumpulan kesesatan sebagai kebenaran atas nama ilmu pengetahuan, bukan beriman kepada Allah. Mereka yang tidak mendapati kalimat “Allah menciptakan anda dari ketiadaan” cukup ilmiah bisa meyakini bahwa makhluk hidup pertama menjadi ada melalui halilintar yang menyambar “kabut purba” milyaran tahun yang lalu.
Sebagaimana telah kami perikan di berbagai tempat di buku ini, keseimbangan alam sangat setimbang dan sangat banyak sehingga tidak rasional sama sekali klaim bahwa alam berkembang “tanpa disengaja”. Tidak peduli berapa banyak orang yang tidak dapat menempatkan diri sendiri bebas dari ketidakmasukakalan yang mungkin diupayakan ini, ayat-ayat Allah di langit dan di bumi gamblang sekali dan tak tersangkal.
Allah ialah Pencipta langit, bumi, dan segala yang di antara keduanya.
Ayat-ayat-Nya memenuhi alam semesta.


FALSAFAH SESAT YANG MENGINGKARI ALLAH

Pada bab-bab terdahulu kita melihat jelas tanda-tanda keberadaan Allah. Tak dapat disangsikan, hal-hal yang telah kami paparkan di buku ini hanyalah sebagian kecil dari bukti ketakterbatasan-Nya. Ke mana pun anda berpaling, anda jumpai benda-benda yang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta.
Lantas, mengapa masih terdapat banyak ateis di bumi ini? Lebih-lebih, mengapa sebagian ilmuwan masih ateis? Mengapa mereka berkeras kepala mengingkari keberadaan Allah, walau amat banyak tanda yang gamblang?
Ketika kami cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, kami jumpai beberapa prasangka filosofis yang menelurkan keyakinan ateistik orang-orang—termasuk ilmuwan-ilmuwan ateis. Pandangan filosofis ini, yang pada umumnya dikenal sebagai materialisme, berpendapat bahwa alam semesta ini kekal dan berjalan sendiri tanpa memerlukan Pencipta. Menurut para ateis, materi merupakan satu-satunya daya yang eksis. Materi tidak diciptakan, tetapi berfungsi dalam suatu kebiasaan yang tak terkendali tanpa campur tangan dari Pencipta. Sejauh ini ada banyak filsuf yang menganut pandangan ini. Terdapat banyak orang, yang mendasarkan diri pada pandangan ini, dari para penganut agama-agama pagan Sumeria kuno sampai filsuf-filsuf atomistik Yunani kuno dan para penganut materialisme dialektis zaman modern, yang mengingkari keberadaan Allah.
Akan tetapi, pengingkaran ini tidak berdasarkan landasan yang kokoh. Mereka sangat yakin akan keabadian materi. Mereka menerima teori evolusi dengan penalaran semacam ini dan meyakininya dengan keras hati. Bila dihadapkan dengan bukti-bukti bahwa kehidupan itu terlalu rumit untuk diadakan secara kebetulan, sebagaimana pernah dinyatakan oleh seorang mikrobiolog Amerika terkenal Michael Behe, mereka hanya terdiam dan mengalihkan tema pembicaraan.
Situasi ini menunjukkan bahwa ada prasangka yang menyebabkan orang-orang ini membelenggu diri-sendiri dengan materialisme dan produk alamiahnya, ateisme. Pengingkaran mereka akan keberadaan Allah tidak berdasarkan penilaian atas bukti-bukti konkret dari sudut pandang obyektif, tetapi sebaliknya, kendati ada fakta-fakta konkret itu.
Selanjutnya, mereka berusaha memaksakan kekafiran mereka itu kepada masyarakat luas.


PARA PENYUSUN “TIPU MUSLIHAT”

Propaganda yang terorganisasi melawan keimanan kepada Allah menunjukkan bahwa pergerakan ini didalangi dari pusat-pusat tertentu. Dengan kata lain, ada sejumlah pusat kekuatan yang sungguh-sungguh berupaya melunturkan iman masyarakat. Tidak mengejutkan, Allah dalam Al-Qur’an telah meminta perhatian kita pada kelompok-kelompok ini. Pada satu ayat, sekelompok orang yang dihukum dengan api neraka di Hari Akhir berteriak kepada pemimpin-pemimpin mereka yang telah menyebabkan mereka sesat di dunia, dan berkata:

Tidak! Itu tipu muslihat (kalian) siang-malam tatkala kalian menyeru kami (terus-menerus) supaya kami kafir kepada Allah dan membuat sekutu-sekutu-Nya! (Surat Saba’, 33)

Kelompok-kelompok ini yang, dengan tipu muslihatnya yang terencana, menyeru kelompok-kelompok lain agar kafir kepada Allah telah muncul dalam sejarah di segala masa dengan nama dan kedok yang berlainan. Namun demikian, sifat dasar mereka selalu sama. Allah memaparkannya di Al-Qur'an sebagai ”orang yang bermewah-mewah” (Surat al-Mu’minuun, 64) atau “pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya” (Surat al-A’raaf, 75), yang berarti bahwa orang-orang ini ialah kalangan hartawan kaya-raya, berkedudukan tinggi di masyarakat, dan memperlihatkan keangkuhan dan kesombongan karena harta-benda mereka. Dengan merasa bahwa keleluasaan mereka yang mereka renggut secara lalim dan menindas itu terancam oleh agama, mereka ingin menyingkirkannya. Karena inilah mereka menyusun “tipu muslihat” dengan tujuan memurtadkan kaum mereka.
Tentu saja tidak mungkin ada definisi yang tunggal mengenai kekuatan-kekuatan yang terorganisasi semacam itu. Mereka menggunakan identitas dan bentuk yang berbeda di masyarakat yang berbeda. Akan tetapi, bila kita lihat sejarah pada tiga atau empat abad terakhir ini, kita dapati suatu organisasi internasional yang cocok dengan deskripsi ayat-ayat Al-Qur’an tersebut.
Organisasi itu ialah freemasonry.
Dalam hal ini kami kami juga perlu menekankan bahwa perjuangan global freemasonry dilaksanakan dan didukung oleh suatu pusat kekuatan yang disebut dalam Al-Qur’an: Yahudi. Kendati agama Yahudi adalah agama ilahi dan orang-orang Yahudi ialah penganut agama ini, mereka memainkan peranan, seperti yang kami sebut di atas, yang penting sekali dalam propaganda anti-agama yang diselenggarakan di segenap penjuru dunia. Ini terutama karena pengubahan Perjanjian Lama secara sewenang-wenang oleh pendeta-pendeta Yahudi dan penyisipan kepercayaan-kepercayaan takhyul ke dalam agama murni yang disiarkan oleh Nabi Musa. Dengan tidak lagi menjadi agama ilahi sebagai akibat dari pengubahan-pengubahan yang dilakukan oleh pendeta-pendeta Yahudi, Yahudi telah menjadi ideologi yang mendunia dan berlebih-lebihan. Pada puncaknya, kalangan Yahudi ultra-konservatif, yang menganggap agama sebagai konsep yang diperuntukkan bagi mereka saja, berpandangan bahwa Nasrani dan Islam merupakan “agama palsu” yang harus dibasmi. Di samping itu, peranan yang menarik ini menyebabkan mereka bertindak sebagai kekuatan yang berusaha sekeras-kerasnya menghapus semua agama dari dunia ini. Inilah alasan kerjasama antara Yahudi dan freemasonry.


PERAN FREEMASONRY
Dengan berakar di dunia Barat, yang kemudian menyebar ke mana-mana, organisasi rahasia ini selalu menjadi sumber pemikiran dan kegiatan yang anti-agama di setiap negara yang disusupinya.
Suatu penyelidikan yang mendalami sejarah peperangan terhadap agama di segala negara di dunia selama beberapa abad terakhir ini mengungkapkan bahwa freemasonry selalu berada di pusat pergerakan semacam ini. Dalam hal ini, sejarah Eropa sungguh jelas sekali. Karena itulah pemimpin umat Katolik, Paus Leo XIII, menuding freemasonry dalam ensiklik terkenalnya, Humanum Genus (1884), yang memaparkan tujuan organisasi itu sebagai berikut:
Pada masa kita, dengan bantuan dan dukungan dari perhimpunan yang disebut freemasonry, yang memiliki organisasi yang luas dan kuat, usaha-usaha dari mereka yang mengabdi kepada kekuatan hitam telah disatukan. Mereka tidak merasa perlu lagi menyembunyikan niat jahat dan perlawanan terhadap Tuhan Yang Mahasuci. Semua tujuan dan usaha para freemason mengarah ke satu maksud: menghapus semua tatanan sosial dan keagamaan Kristiani dan menegakkan suatu sistem aturan baru yang didasarkan pada prinsip-prinsip naturalisme dan pemikiran-pemikiran mereka sendiri.20
Analisis Paus yang dibuat pada akhir abad ke-19 ini mutlak benar. Bila kita perhatikan terbitan masonik mutakhir, kita lihat bahwa tujuan dasar organisasi ini adalah menghapus semua agama di masyarakat. Seorang pengikut freemasonry dalam pamfletnya menyatakan bagaimana agama bisa diberantas melalui “penyebaran ilmu-ilmu positivis ke masyarakat.”
Akhirnya, saya ingin berkata sebagai berikut: Misi Masonik dan paling humanistik yang merupakan tugas kita adalah mencegah peralihan dari nalar dan ilmu positivis, menyebarkannya dengan pengakuan bahwa inilah cara evolusi terbaik dan satu-satunya, dan mangajari publik dengan ilmu-ilmu positivis. Kata-kata berikut ini dari Ernest Renan sangat berharga: “Jika publik diajari dan dicerahkan dengan nalar dan ilmu-ilmu positivis, maka kepercayaan yang sia-sia terhadap agama akan lenyap.”21
Di sini, yang dimaksud dengan “ilmu positivis” pada dasarnya adalah filsafat materialisme yang menolak segala hal yang tidak diperoleh dengan eksperimen dan observasi. Di sisi lain, misi freemasonry adalah memaksakan falsafah ini kepada orang-orang atas nama “ilmu” dan dengan demikian membinasakan kepercayaan agama semuanya. Teori evolusi sangat berperan penting dalam kampanye indoktrinasi ini, sebagaimana yang jelas dibuat di kutipan di atas. Freemasonry berpandangan bahwa mendorong kepercayaan masyarakat terhadap teori evolusi merupakan tugas terbesarnya.
Hubungan keorganisasian ini merupakan faktor yang amat penting yang melandasi alasan mengapa teori evolusi maupun filsafat materialisme dan cabang-cabangnya dikembangkan dengan gigih di seluruh penjuru bumi. Organisasi freemasonry dan cabang-cabangnya berperan penting dalam propaganda sistematis para pendiri sistem filosofis yang beraneka ragam—kadang-kadang bahkan bertolak belakang—yang mengingkari keberadaan Allah itu semuanya orang-orang mason.

PARA FILSUF MASON
Sebagaimana kami sebut di atas, para pendiri sistem filosofis yang anti-agama sebetulnya merupakan bagian dari peperangan yang ditujukan terhadap agama secara sistematis. Karenanya, kita dapati bahwa sebagian besar filsuf yang mendirikan sistem-sistem ini merupakan bagian dari organisasi freemasonry, yang berdiri di tengah kancah pertempuran melawan agama.
Dalam konteks ini, para filsuf yang segera menarik perhatian adalah para cendekiawan Perancis yang merupakan pelopor Revolusi Perancis. Orang-orang ini tidak hanya mengecam pemuka agama, tetapi juga menggerakkan perlawanan yang keras terhadap agama. Di antara mereka ialah Diderot, pengarang The System of Nature, yang diacu sebagai “Bibel Materialisme”; Voltaire, seorang materialis yang berapi-api dan penentang agama; Montesquieu, materialis radikal; Jean-Jacques Rousseau, yang menyusun sendiri suatu agama baru; dan para “Ensiklopedis”, semuanya anti-agama dengan gigih. Sebuah alat propaganda mason Turki, majalah Mimar Sinan, menyebut individu-individu ini:
Revolusi Perancis 1789 disipakan oleh para ideolog Mason. Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia yang menganut prinsip kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan ditulis dengan inspirasi dan tuntunan dari pakar-pakar kita seperti Montesquieu, Voltaire, Rouisseau, dan Diderot.22
Mason Magazine, yang juga diterbitkan oleh para Mason Turki, mencatat:
Para pelopor yang mendobrak sistem feodal di Perancis dan memulai Revolusi Besar ialah Montesquieu, Voltaire, J.J. Rousseau, Diderot si pemuka materialisme, dan para Ensiklopedis yang berada di sekeliling mereka. Mereka semua orang-orang Mason.23
Ide-ide materialistik dan anti-agama yang kian berkembang pada masa seusai Revolusi Perancis itu mencapai puncaknya pada abad ke-19. Bila kita amati pemimpin-pemimipin pergerakan ini, lagi-lagi kita jumpai freemasonry.
Di samping itu, perlu diperhatikan juga, terdapat banyak orang Yahudi di antara tokoh-tokoh itu. Ini menunjukkan, orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan para mason berusaha sekeras-kerasnya untuk melemahkan agama-agama samawi seperti Nasrani dan Islam; mereka menganut pandangan keduniaan yang materialis, yang menyediakan tujuan yang sama, dengan landasan filosofis.


DI BALIK KEDOK SOSIALISME

Sebuah kelompok eksentrik didirikan di Bavaria, Jerman selatan, pada 1776. Pendiri kelompok ini, yang menamakan diri “Illuminati” (Yang Tercerahkan), ialah seorang profesor hukum yang bernama Adam Weishaupt. Perkumpulan ini tertarik pada dua hal: perkumpulan ini sangat rahasia dan telah menyusun program politik yang amat ambisius bagi mereka sendiri. Pada program mereka yang ditulis oleh Weishaupt, dua tujuan pokok perkumpulan ini adalah sebagai berikut:
1. Penghapusan semua kerajaan dan pemerintahan sistematik.
2. Penghapusan semua agama yang berketuhanan (ilahi).
Kelompok ini bersikap sangat memusuhi agama. Weishaupt ialah seorang freemason senior. Ia mengorganisasikannya secara sejalur dengan gaya keorganisasian tradisional masonik. Illuminati tumbuh dengan teramat cepat. Pada 1780, dengan keikutsertaan Baron Von Knigge, salah seorang pemimpin organisasi masonik Jerman terbesar, kekuatan kelompok ini meningkat pesat. Weishaupt dan Knigge meletakkan landasan bagi suatu revolusi di Jerman, sehingga sosialis hanyalah nama. Akan tetapi, ketika pemerintah membuka kedok mereka, Weishaupt dan Knigge dengan cerdik membubarkan perkumpulan ini. Kegiatan-kegiatannya dibaurkan ke dalam organisasi freemason reguler mereka. Pembauran ini berlangusng pada 1782.
Pada awal 1800-an, didirikan sebuah kelompok baru di Jerman yang berusaha melestarikan tradisi Illuminati di Jerman. Nama perkumpulan ini adalah “Perkumpulan Orang-Orang Terjujur”. Di kemudian hari, namanya berubah menjadi “Perkumpulan Para Komunis”. Ketua perkumpulan ini hendak membuat program politik bagi kelompok ini dan dua orang pertama yang diminta untuk menulis program itu ialah dua orang cendekiawan komunis sejati: Karl Marx dan Freederick Engels! Keduanya menulis Manifesto Komunis atas perintah perkumpulan tersebut. Ajaran yang paling dikenal luas dari manifesto ini adalah bahwa agama itu “candu masyarakat” dan risalah ini berpandangan bahwa penyingkiran agama merupakan salah satu dari prasyarat “masyarakat tanpa kelas” yang ideal, yang dipandang sebagai satu-satunya harapan keselamatan manusia. Mesti diperhatikan bahwa Marx dan juga Engels ialah keturunan Yahudi.
Dominasi orang-orang Mason dan Yahudi tersebut dalam pergerakan sosialis itu kemudian berlanjut. Sebagian orang Mason dan Yahudi yang memperjuangkan pergerakan sosialis ialah:
Ferdinand Lasalle: Lasalle, seorang kawan dekat Marx, membela gagasan kediktatoran komunis revolusionis.
Victor Adler: Sebagai tangan-kanan Engels, Adler mengerahkan banyak usaha untuk menyiarkan komunisme. Putranya, Friedrich Adler, menjadi ketua Partai Komunis Austria.
Moses Hess: Dengan dilahirkan dari keluarga konservatif Yahudi, Hess ialah seorang sosialis dan teman dekat Marx. Ia juga seorang zionis yang fanatik. Ia mempelopori pergerakan zionis di Eropa dalam bukunya, Rome and Jerusalem, dan berusaha mendirikan negara Yahudi di Palestina. Ia juga pembela Darwinisme yang gigih sepanjang hayatnya.
Giorgy Lukacs: Lukacs, seorang anggota keluarga Yahudi yang kaya, menulis banyak buku yang membela komunisme. Ia turut menyebarkan ideologi komunisme di kalangan pemuda. Ia seorang tokoh terkemuka dalam revolusi yang mengangkat komunisme ke kursi kekuasaan di Hongaria.
Vladimir I. Lenin: Lenin, seorang Yahudi sebagaimana kebanyakan pemimpin pergerakan Bolshevik di Rusia, menjadi pendiri salah satu dari rejim toteliter yang paling berdarah di dunia.
Herbert Marcuse: Herbert Marcuse, seorang putra dari keluarga Yahudi, menafsirkan kembali Marxisme dan menyiapkan landasan bagi pergolakan mahasiswa 1968. Ia mendorong pergerakan kemahasiswaan kiri yang tersebar di seluruh penjuru dunia dan mengembangkan suatu ideologi anarkis yang menyebabkan—dan masih menyebabkan—kematian banyak pemuda.


SUATU FILOSOFI DAN AGENDA TERSEMBUNYINYA

Kala kita tengok sejarah filsafat, kita lihat terdapat banyak filsuf ateis dan anti-agama lain yang terkenal karena identitas masonik mereka. Di antara mereka ialah pemikir-pemikir seperti David Hume, Holdbach, Schelling, John Stuart Mill, Auguste Comte, the Marquis de Sade, dan sosiolog-sosiolog seperti Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Herbert Spencer, Sigmund Freud, Henry Bergson, dan Erich Fromm. Mereka semua keturunan Yahudi dan mereka semua berusaha keras menjauhkan masyarakat dari agama dan menegakkan suatu tatasosial dan tatamoral yang tidak religius sama sekali. Sudah barang tentu, Charles Darwin dan pandangannya memiliki posisi yang sangat istimewa di kalangan tokoh-tokoh ini.
Hal yang amat perlu diperhatikan di sini adalah bahwa filosofi-filosofi kufur dan materialistik yang dihasilkan oleh para pemikir ini, dan oleh ribuan lainnya yang seperti mereka, melayani kepentingan politik dan sosial tertentu. Sebagaimana yang kami katakan di permulaan, alasan terpenting mengapa orang-orang mengingkari Allah adalah kegelisahan mereka akan agama, yakni agama yang merupakan hasil almiah dari keimanan kepada Allah. Dengan kafir terhadap kebenaran agama karena agama bertentangan dengan kepentingan mereka atau dengan kalangan yang mereka wakili, orang-orang ini mempunyai jalan lain, yaitu ateisme, dengan tujuan mendapatkan dukungan bagi mereka sendiri.
Karena alasan ini, tanda-tanda keberadaan Allah yang gamblang tidak dilihat oleh orang-orang ini. Dengan kata lain, mereka tidak mau melihat ayat-ayat tersebut. Orang-orang ini berusaha mati-matian menghalangi keimanan terhadap keberadaan Allah dan mereka menyebarkan kekufuran ini ke masyarakat umum. Akhirnya, banyak yang terlihat tidak beriman kepada Allah atau sudah “melupakan” Dia seperti tersebut di Al-Qur’an (Surat at-Taubah, 67).
Inilah mengapa kebanyakan orang menjalani kehidupan tanpa menghargai Allah sama sekali, mengira bahwa mereka hidup bebas dari Dia. Namun demikian, kita jangan terpedaya oleh “massa yang sombong” ini, karena Allah telah memberi tahu kita dalam Al-Qur’an bahwa kebanyakan manusia tidak beriman (Surat ar-Ra’du, 1). Ayat berikut ini juga mengingatkan kita mengenai persoalan tersebut:

Kalau engkau ikuti kebanyakan orang di bumi ini, mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya prasangka. Mereka hanya menduga-duga tanpa dasar. (Surat al-An’aam, 116)

(Untuk informasi rinci, lihat: New Masonic Order karya Harun Yahya.)



KEBURUKAN MODEL MASYARAKAT YANG TIADA IMAN KEPADA ALLAH

Allah menyatakan dalam Al-Qur’an, Ia menciptakan manusia menurut kecondongan tertentu dalam ayat:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus ke agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Surat ar-Ruum, 30)

Fitrah manusia adalah mengabdi kepada Allah dan beriman kepada-Nya. Karena manusia tidak mampu memenuhi sendiri keinginan dan kebutuhannya yang tak terbatas, ia secara alamiah perlu merendahkan diri di hadapan Allah dan meminta tolong kepada-Nya.
Jika seorang manusia hidup sesuai dengan fitrah ini, maka ia memperoleh kepercayaan, kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan sejati. Jika ia mengingkari fitrah ini, dan berpaling dari Allah, maka ia menjalani kehidupannya dengan kesusahan, ketakutan, kecemasan, dan kemalangan.
Aturan ini, yang berlaku bagi individu, berlaku juga bagi masyarakat. Bila suatu masyarakat terdiri atas orang-orang yang beriman kepada Allah, maka akan menjadi masyarakat yang berkeadilan, berkedamaian, berkebahagiaan, dan berkebijaksanaan. Tentu saja, yang sebaliknya pun berlaku pula. Bila suatu masyarakat kafir kepada Allah, maka tatanan masyarakat semacam ini pada dasarnya rusak, menyimpang, dan primitif.
Fakta ini segera terlihat manakala masyarakat-masyarakat yang berpaling dari Allah diamati. Salah satu dari produk terpenting dari pikiran yang tidak religius adalah penghapusan konsep akhlak dan pembangunan masyarakat yang menyimpang sepenuhnya. Dengan melanggar batas-batas religius dan moral dan melayani pemenuhan nafsu manusia semata-mata, kebudayaan ini merupakan suatu sistem penindasan dalam arti yang seluas-luasnya. Dalam sistem semacam ini, segala jenis kemunduran mulai dari kelainan seksual hingga kecanduan obat terlarang didorong-dorong. Akhirnya, berkembanglah masyarakat yang tanpa cinta sesama dan bersifat egoistik, keras kepala, dangkal, dan tidak bijaksana.
Di suatu masyarakat yang orang-orangnya hidup hanya demi pemuasan hasrat mereka sendiri, tentu mustahil perdamaian, percintaan, dan persahabatan dilestarikan. Di masyarakat seperti ini, hubungan antara manusia bergantung pada kepentingan yang timbal-balik. Rasa saling curiga berlangsung dengan kuat. Ketika tiada alasan untuk tulus, jujur, bisa dipercaya, atau berbudi mulia, tiada yang suka hidup dalam penipuan, pembohongan, dan pengkhianatan. Para warga masyarakat semacam ini “menempatkan Allah tiada berharga di belakang mereka” (Surat Huud, 92) dan, dengan demikian, tidak pernah mengaku takut kepada Allah. Karena mereka tidak bisa “membuat perkiraan yang tepat perihal Allah”, mereka tidak memikirkan Hari Hisab dan Hari Pembalasan. Bagi mereka, neraka tidak lebih daripada pandangan yang muncul di buku-buku keagamaan. Tak seorang pun dari mereka yang berpikir bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan diri di hadapan Allah sesudah kematian mereka atas segala dosa yang mereka lakukan selama hayat mereka di dunia ini, atau bahwa mereka pada akhirnya bisa dihukum dengan hidup tersiksa di neraka selamanya. Meskipun mereka memikirkannya, mereka menyangka akan masuk surga sesudah “menebus dosa”, sebagaimana yang terungkap dalam ayat ini:

Ini karena mereka berkata, “Neraka takkan menjamah kami, kecuali selama beberapa hari saja;” mereka menipu diri dengan agama yang mereka ada-adakan sendiri. (Surat Aali Imraan, 24)

Dengan demikian, mereka menjalani kehidupan semaksimal mungkin untuk memuaskan hasrat dan kebutuhan mereka sendiri.
Keadaan ini biasanya menyebabkan kemunduran akhlak dan keruntuhan budi yang kita lihat di banyak masyarakat saat ini. Dalam penalaran mereka sendiri mereka menyangka “kita hidup di dunia sekali saja dan hanya selama 50-60 tahun lalu meninggalkannya, maka mari kita isi dengan bersenang-senang.” Sistem pikiran yang didasarkan pada penalaran yang keliru ini mungkin disertai dengan segala jenis kelaliman, prostitusi, pencurian, kejahatan, dan kebejatan. Orang yang berpikiran semacam ini bisa melakukan segala jenis kejahatan, pembunuhan, dan penggelapan. Manakala setiap individu hanya memikirkan pemuasan kebutuhan dan keinginan diri sendiri, semua orang lainnya—termasuk keluarga dan teman-temannya—tidak begitu penting. Individu-individu lain di masyarakat tidak penting sama sekali.
Dalam suatu susunan masyarakat yang terutama berlandaskan pada hubungan kepentingan, kesalingcurigaan di antara orang-orang merintangi pembentukan perdamaian, baik di tingkat masyarakat maupun di tingkat individu, dan ini menyebabkan orang-orang terus-menerus hidup terombang-ambing, gelisah, dan ragu-ragu. Tanpa pengetahuan dengan siapa, kapan, atau bagaimana kebejatan-kebejatan dilakukan di masyarakat-masyarakat semacam ini, orang-orang hidup dengan keadaan jiwa yang amat ketakutan dan menderita. Kecurigaan yang merata menyebabkan mereka hidup dengan sangat menyedihkan. Di suatu masyarakat yang melecehkan nilai-nilai moral, pandangan orang-orang terhadap gagasan-gagasan seperti keluarga, kejujuran, dan kedermawanan, cukup memprihatinkan, karena mereka tidak takut kepada Allah.
Di masyarakat-masyarakat semacam itu, kehidupan orang-orang tidak berdasarkan rasa saling mencintai dan saling menghargai. Para warganya tidak merasa perlu menunjukkan penghargaan satu sama lain. Mereka tidak memperlihatkan sikap saling memperhatikan tanpa penyebab yang baik. Sebetulnya, mereka memang benar, sehubungan dengan penalaran mereka yang bebal, dalam menjalaninya. Mereka diajar sepanjang hayat mereka bahwa mereka berkembang dari hewan dan bahwa jiwa mereka akan lenyap selamanya pada saat mereka meninggal. Karena itu, mereka menganggap sia-sia sikap menghargai raga keturunan kera yang akan membusuk di dalam tanah dan bahwa mereka tidak akan menjumpainya lagi. Dalam logika kotor mereka, “semua orang di samping mereka sendiri akan mati dan dikubur di dalam tanah, mayat mereka akan membusuk dan jiwa mereka akan musna. Jadi, mengapa repot-repot berbuat baik kepada orang lain, dan mengorbankan diri?” Sungguh, pikiran-pikiran semacam ini terdapat di lubuk hati orang-orang yang tidak beriman kepada Allah atau, karena itu, kepada Hari Akhir. Di masyarakat-masyarakat yang tanpa keimanan kepada Allah, tiada landasan untuk kedamaian, kebahagiaan, atau pun kepercayaan.
Dengan semua kalimat tersebut, kami tidak bermaksud menyiratkan bahwa “kerusakan terjadi di masyarakat-masyarakat yang tiada beriman kepada Allah; karena itu, pasti ada keimanan kepada Allah." Allah itu harus diimani karena Ia ada dan siapa saja yang kafir kepada-Nya berdosa besar di hadapan-Nya. Maksud kami mencatat bahwa masyarakat yang tanpa keimanan kepada Allah menjadi rusak adalah menekankan bahwa sudut pandang fundamental masyarakat ini salah. Sudut pandang yang salah ini menyebabkan akibat yang menyakitkan. Suatu masyarakat yang mengerjakan dosa terbesar yang berupa mengingkari Allah pasti akan mengalami akibat terburuk. Akibat-akibat ini perlu diperhatikan karena menunjukkan betapa salahnya masyarakat ini.
Ciri umum masyarakat semacam itu adalah keterpedayaannya seluruhnya. Seperti dinyatkan dalam ayat, “Kalau engkau ikuti kebanyakan orang di bumi ini, mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” (Surat al-An’aam, 116), sebagian besar warga masyarakat sama-sama memiliki watak yang membuat suatu psikologi “massa” yang menguatkan kekufuran yang telah ada. Dalam Al-Qur’an, Allah menganggap masyarakat yang mengabaikan Dia dan Hari Akhir sebagai “bodoh”. Meskipun anggota-anggota masyarakat ini mungkin mengkaji fisika, sejarah, biologi, atau pun ilmu-ilmu lainnya, mereka tida mengerti dan tidak insaf untuk mengakui kekuatan dan kekuasaan Allah. Mereka bodoh dalam pengertian ini.
Karena para warga masyarakat jahiliyah tidak setia kepada Allah, mereka berpaling dari jalan-Nya dengan berbagai cara. Mereka mengikuti orang-orang yang merupakan hamba Allah yang batil sebagaimana mereka sendiri, memandang mereka sebagai panutan dan menganggap gagasan-gagasan mereka sebagai kebenaran mutlak. Pada puncaknya, suatu masyarakat jahiliyah merupakan masyarakat tertutup yang semakin membutakan diri, kian lama kian jauh dari akal dan hati nurani. Seperti yang kami nyatakan di permulaan, aspek yang paling menonjol dari sistem ini adalah bahwa para warga masyarakat semacam ini bertindak seiring dengan indoktrinasi anti-agama.
Dalam Al-Qur’an, Allah memaparkannya dengan perumpamaan yang jelas, bagaimana kehidupan semacam itu, yang berlandaskan pada basis yang rusak dan sia-sia, ditakdirkan untuk binasa:

Manakah yang terbaik? Mereka yang mendirikan bangunannya atas dasar taqwa dan keridaan Allah ataukah yang mendirikan bangunannya di atas tanah pasir di tepi jurang lalu runtuh bersamanya ke dalam api neraka? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka yang zalim. (Surat at-Taubah, 109)

Namun demikian, ada hal lain yang harus diingat: setiap masyarakat dan semua orang berkesempatan untuk melepaskan diri dari indoktrinasi, jalan hidup dan filosofi jahiliyah. Allah mengutus para rasul kepada mereka untuk mengingatkan mereka dan memberitahu mereka keberadaan Allah dan Hari Akhir dan yang mengatakan kepada mereka makna hakiki kehidupan. Dan bersama-sama para rasul-Nya, Ia mengirim kitab suci yang menjawab semua pertanyaan yang berasal dari lubuk hati manusia. Inilah hukum Allah yang sudah ada sejak semula. Pada zaman ini, pedoman semua orang adalah Al-Qur’an, yang menunjukkan jalan yang benar dan membawa manusia dari kegelapan ke cahaya. Orang-orang akan diadili menurut pilihan mereka sendiri. Jadi, Rasul yang membawa kitab kepada orang-orang menyeru mereka:

Katakanlah: “Hai manusia! Sekarang kebenaran sudah datang kepadamu dari Tuhanmu. Barangsiapa menerima petunjuk, maka itulah petunjuk yang baik untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa tersesat, maka ia menyesatkan dirinya sendiri; dan aku tidak mewakili kamu.” (Surat Yuunus, 108)



RUMAH MASA DEPAN: AKHIRAT

Pati merupakan bukti bagi siapa saja yang berakal dan berhati nurani bahwa tak satu pun dari obyek yang ada, tak satu pun dari peristiwa yang terjadi, dan tak satu pun dari hukum yang berlaku di alam semesta ini yang sia-sia atau pun tanpa tujuan. Susunan dan dayatahan alam semesta, sebagaimana yang kami perlihatkan di bab-bab terdahulu, didasarkan pada keseimbangan yang sangat sebanding. Keseimbangan-keseimbangan ini, sebagai bahan bukti yang tak terbantahkan, menunjukkan bahwa alam semesta DICIPTAKAN. Dengan demikian, bisakah dinyatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dengan sia-sia?
Tentu saja tidak.
Di dalam tindakan terkecil pun yang dilakukan oleh orang yang tinggal di bumi yang sekecil partikel debu di antara trilyunan galaksi, terdapat tujuan. Jadi, masuk akalkah pernyataan bahwa seluruh alam semesta diciptakan dengan sia-sia?
Allah mengabarkan bahwa manusia tidak diciptakan dengan sia-sia:

Adakah kamu mengira Kami menciptakan kamu sia-sia, dan kamu tidak akan kembali kepada Kami? (Surat al-Mu’minuun, 115)

Kehidupan di bumi dimungkinkan keberadaannya oleh serangkaian fenomena ajaib yang tak terhitung dari Ledakan Dahsyat hingga atom, dari atom hingga galaksi, dan dari galaksi hingga planet kita sendiri. Segala kebutuhan hidup di bumi kelihatannya direncanakan dengan seksama dan diciptakan dengan cara yang paling sesuai: matahari di angkasa yang menyediakan semua energi yang dibutuhkan, persediaan yang tersimpan di bawah tanah, dan suatu dunia yang di mana-mana dilengkapi dengan jutaan aneka spesies tumbuh-tumbuhan dan binatang. Walaupun ada peristiwa-peristiwa luarbiasa seperti tersebut, orang-orang mungkin masih menyangkal keberadaan Allah. Dengan beranggapan secara masuk-akal bahwa manusia terbentuk dari sperma, orang-orang ini tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan kembali sesudah mati sebagaimana dikabarkan dalam Al-Qur’an, dan berkomentar yang tidak relevan. Dalam Al-Qur’an Allah telah menunjukkan penalaran orang-orang kafir yang berbelit-belit dan memberi mereka jawaban:

Dan Ia membuat perumpamaan tentang Kami dengan melupakan asal kejadiannya sendiri; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang sudah hancur-luluh?” Katakanlah, “Yang akan menghidupkannya, Yang menciptakannya pertama kali! Dia Mahatahu akan segala penciptaan.” (Surat Yaasiin, 78-79)

Allah—“Yang menjadikan mati dan hidup”—menciptakan segala sesuatu di alam semesta untuk tujuan tertentu dan telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia: "supaya Dia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya di antara kamu ; dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun." (Surat al-Mulk, 2). Sebagaimana yang dijelaskan di ayat ini, dunia ini tempat pengujian dan sementara. Ada akhir riwayat manusia di samping akhir riwayat dunia, yang waktunya ditakdirkan oleh Allah. Manusia berkewajiban menjalani kehidupan singkat yang dianugerahkan kepada mereka menurut syarat-syarat yang ditetapkan oleh Allah dan dipaparkan kepada mereka dalam Al-Qur’an. Di hari akhir, mereka pasti diganjar atas segala perbuatan mereka di sini.
AZAB ABADI

Di buku ini kami telah memerikan tanda-tanda yang nyata perihal keberadaan Allah, pembela sistem-sistem yang didasarkan pada penolakan terhadap Allah, dan jenis konteks sosial yang hendak mereka tegakkan. Segala hal yang kita bahas sejauh ini berkaitan dengan "kehidupan di dunia ini". Akan tetapi, apa yang terjadi sesudah kematian, yakni "Hari Akhir", juga pantas dipertimbangkan dengan kritis.
Mereka yang bersusah-payah untuk memajukan sistem-sistem yang terutama bersandar pada kekufuran kepada Allah itu menawarkan kehidupan yang penuh kesusahan bagi para penganutnya di bumi ini. Orang-orang ini juga akan menyebabkan pengikut mereka menderita hukuman yang memilukan di Hari Akhir. Di sana mereka sama sekali tidak menunjukkan perhatian yang teliti yang dahulunya mereka perlihatkan kepada orang-orang bodoh yang mengikuti mereka di dunia. Sebaliknya, di sana, mereka hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, seperti dinyatakan dalam ayat berikut ini:

Sekiranya setiap orang yang berbuat zalim memiliki segala yang ada di bumi, tentu ia gunakan untuk menebus dirinya. ... (Surat Yuunus, 54)

Sikap mereka yang memperjuangkan kekufuran di dunia ini diungkapkan juga di ayat lain:

... Setiap kali masuk suatu golongan ia mengutuk saudaranya, sehingga ketika semua sudah saling menyusul ke dalamnya, kata mereka yang belakangan tentang yang sudah terlebih dulu, “Tuhan, merekalah yang menyesatkan kami. Jatuhkanlah azab berlipat ganda terhadap mereka dalam api neraka.” Ia berfirman, “Semua dua kali lipat, tetapi kamu tidak tahu.” Lalu yang terlebih dulu berkata kepada yang belakangan, “Kamu tiada mempunyai kelebihan atas kami. Maka rasakanlah azab atas segala yang kamu perbuat!” (Surat al-A’raaf, 38-39)

Jadi, sebenarnya tidak terdapat banyak perbedaan antara para pendahulu kekufuran dan orang-orang yang menyusul di belakang mereka. Sebagai hasilnya, kedua kelompok ini menderita kerugian banyak dan layak mendapat azab abadi atas dosa-dosa yang mereka kerjakan di dunia. Dalam Al-Qur’an, Allah telah merinci suasana dan keadaan yang akan dialami oleh orang-orang ini dan azab yang akan mereka derita di hari kiamat, hari hisab, dan di neraka.


HARI KIAMAT

Kala Allah menyebut hari kiamat di Al-Qur’an, Ia menyebutnya “hari ketika si penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang asing ...” (Surat al-Qamar, 6). Kengerian pada hari itu adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh umat manusia karena mereka belum pernah menghadapi sesuatu yang menyerupainya.
Hanya Allah yang mengetahui tibanya waktu hari itu. Pengetahuan manusia mengenai hari itu terbatas pada hal-hal yang terkait dalam Al-Qur’an. Hari kiamat akan datang secara tiba-tiba tatkala tak seorang pun mengharapkannya.
Hari tersebut bisa mencekam orang-orang manakala mereka bekerja di kantor, tidur di rumah, berbicara di telepon, membaca buku, tertawa, menangis, atau pun mengantar anak-anak ke sekolah. Lebih lanjut, cekaman ini akan amat menakutkan melebihi segala kengerian yang pernah ada di dunia.
Hari kiamat berawal dengan peniupam trumpet (Surat al-Muddatstsir, 8-10). Tatkala suara ini diperdengarkan di seluruh penjuru dunia, mereka yang tidak memamfaatkan waktu yang dikaruniakan kepada mereka oleh Allah untuk memperoleh rida-Nya akan dicekam oleh ketakutan yang dahsyat. Dalam Al-Qur’an, Allah memaparkan peristiwa menakutkan yang akan terjadi pada hari itu:

Tidak, hari akhirat sudah dijanjikan untuk mereka; dan saat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (Surat al-Qamar, 46)

Ayat Al-Qur’an menunjukkan, peniupan trumpet itu diikuti dengan gempa dahsyat dan gemuruh keras yang memekakkan telinga. Dalam kehebohan hiruk-pikuk ini, gunung-gunung mulai goncang dan rontok dengan bumi di bawahnya. (Surat al-Zalzalah, 1-8).

Gunung-gunung remuk-redam dan menjadi debu-debu yang berhamburan (Surat al-Waaqi’ah, 5). Pada saat itu, orang-orang menjadi mengerti betapa remehnya hal-hal yang sampai sekarang mereka puja. Semua nilai-nilai kebendaan yang mereka buru selama kehidupan mereka tiba-tiba lenyap.
Maka, bila datang malapetaka besar, pada hari kala manusia ingat segala yang telah diusahakannya, dan api neraka ditampakkan buat siapa saja yang melihat. (Surat an-Naazi’aat, 34-36).

Pada hari itu, gunung yang terbuat dari batu, tanah, dan karang pun luruh laksana kayu tersisir (Surat al-Qaari’ah, 5). Manusia menjadi sadar, kekuatan ini bukan kekuatan alam. Ini karena pada hari itu, alam pun diratakan. Semua kejadian pada hari itu sangat menakutkan dan mengerikan. Manusia, binatang, dan alam, semuanya dicekam oleh kengerian ini. Manusia melihat lautan meluap (Surat al-Infithaar, 3) dan membara (Surat at-Takwiir, 6).
Langit mulai goyang sebagaimana bumi dan mulai koyak, dengan suatu cara yang sampai sekarang tak tersaksikan. Biru cerah warna langit yang biasanya terlihat oleh manusia berubah dan menyerupai lelehan perak (Surat al-Ma’aarij, 8). Pada hari itu, segala benda di langit yang biasanya memberi penerangan tiba-tiba padam; matahari digulung (Surat at-Takwiir, 1), bulan dibelah (Surat al-Qamar, 1), dan matahari dan bulan disatukan (Surat al-Qiyaamah, 9).
Perempuan-perempuan hamil mengalami keguguran karena ketakutan yang mencekam pada hari itu. Ketakutan semacam ini pula yang menyebabkan anak-anak menjadi beruban (Surat al-Muzzammil, 17). Anak-anak menjauh dari ibu-ibu mereka, istri-istri dari suami-suami mereka, dan keluarga-keluarga saling menjauh. Allah memberitahukannya dalam Al-Qur’an:

Lalu bila datang kebisingan yang memekakkan telinga, hari itu orang akan lari dari saudaranya, dari ibunya dan dari bapanya, dan dari istri dan anak-anaknya. Masing-masing hari itu sibuk mengurus diri sendiri. (Surat ‘Abasa, 33-37)


HARI HISAB

Sehabis semua kejadian itu berlangsung di hari kiamat seperti terpapar di atas, "trumpet" diperdengarkan untuk kedua kalinya. Suara ini menandai awal hari kebangkitan kembali semua orang. Hari itu penuh dengan orang-orang yang bangun dari makam masing-masing yang barangkali telah mengubur mereka ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Kebangkitan kembali manusia pada hari itu dan keadaan bising yang akan mereka alami diungkapkan oleh Al-Qur’an :
Dan sangkakala pun ditiup, tiba-tiba dari pusara-pusara mereka bermunculan serentak menuju Tuhan. Mereka berkata, "Wahai celakalah kami ! Siapakah yang membangunkan kami ini dari tempat tidur kami?” (Ada suara yang akan berkata,) “Inilah yang dijanjikan oleh Yang Maha Pemurah, dan benar jugalah kata-kata para rasul!” Itu hanyalah dengan sekali suara yang dahsyat, tiba-tiba mereka pun muncul di hadapan Kami. Maka pada hari ini tak ada orang yang akan dirugikan sedikit pun, dan kamu akan mendapat balasan sesuai dengan perbuatanmu dulu. (Surat Yaasiin, 51-54)
Pada hari itu, semua hal yang manusia menolak memikirkannya, yang manusia tidak mau mengerti, dan yang manusia lari darinya, terbentang lebar-lebar. Mereka tidak dapat menghindar atau pun menyangkalnya lagi.
Saat itu orang-orang ini, dengan wajah yang membayangkan kehinaan, dan kepala tertunduk, muncul dari makam dan berkumpul, bumi memancarkan cahaya dan kitab setiap orang dibawakan satu demi satu dan diberikan kepadanya.
Pada hari kumpul ini, kala berbondong-bondong orang yang sampai sekarang tak terlihat bersama-sama, kondisi orang beriman dan orang kafir jelas-jelas berbeda. Dalam Al-Qur’an, hal ini ditunjukkan sebagai berikut:

Adapun orang yang diberi catatannya di tangan kanannya, ia akan berkata, “Ambillah! Bacalah catatanku olehmu! Aku sudah mengira bahwa aku akan menerima perhitunganku (Surat al-Haaqqah, 19-21)

Adapun orang yang diberi catatannya di tangan kirinya, ia akan berkata, “Wahai! Coba aku tidak diberi catatan ini! Aku tidak tahu bagaimana perhitunganku. Wahai! Cobalah kematian cukup menyudahi aku! Harta kekayaanku tak bermanfaat bagiku. Kekuasaanku pun hancur semua. (Surat al-Haaqqah, 25-29)

Pada hari itu, tak satu pun orang yang diperlakukan zalim. Semua orang diganjar setara dengan perbuatannya di dunia. Bagi orang-orang yang tidak beriman, hari itu sangat mengerikan; hari itu kehidupan yang abadi di neraka dipastikan bagi mereka.
Ayat-ayat berikut ini mengungkap dengan jelas apa yang akan terjadi di hari hisab pada orang-orang yang berkeras kepala mengingkari Allah sepanjang hayat mereka dan orang-orang yang mengikuti tamu-tamu hari hisab yang sia-sia berpamrih:
Sangkakala ditiup, maka segala yang ada di langit dan yang ada di bumi pingsan, kecuali yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiup sekali lagi, tiba-tiba mereka tegak berdiri dan menunggu.
Dan bumi memancarkan cahaya Tuhannya; Kitab (catatan perbuatan) akan diletakkan (terbuka); para nabi dan saksi-saksi akan didatangkan; dan dijatuhkanlah keputusan yang adil di antara mereka; dan mereka pun tak akan dirugikan.
Dan setiap orang akan dibalas sepenuhnya apa yang sudah dikerjakannya; dan Dia tahu apa yang mereka kerjakan.

Orang-orang kafir dibawa ke neraka secara berbondong-bondong; hatta, bila mereka sudah sampai, pintu-pintunya dibuka, dan penjaga-penjaganya berkata, "Bukankah para rasul dari kalanganmu sendiri sudah datang kepadamu membacakan ayat-ayat Tuhanmu dan mengingatkanmu tentang pertemuanmu hari ini ?" Mereka menjawab, "Memang," (Kepada mereka) dikatakan, “Masuklah kamu ke pintu-pintu gerbang jahanam, tinggal di dalamnya; sungguh buruk tempat orang yang sombong.” (Surat az-Zumar, 68-72)


NERAKA

Dosa terbesar yang mungkin dilakukan adalah durhaka kepada Allah, Pencipta dan Pemberi Hidup. Dengan diciptakan sebagai hamba Allah, manusia, bila bertentangan dengan tujuan penciptaannya, secara alamiah pantas dihukum sesuai dengan dosanya. Nerakalah tempat pemberlakuan hukuman ini. Kebanyakan manusia menjalani kehidupannya dengan terlena tanpa memikirkan hal ini sama sekali. Salah satu alasan terpenting keterlenaan ini adalah ketidakmampuan untuk membuat penaksiran yang benar mengenai Allah. Terdapat banyak orang yang menghargai Allah karena sifat belas kasih, pemurah, dan pemaaf; mereka tidak merasakan takut yang mendalam hingga lubuk hati sebagaimana yang seharusnya. Ini menyebabkan orang-orang ini tidak peka terhadap perintah dan anjuran Allah. Mengenai bahaya ini, Allah telah mengingatkan manusia pada khususnya dalam Al-Qur’an:

Hai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutlah kamu pada hari bila seorang ayah kelak tidak lagi berguna bagi anaknya dan seorang anak tidak lagi berguna sedikit pun bagi ayahnya. Sungguh, janji Allah benar. Maka janganlah kamu tertipu oleh kehidupan dunia, dan ajngan sampai penipu utama menipu kamu tentang Allah. (Surat Luqmaan, 33)

Allah, pemilik sifat-sifat dan nama-nama terindah, memang pengasih, pemurah, dan pemaaf. Akan tetapi, harus diingat bahwa di samping itu Allah senantiasa Adil, Penakluk segalanya, dan Pemaksa; bahwa Allah dekat dengan orang-orang mukmin namun jauh dari pemuja-pemuja berhala, orang-orang kafir, dan orang-orang munafik; bahwa Dialah Pembalas perbuatan; dan bahwa neraka adalah tempat kesempurnaan perwujudan sifat-sifat-Nya yang terakhir ini.
Orang-orang mempunyai kepercayaan takhyul mengenai pokok persoalan ini karena beberapa alasan. Mereka menganggap bahwa sesudah mereka mati, mereka akan berada di neraka untuk menebus dosa-dosa yang mereka lakukan di dunia, tetapi akan naik ke surga seusai hukuman ini selesai dan akan tinggal di sana selamanya. Namun ternyata, dalam Al-Qur’an Allah memberi tahu kita bahwa baik kehidupan di neraka maupun di surga akan berlangsung kekal dan tak seorang pun akan dikeluarkan dari situ kecuali atas kehendak Allah:
Dan mereka berkata, “Api neraka tidak akan menyentuh kami selain untuk beberapa hari saja.” Katakanlah, “Sudahkah kamu memperoleh janji dari Allah, karena Dia tidak akan pernah mengingkari janji-Nya, ataukah kamu berkata tentang Allah yang tiada kamu ketahui?” Bahkan barangsiapa melakukan kejahatan dan ia sudah dilingkari dosanya, itulah penghhuni neraka; di sana mereka tinggal selamanya.
Di sana mereka akan mengalami siksaan-siksaan seperti api, panas, gelap, asap, sempit, buta, terdesak, lapar, haus, air nanah, air mendidih, dan racun pohon zaqqum. Di samping azab lahiriah, mereka juga akan menderita siksaan batiniah yang keras yang menimpa hatinya (Surat al-Humazah, 5-9). Siksaan mengerikan di neraka yang akan dijalani oleh orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah dipaparkan secara rinci dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat Al-Qur’an mengungkap betapa penting pokok persoalan ini bagi manusia. Kemurkaan neraka sedemikian besar sehingga tidak bisa dibandingkan dengan segala derita di dunia ini. Dalam Al-Qur’an, Allah memaparkan babak-akhir mengerikan yang akan dialami oleh orang-orang kafir:

Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dicampakkan ke tempat yang akan melumatkan. Dan apa yang membuat engkau tahu tempat yang melumatkan? (Itulah) api Allah yang dinyalakan, yang akan naik sampai ke hati, yang akan menyelubungi mereka, di tiang-tiang yang menjulur panjang. (Surat al-Humazah 4-9)

Wajah-wajah hari itu tunduk merendah, bekerja keras meletihkan, sementara mereka masuk ke dalam api menyala, diberi minuman dari mataair mendidih. Tak ada makanan buat mereka selain dari dharii’, yang tidak akan menyehatkan dan membebaskan orang dari kelaparan. (Surat al-Ghaasyiyah, 2-7)

Kami sediakan buat orang-orang kafir rantai, belenggu, dan api membara. (Surat al-Insaan, 4)

Inilah neraka jahanam yang didustakan oleh orang-orang durjana. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air panas mendidih. (Surat ar-Rahmaan, 43-44)

Tetapi mereka yang kafir, bagi mereka hanyalah api neraka; tak ada batas waktu yang ditentukan sampai mereka mati, juga hukuman tidak akan diperingan bagi mereka. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang tiada bersyukur. Di situ mereka berteriak keras-keras, “Tuhan, keluarkanlah kami; kami akan berbuat amal kebaikan; tidak seperti yang sudah kami lakukan!”—“Bukankah Kami sudah ememberi kamu umur panjang supaya dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir; dan orang yang memberi peringatan sudah datang kepadamu. Maka rasakanlah (hasil perbuatanmu). Bagi orang yang zalim tak ada penolong.” (Surat Faathir, 36-37)

Mereka yang dikumpulkan ke neraka menurut keburukan mereka, itulah tempat yang paling buruk dan jalan yang sangat menyesatkan. (Surat al-Furqaan, 34)

Bila (api neraka) itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara geram dan menghembus napas. Dan bila mereka dilemparkan ke dalam tempat yang sempit, di sana mereka memohon dibinasakan. “Jangan hari ini kamu memohonkan sekali kehancuran, tapi mohonlah kehancuran yang berulang-ulang.” (Surat al-Furqaan, 12-14)


RUMAH YANG DIJANJIKAN BAGI ORANG BERIMAN: SURGA

Tiada seorang pun tahu cendera mata apa yang masih tersembunyi bagi mereka—sebagai balasan atas amal kebaikan yang mereka lakukan. (Surat as-Sajdah, 17)

Surga adalah tempat yang dijanjikan bagi kaum mukminin atas keimanan mereka kepada Allah dan ketaatan mereka kepada-Nya. Surga, sebagaimana terpapar dalam banyak ayat, merupakan tempat yang diselimuti dengan aneka jenis berkah dan merupakan tempat tinggal kebahagiaan abadi. Allah menghadiahkan surga bagi orang-orang yang beriman sebagai pahala atas amal mereka di dunia.
Surga adalah tempat pengungkapan sifat pemurah Allah (kemurahan yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman kepada Yang Maha Pemurah, Yang mengganjar orang-orang yang menggunakan berkah-Nya dengan tepat dengan berkah lain yang abadi dan lebih unggul). Karena itu, surga merupakan rumah kebahagiaan yang mengandung segala hal yang mungkin diinginkan oleh jiwa manusia melebihi paparan ayat-ayat tersebut.
Dalam benak sebagian manusia, kata “surga” membangkitkan pikiran yang agak terbatas, karena mereka menduga surga tempat keindahan alamiah belaka, seperti taman ria. Akan tetapi, surga yang merupakan pikiran ini amat berbeda dengan surga yang terpapar dalam Al-Qur’an.
Dalam Al-Qur’an, surga dipaparkan sebagai tempat yang mengandung segala yang mungkin dikehendaki oleh manusia:

Diedarkan kepada mereka pinggan dan piala emas; di dalamnya ada yang menjadi idaman dan sedap dipandang mata; dan kamu akan kekal di dalamnya. (Surat az-Zukhruf, 71)

Di ayat lain, kita diberi tahu bahwa di surga bahkan terdapat lebih dari yang bisa diinginkan oleh manusia:

Segala yang mereka inginkan ada di dalamnya, dan ada tambahan dari Kami Sendiri. (Surat Qaaf, 35)

Dengan kata lain, berlawanan dengan kepercayaan umum, surga menawarkan berkah yang berlimpah, berkah yang belum terlihat oleh manusia sepanjang hayat mereka di dunia ini dan bahkan tak terbayangkan oleh mereka. Orang-orang beriman akan diberi pahala kehidupan kekal di surga atas ketaatan mereka kepada Allah semasa hidup di dunia dan atas jalan hidup mereka yang menuruti kehendak-Nya.
Surga yang dijanjikan bagi orang-orang beriman ini dijelaskan dalam berbagai ayat:
Dan sampaikan berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik bahwa bagi mereka tersedia taman-taman surga, di dalamnya mengalir sungai; setiap waktu mereka mendapat rizki berupa buah-buahan, mereka berkata, “Rizki inilah yang dulu diberikan kepada kami,” karena mereka pernah mendapatkan yang serupa; dan bagi mereka di sana ada pasangan-pasangan yang suci bersih; dan di sana mereka tinggal selamanya. (Surat al-Baqarah, 25)

Orang yang bertakwa berada di taman-taman dan matair (air bersih yang melimpah). (Akan disambut dengan) “Masuklah dengan damai dan aman.” Dan akan Kami cabut dari hati mereka segala rasa dendam; (mereka akan) bersaudara saling berhadapan di atas singgasana (kemuliaan). Tak ada rasa letih menghinggapi mereka, dan tidak (pernah) disuruh keluar. (Surat al-Hijr, 45-48)

Bagi merekalah taman-taman bahagia yang abadi, yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; mereka akan dihiasi dengan gelang emas, dan mereka akan mengenakan pakaian hijau dari sutera halus dan brokat tebal; mereka di sini bersandar di atas peterana. Sungguh balasan yang baik! Sungguh tempat istirahat yang indah! (Surat al-Kahfi, 31)

Sungguh, penghuni surga hari itu dalam kesibukan yang menyenangkan. Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada di tempat yang teduh, bersandar di atas singgasana (kehormatan). Buah-buahan tersedia bagi mereka, dan akan mereka dapatkan segala yang mereka inginkan. “Salam!”, sebuah firman (sapaan) dari Tuhan, Maha Pengasih. (Surat Yaasiin, 55-58)

Adapun mereka yang bertakwa berada di tempat yang aman, di taman-taman dan mataair; mengenakan pakaian sutera halus dan brokat; mereka akan saling berhadapan. Demikianlah, dan Kami pertemukan mereka berpasang-pasangan dengan yang bermata indah, besar, dan berkilau. Di sana mereka dapat meminta buah-buahan dengan aman. Di sana mereka tak akan mengalami kematian lagi, selain kematian yang pertama; dan mereka dilindungi dari siksa api neraka, suatu karunia dari Tuhanmu; itulah kemenangan yang besar. (Surat ad-Dukhaan, 51-57)

Tetapi mereka yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan akan Kami beri tempat kediaman di surga, tempat kediaman yang tinggi, di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal di dalamnya; itulah pahala terbaik bagi orang yang beramal! (Surat al-‘Ankabuut, 58)


PERINGATAN BAGI MEREKA YANG AKAN DISELAMATKAN

Setiap orang tentu saja bebas untuk hidup sesuai dengan keinginannya di dunia ini dan untuk memilih jalan yang ia kehendaki. Tak seorang pun berhak untuk memaksa orang lain. Namun, sebagaimana orang-orang yang meyakini keberadaan Allah dan keadilan-Nya yang abadi, tugas suci kita adalah mengingatkan orang-orang yang menolak Allah dan yang tidak menginsafi keadaannya sekarang. Allah mengabari kita keadaan orang-orang ini yang sungguh perlu diperhatikan:

Manakah yang terbaik? Mereka yang mendirikan bangunannya atas dasar takwa dan keridaan Allah, ataukah yang mendirikan bangunannya di atas tanah pasir di tepi jurang lalu runtuh bersamanya ke dalam api neraka? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka yang zalim. (Surat at-Taubah, 109)
Orang-orang yang dengan sengaja berpaling dari firman-firman Allah, atau yang dengan tak insaf menolak Pencipta mereka, tidak akan diselamatkan sama sekali di Hari Akhir. Jika mereka tidak bertobat dan diberi hidayah oleh Allah, Yang menciptakan mereka, maka mereka akan dikenai hukuman seberat-beratnya. Azab abadi yang menunggu mereka dinyatakan dalam Al-Qur’an:

Tetapi mereka yang ingkar terhadap ayat-ayat Kami, mereka itulah golongan kiri. Mereka akan di neraka yang terkurung rapat. (Surat al-Balad, 19-20)

Cara menyelamatkan diri dari azab abadi dan untuk mendapatkan surga yang kekal adalah jelas:
Berimanlah kepada Allah dengan tulus sebelum terlambat.
Jalanilah kehidupan untuk mencari keridaan Allah.

PEMAHAMAN MATERI YANG TIDAK MATERIALIS

Orang yang dengan sadar dan bijaksana merenungkan keadaan sekitarnya akan menyadari bahwa segala benda di alam semesta—baik yang hidup maupun yang mati—pasti diciptakan. Pertanyaannya adalah "Siapa Pencipta semua benda ini?"
Terbukti bahwa “fakta penciptaan”, yang dengan sendirinya mengungkap di setiap aspek alam semesta, bukan merupakan hasil dari alam semesta sendiri. Contohnya, hama atau kutu tidak dapat menciptakan diri sendiri. Sistem matahari tidak dapat menciptakan atau mengatur diri sendiri. Demikian juga dengan tanaman, manusia, bakteri, erythrocytes (corpuscles yang berdarah merah), atau pun kupu-kupu. Bahkan tidak terbayang sama sekali bahwa semua ini ada “secara kebetulan”.
Karena itu, kami tiba pada kesimpulan berikut: Segala sesuatu yang kita lihat telah diciptakan, tetapi tidak ada yang terlihat sebagai “pencipta” diri-sendiri. Sang Pencipta berbeda dari dan lebih unggul daripada semua yang kita lihat dengan mata kita, suatu kekuatan superior yang tidak kelihatan tetapi yang keberadaannya dan sifat-sifatnya ditunjukkan dalam segala hal yang ada.
Inilah keberatan bagi orang-orang yang menolak keberadaan Allah. Orang-orang ini terkondisi tidak beriman atas keberadaan-Nya kecuali jika mereka melihat-Nya sendiri. Orang-orang ini, yang mengabaikan fakta “penciptaan” terpaksa mengabaikan keadaan makhluk sebenarnya yang terwujud di seluruh alam semesta dan berupaya membuktikan bahwa alam semesta dan makhluk hidup tidak diciptakan. Teori evolusi merupakan contoh penting upaya mereka yang sia-sia sampai akhir ini.
Kesalahan dasar orang-orang yang menolak Allah terdapat pada banyak orang yang tidak sungguh-sungguh menolak adanya Allah tetapi memiliki persepsi yang salah tentang Allah. Mereka tidak menyangkal penciptaan tetapi dalam keyakinan takhayulnya tentang “di mana” Allah. Sebagian besar dari mereka mengira bahwa Allah ada di atas “langit”. Mereka diam-diam membayangkan bahwa Allah ada di belakang planet yang sangat jauh dan pernah mencampuri “urusan duniawi” sekali, atau mungkin tidak turut campur sama sekali. Mereka membayangkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan kemudian meninggalkannya untuk berfungsi sendiri, meninggalkan manusia untuk menentukan nasib mereka sendiri.
Adapun sebagian lainnya telah mendengar, tertulis dalam Al-Qur'an bahwa Allah ada “di mana-mana”, tetapi mereka tidak dapat meyakini arti sebenarnya. Mereka mengira bahwa Allah mengitari segala hal seperti gelombang radio atau seperti gas yang tidak kelihatan dan tidak berwujud.
Akan tetapi, keyakinan ini dan keyakinan lain yang tidak dapat menjelaskan “di mana” Allah berada (dan mungkin karena menolak Allah) semuanya berdasarkan pada kesalahan lazim. Mereka berprasangka tanpa landasan apa pun dan kemudian beralih pada opini yang salah tentang Allah. Prasangka apa?
Prasangka ini mengenai hakikat dan sifat zat. Kita sedemikan terkondisi dalam pemikiran takhyul kita tentang keberadaan zat sehingga kita tidak pernah berpikir apakah materi itu ada ataukah tidak ada atau hanya bayang-bayang. Ilmu pengetahuan modern menghancurkan prasangka ini dan membuka dan menunjukkan kenyataan penting ini. Di halaman-halaman berikut, kami akan berupaya menjelaskan kenyataan besar ini yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an.


DUNIA SINYAL-SINYAL LISTRIK

Semua informasi yang telah kita miliki tentang dunia tempat kita hidup disampaikan kepada kita melalui pancaindera kita. Dunia yang kita ketahui ini terdiri dari hal-hal yang dilihat oleh mata kita, dirasakan oleh tangan kita, dibaui oleh hidung kita, dirasakan oleh lidah kita, dan didengarkan oleh telinga kita. Kita tidak pernah berpikir bahwa alam luar dapat berupa apa saja yang lain dari yang disajikan oleh pancaindera kita, karena kita hanya tergantung pada pancaindera itu sejak lahir.
Riset modern di berbagai bidang ilmu pengetahuan menunjukkan pemahaman yang sangat berbeda dan menimbulkan keraguan yang serius tentang pancaindera kita dan dunia yang kita alami dengan pancaindera itu.
Titik-awal pendekatan ini ialah bahwa pemikiran tentang “dunia luar” yang terbentuk dalam otak kita hanya merupakan respon yang diciptakan dalam otak kita dengan sinyal-sinyal kelistrikan. Apel yang berwarna merah, kayu yang keras dan, demikian juga, ibu, ayah, keluarga anda dan apa saja yang anda miliki, rumah, pekerjaan dan baris-baris buku ini, hanya terdiri dari sinyal-sinyal listrik.
Frederick Vester menjelaskan hal tersebut bahwa ilmu pengetahuan telah mencapai pokok bahasan ini:
Pernyataan sebagian ilmuwan yang bersikap bahwa “manusia ialah suatu kesan”, segala hal yang dialami bersifat sementara dan menipu, dan alam semesta ialah suatu bayang-bayang, tampaknya pasti terbukti oleh ilmu pengetahuan pada masa kita.25
Filsuf terkenal George Berkeley berkomentar tentang masalah tersebut sebagai berikut:
Kami mempercayai keberadaan obyek hanya karena kami melihat dan menyentuhnya, dan obyek-obyek tersebut terpantul pada kita melalui persepsi kita. Bagaimanapun, cerapan kita hanya merupakan gagasan-gagasan dalam benak kita. Jadi, obyek yang kita tangkap dengan persepsi hanyalah gagasan, dan gagasan ini pada dasarnya tidak ada kecuali dalam benak kita. ... Karena semua obyek ini hanya ada dalam pikiran, ini berarti bahwa kita terperdaya oleh penipuan ketika kita membayangkan alam semesta dan benda-benda yang memiliki keberadaan di luar benak. Jadi, tidak ada benda sekitar kita yang mempunyai suatu keberadaan di luar benak kita.26
Untuk menjelaskan masalah tersebut, mari kita perhatikan indera penglihatan kita, yang menyediakan kita informasi yang paling luas tentang alam luar.

BAGAIMANA KITA MELIHAT, MENDENGAR, DAN MERASAKAN?

Tindakan melihat disadari secara progresif. Gugus-gugus sinar (foton-foton) berjalan dari obyek ke mata dan melewati lensa di depan mata yang membiaskan foton dan membalikkannya pada retina di belakang mata. Di sini, cahaya yang menimpa diubah menjadi sinyal-sinyal listrik yang dikirim oleh neuron ke suatu titik yang sangat kecil yang disebut pusat penglihatan di belakang otak. Sinyal listrik ini diterima sebagai suatu kesan di bagian tengah dalam otak setelah adanya serangkaian proses. Tindakan melihat sebenarnya terjadi di titik yang sangat kecil ini di bagian belakang otak, yang gelap gulita dan sepenuhnya tersekat dari cahaya.
Sekarang, mari kita perhatikan lagi proses yang tampaknya biasa-biasa saja. Ketika kita mengatakan, "kita melihat", sebenarnya kita sedang melihat pengaruh rangsangan yang sampai pada mata kita dan dilanjutkan sampai pada otak kita, setelah pengaruh rangsangan itu diubah bentuknya ke dalam sinyal-sinyal listrik. Dengan kata lain, ketika kita mengatakan, "kita melihat", kita sebenarnya mengamati sinyal-sinyal listrik di benak kita.
Semua kesan yang kita lihat dalam kehidupan kita terbentuk di pusat penglihatan kita, yang volumenya hanya beberapa sentimeter kubik di otak. Baik buku yang sedang anda baca maupun bentang tiada batas yang anda lihat ketika menatap cakrawala disesuaikan ke dalam ruang yang sangat kecil ini. Hal lain yang harus diingat, seperti yang telah kita catat sebelumnya, otak itu tersekat dari cahaya; bagian dalamnya sepenuhnya gelap. Otak tidak berhubungan dengan cahaya itu sendiri.
R. L. Gregory memberikan penjelasan berikut tentang aspek melihat yang menakjubkan, sesuatu yang seringkali kita alami begitu saja:
Kita amat mengenal penglihatan, sehingga diperlukan suatu lompatan imajinasi untuk menyadari bahwa ada masalah yang harus diselesaikan. Namun perhatikanlah. Kita diberi kesan-kesan sangat kecil yang terbalik di mata, dan kita melihat obyek kuat yang terpisah di ruang sekitarnya. Dari pola simulasi pada retina, kita mencerap dunia obyek, dan ini tidak aneh sama sekali.27

Situasi yang sama dengan itu terdapat juga pada semua indera kita yang lain. Suara, sentuhan, rasa, dan bau dikirim semuanya ke otak sebagai sinyal-sinyal listrik dan dicerap di pusat-pusat indera yang sesuai di otak.
Indera pendengaran berfungsi dengan cara yang serupa dengan indera penglihatan. Telinga-luar memilih suara-suara melalui daun telinga dan mengarahkan suara-suara itu ke telinga-tengah. Telinga-tengah mengirimkan getaran suara ke telinga-dalam dan menguatkan suara-suara itu. Telinga-dalam menyalin getaran-getaran itu menjadi sinyal-sinyal listrik, yang kemudian mengirimkannya ke otak. Seperti halnya mata, tindakan mendengar akhirnya terjadi di pusat pendengaran dalam otak. Otak tersekat dari suara sebagaimana tersekat dari cahaya. Karena itu, betapapun berisiknya keadaan luar, bagian-dalam otak sepenuhnya hening.

Namun demikian, suara-suara yang paling halus pun dicerap oleh otak. Sangatlah tepat bahwa telinga orang yang sehat mendengar apa saja tanpa suara berisik sekeliling. Dalam otak anda, yang tersekat dari suara, anda mendengar simfoni dari sebuah orkestra, mendengar suara-suara bising dari tempat yang ramai, dan menerima semua suara dalam rentang frekuensi yang lebar, dari desiran daun sampai deru pesawat jet. Akan tetapi, jika tingkat suara di otak anda diukur dengan alat sensitif pada saat itu, maka akan terlihat bahwa keheningan total berlaku di sana.
Persepsi kita tentang bau terbentuk dengan cara yang sama. Molekul yang mudah menguap dipancarkan oleh benda-benda sepeti panili atau bunga mawar sampai ke reseptor dalam rambutnya yang lembut di bagian epitelium hidung dan terjadilah interaksi. Interaksi ini dikirimkan ke otak sebagai sinyal listrik dan diterima sebagai bau. Segala benda yang kita baui, disukai atau pun tidak disukai, hanyalah persepsi otak tentang interaksi molekul-molekul yang mudah menguap setelah diubah menjadi sinyal-sinyal listrik. Anda mendapatkan bau dari parfum, bunga, makanan yang anda sukai, laut, atau bau-bau lain yang anda sukai atau tidak anda sukai, di otak anda. Molekul-molekul itu sendiri tak pernah mencapai otak. Sebagaimana dengan suara dan pemandangan, yang mencapai otak anda hanyalah sinyal listrik. Dengan kata lain, semua bau yang telah anda anggap—sejak anda lahir—terdapat pada obyek-obyek luar ternyata hanya sinyal-sinyal listrik yang anda rasakan melalui organ indera anda.
Begitu pula, ada empat jenis reseptor kimiawi di bagian depan lidah manusia. Hal ini ada hubungannya dengan empat rasa: asin, manis, asam, dan pahit. Reseptor-rasa kita mengubah persepsi ini ke dalam sinyal listrik melalui serangkaian proses kimiawi dan mengirimkannya ke otak. Sinyal-sinyal ini diterima sebagai rasa oleh otak. Rasa yang anda alami ketika anda makan buah-buahan atau sebatang coklat yang anda sukai ialah penafsiran sinyal-sinyal ini oleh otak. Anda tidak pernah mencapai obyek di alam luar; anda tidak pernah melihat, mencicipi atau merasakan coklat sendiri. Contohnya, jika syaraf rasa yang bergerak ke otak dipotong, maka rasa dari sesuatu yang anda makan tidak akan sampai ke otak anda; anda akan sepenuhnya kehilangan cita rasa anda.
Dalam hal ini, kita sampai pada fakta lain: kita tidak pernah pasti bahwa yang kita alami ketika kita merasakan makanan dan yang dialami oleh orang lain ketika ia merasakan makanan yang sama, atau yang kita cerap ketika kita mendengar suara dan yang dicerap oleh orang lain ketika ia mendengar suara yang sama adalah sama. Lincoln Barnett berpendapat bahwa tiada seorang pun dapat mengetahui apakah orang lain mencerap warna merah atau mendengar not C dengan cara sama seperti dirinya sendiri.28
Indera sentuh kita tidak berbeda dengan indera lainnya. Ketika kita menyentuh suatu obyek, semua informasi yang akan membantu kita dalam mengenali alam luar dan obyek-obyek itu dikirim ke otak oleh syaraf indera di kulit. Merasakan sentuhan itu terbentuk dalam otak kita. Berlawanan dengan keyakinan umum, tempat pencerapan indera sentuh kita tidak di ujung jari kita atau di kulit kita, tetapi di pusat persepsi-sentuh di otak kita. Dengan adanya penafsiran otak terhadap rangsangan elektris yang sampai ke otak dari obyek-obyek, kita mengalami obyek-obyek itu berbeda seperti keras atau lembut, panas atau dingin. Kami menguraikan semua rincian yang membantu kita mengenali obyek dari rangsangan-rangsangan ini. Berkenaan dengan hal ini, pemikiran dua filsuf terkenal, B. Russell dan L. Wittgenstein, adalah sebagai berikut:
Contohnya, apakah jeruk benar-benar ada ataukah tidak dan bagaimana jeruk itu menjadi ada tidak bisa dipertanyakan dan diselidiki. Jeruk hanya terdiri dari cita rasa yang dirasakan oleh lidah, bau yang dibaui oleh hidung, warna dan bentuk yang dilihat oleh mata; dan hanya sifat-sifat inilah yang dapat diuji dan dinilai. Ilmu pengetahuan tidak akan bisa mengetahui dunia fisik.29
Mustahil bagi kita untuk menjangkau dunia fisik. Semua obyek di sekitar kita merupakan kumpulan persepsi seperti penglihatan, pendengaran, dan penyentuhan. Dengan memproses data di pusat penglihatan dan di pusat sensorik lainnya, otak kita, sepanjang hidup kita, tidak bertentangan dengan “asal-usul” zat yang ada di luar kita, tetapi merupakan salinan yang terbentuk di dalam otak kita. Dalam hal ini kita tersesat bila menganggap salinan-salinan ini sebagai contoh zat-nyata di luar kita.


“DUNIA LUAR” DI DALAM OTAK KITA

Dari kenyataan fisik yang digambarkan sejauh ini, kita bisa menyimpulkan sebagai berikut. Segala yang kita lihat, rasakan, dengar, dan cerap sebagai "zat", "dunia" atau "alam semesta" hanya merupakan sinyal-sinyal listrik yang terjadi di otak kita.
Orang yang makan buah tidak bertentangan dengan buah yang sebenarnya, tetapi dengan persepsi otaknya. Obyek yang diperhatikan seseorang sebagai "buah" itu sebenarnya terdiri dari kesan elektrik dalam otak perihal bentuk, rasa, bau, dan tekstur buah. Jika syaraf penglihatan yang bergerak ke otak terserang mendadak, maka kesan buah itu akan spontan hilang. Terputusnya syaraf yang bergerak dari sensor-sensor dalam hidung ke otak sepenuhnya akan menyela rasa bau. Sederhana saja, buah tersebut tidak ada. Yang ada ialah penafsiran otak terhadap sinyal-sinyal listriknya.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah rasa jarak. Jarak, contohnya jarak anda dengan buku ini, ialah perasaan ruang yang terbentuk dalam otak anda. Obyek-obyek yang tampaknya pasti jauh dalam pandangan seseorang juga ada dalam otaknya. Contohnya, orang yang mengamati bintang-bintang di langit menganggap bahwa bintang-bintang itu jutaan mil jauhnya dari orang tersebut. Akan tetapi, yang ia "lihat" itu sebenarnya adalah bintang-bintang dalam dirinya sendiri, di pusat penglihatannya. Ketika anda membaca baris-baris ini, anda sebenarnya tidak ada dalam ruang yang anda anggap sendiri ada di dalamnya; sebaliknya, ruangnya adalah dalam diri anda. Penglihatan anda tentang tubuh anda mendorong anda berpikir bahwa anda ada di dalamnya. Bagaimanapun juga, anda harus mengingat bahwa tubuh anda, juga, merupakan suatu kesan yang terbentuk dalam otak anda.
Hal itu berlaku pula pada semua pencerapan lain. Contohnya, ketika anda mengira bahwa anda mendengar suara televisi di ruang sebelah, sebenarnya anda mengalami suara dalam otak anda. Anda tidak dapat membuktikan bahwa ada ruang di dekat anda sendiri, bahwa ada suara berasal dari televisi di ruang itu. Baik suara yang anda kira berasal dari jauh bermeter-meter maupun percakapan seseorang yang tepat di sebelah anda diterima di pusat pendengaran beberapa sentimeter persegi dalam otak anda. Terlepas dari dalam pusat penglihatan ini, konsep seperti kanan, kiri, depan atau pun belakang tidak ada. Dengan kata lain, suara tidak sampai ke anda dari kanan, dari kiri, atau dari udara ; tidak ada arah sumber suara.

Demikian juga dengan bau yang anda isap; tak satu pun bau sampai ke anda dari jarak yang jauh. Anda menganggap bahwa pengaruh akhir yang terbentuk di pusat bau anda ialah bau dari obyek alam luar. Akan tetapi, seperti kesan bunga mawar dalam pusat penglihatan anda, demikian pula bau mawar di pusat bau anda; tidak ada bunga atau bau yang ada hubungannya dengan bau di alam luar.
“Dunia luar” yang tersaji untuk kita melalui penginderaan kita hanya merupakan kumpulan sinyal listrik yang sampai ke otak kita. Sepanjang hidup kita, otak kita memproses sinyal-sinyal ini dan kita hidup tanpa mengakui bahwa kita salah dalam mengasumsikan bahwa hal ini merupakan versi asli benda-benda yang ada di “alam luar”. Kita tersesat karena kita tidak pernah dapat mencapai zat-zat itu sendiri dengan perantara indera kita.
Lagipula, otak kita menafsirkan dan mengartikan sinyal-sinyal yang, pada anggapan kita, ada di “alam luar”. Contohnya, mari kita perhatikan indera pendengaran. Otak kita mengubah bentuk gelombang suara yang ada di alam luar ke dalam suatu simfoni. Katakanlah, musik juga merupakan suatu persepsi yang dibuat oleh otak kita. Dengan cara yang sama, ketika kita melihat warna, yang sampai ke mata kita hanyalah sinyal-sinyal listrik dari panjang-gelombang yang berlainan. Otak kita mengubah bentuk sinyal-sinyal ini ke dalam warna. Tidak ada warna di “alam luar”. Juga tidak ada apel yang berwarna merah, atau pun langit yang berwarna biru, atau pun pohon yang berwarna hijau. Benda-benda itu begitu karena kita mencerapnya demikian. “Dunia luar” sepenuhnya tergantung pada pihak penerima.
Bahkan kerusakan yang paling ringan di retina mata menyebabkan buta warna. Sebagian orang mencerap biru sebagai warna hijau, merah sebagai warna biru dan sebagian mencerap semua warna sebagai sifat abu-abu yang berbeda. Dalam hal ini, tidak perduli apakah obyek yang ada di alam luar berwarna ataukah tidak.

Berkeley, seorang pakar terkemuka, juga menunjukkan fakta ini:
Pada awalnya, diyakini bahwa warna, bau, dan lain-lain "benar-benar ada", tetapi selanjutnya pandangan demikian ditinggalkan, dan terlihat bahwa itu semua tergantung pada penginderaan kita belaka.30
Kesimpulannya, alasan kita melihat obyek-obyek berwarna bukan karena obyek-obyek itu berwarna atau karena memiliki keberadaan material yang terpisah di luar obyek itu sendiri. Kebenaran zat ialah bahwa semua sifat yang kita anggap berasal dari obyek itu ada dalam diri kita dan bukan di “alam luar”. Jadi, masih adakah "alam luar"?


APAKAH KEBERADAAN “DUNIA LUAR” HARUS ADA?

Sejauh ini, kita telah berulang kali membicarakan suatu “dunia luar” dan suatu dunia cerapan yang terbentuk dalam otak kita; bahwa cerapan inilah yang kita lihat. Akan tetapi, karena kita sebenarnya tidak pernah dapat mencapai alam luar, lantas bagaimana kita dapat memastikan bahwa dunia sedemikian itu benar-benar ada?
Sebenarnya kita tidak dapat. Karena setiap obyek hanya merupakan kumpulan persepsi dan persepsi-persepsi itu hanya ada dalam pikiran, yang lebih seksama adalah mengatakan bahwa satu-satunya dunia yang benar-benar ada adalah dunia persepsi. Satu-satunya dunia yang kita ketahui ialah dunia yang ada dalam pikiran kita: dunia yang dirancang, direkam, dan dibuat hidup di sana; dunia yang diciptakan dalam pikiran kita. Hal ini merupakan satu-satunya dunia yang dapat kita pastikan.
Kita tidak pernah dapat membuktikan bahwa persepsi yang kita amati dalam otak kita memiliki korelasi material. Persepsi-persepsi itu secara logis dapat berasal dari sumber "semu".
Ini bisa diamati. Rangsangan yang salah dapat menghasilkan dunia materi yang sepenuhnya bersifat khayal dalam benak kita. Contohnya, mari kita bayangkan suatu alat perekam yang sangat canggih yang dapat merekam semua jenis sinyal-sinyal listriknya. Pertama, mari kita salurkan semua data yang terkait dengan suatu setting (yang mencakup gambaran badan) ke alat ini dengan mengubahnya menjadi sinyal-sinyal listrik. Kedua, mari kita bayangkan bahwa otak bisa bertahan hidup lepas dari raga. Akhirnya, mari kita hubungkan alat perekam itu ke otak dengan elektroda-elektroda yang akan berfungsi sebagai syaraf dan mengirim data yang sudah tercatat itu ke otak. Dalam keadaan ini, anda akan mengalami sendiri hidup dalam setting yang dibuat semu ini. Contohnya, anda dapat mudah percaya bahwa anda mengendarai kencang di jalan raya. Mungkin mustahil memahami bahwa anda terdiri dari ketiadaan kecuali otak anda. Ini karena yang diperlukan untuk membentuk suatu dunia dalam otak anda bukan merupakan keberadaan dunia nyata, melainkan rangsangan. Tentu saja rangsangan-rangsangan ini dapat berasal dari sumber semu, seperti tape-recorder.
Dalam hubungan itu, Bertrand Russel, filsuf lain, menulis:
Ketika dengan indera sentuh kita menekan meja dengan jari kita, dihasilkan acakan listrik elektron dan proton pada ujung jari kita, menurut ilmu fisika modern, di dekat elektron dan proton pada meja. Jika ada pengacakan sedemikian ini di ujung jari kita dengan cara apa saja, kita mesti mempunyai sensasi, meskipun tidak ada meja.31
Sebenarnya kita sangat mudah tertipu untuk mempercayai bahwa persepsi itu nyata, tanpa harus berkorelasi dengan materi apa saja. Kita sering mengalami perasaan ini dalam mimpi kita, yang di dalamnya kita mengalami kejadian, melihat orang, obyek dan keadaan yang sepenuhnya nyata. Meskipun demikian, semua itu lain kecuali persepsi saja. Tiada perbedaan mendasar antara mimpi dan dunia nyata. Keduanya dialami di otak.


SIAPA PENCERAPNYA?

Seperti yang telah kita hubungkan sejauh ini, tiada keraguan bahwa dunia yang kita kira kita tinggali dan yang kita sebut “dunia luar” itu kita cerap di dalam otak kita. Namun, di sini muncul pertanyaan terpenting. Jika semua kejadian fisik yang kita tahu ini pada dasarnya persepsi, bagaimana dengan otak kita? Karena otak kita merupakan bagian dari dunia fisik seperti juga lengan, kaki atau obyek lainnya, otak kita juga pasti persepsi seperti semua obyek lainnya.
Contoh tentang mimpi akan menerangi pokok bahasan berikutnya. Mari kita berpikir bahwa kita melihat dalam impian kita menurut apa yang telah dikatakan sejauh ini. Dalam mimpi, kita akan memiliki tubuh khayal, mata khayal, dan otak khayal. Jika selama kita bermimpi, kita ditanya, "di mana kamu melihat?" maka kita akan menjawab "Saya melihat di dalam otakku". Akan tetapi, itu sebenarnya bukan otak untuk berbicara, tetapi kepala khayal dan otak khayal. Pelihat kesan itu bukan otak khayal di dalam mimpi, melainkan sesuatu yang jauh “mengungguli” otak itu.
Kita tahu bahwa tiada perbedaan fisik antara keadaan mimpi dan keadaan yang kita sebut dunia nyata. Jadi, ketika kita ditanyai, tentang keadaan yang disebut kehidupan nyata, pertanyaan tadi "di mana kita melihat" itu tiada berarti sebagaimana pertanyaan “di mana otak kita” seperti contoh di atas. Dalam kedua kondisi ini, entitas yang melihat dan mengindera bukanlah otak, yang bagaimanapun hanya sebongkah daging.
Ketika menganalisis otak, kami perhatikan bahwa tiada apa pun di dalamnya kecuali molekul protein dan lipida, yang juga ada pada organisme hidup lainnya. Artinya, dalam sepotong daging yang kita sebut otak kita, tiada apa pun yang mengamati kesan-kesan, yang merupakan kesadaran, atau yang menciptakan sesuatu yang kita sebut "saya sendiri".
R. L. Gregory menunjukkan kesalahan yang orang buat dalam hubungannya dengan persepsi tentang kesan di dalam otak:
Ada suatu godaan, yang harus dihindari, untuk mengatakan bahwa mata menghasilkan gambar dalam otak. Gambar dalam otak menjelaskan perlunya beberapa jenis mata intern untuk melihatnya—tetapi hal ini akan membutuhkan mata berikutnya untuk gambarnya ... dan lain-lain, dalam suatu kemunduran mata dan gambar yang tiada berakhir. Hal ini mustahil.32
Inilah gagasan inti yang menempatkan penganut materialisme, yang tidak mengakui kebenaran apa pun kecuali benda, dalam suatu kebingungan: siapa yang mempunyai “mata di dalam” yang melihat, yang mencerap hal-hal yang dilihat dan ditanggapi?
Karl Pribram juga berfokus pada pertanyaan penting ini, tentang siapa pencerapnya, dalam dunia ilmu pengetahuan dan filsafat:
Sejak jaman Yunani kuno, para filsuf memikirkan "hantu di mesin", "manusia kecil dalam manusia kecil" dan lain-lain. Di manakah "saya"-nya orang yang menggunakan otaknya? Siapa yang menyadari tindakan mengetahui?" Seperti yang dikatakan Saint Francis dari Assisi: "Yang kita cari adalah sesuatu yang melihat".33
Sekarang, berpikirlah tentang hal ini: Buku di tangan anda, kamar anda, pendek kata, semua kesan di depan anda terlihat di dalam otak anda. Apakah atom-atom yang melihat kesan-kesan ini? Atom yang buta, lumpuh dan tidak sadar? Mengapa sebagian atom mempunyai sifat ini sedangkan yang lain tidak? Apakah tindakan kita berpikir, memahami, mengingat, senang, sedih, dan segala tindakan lain terdiri dari reaksi-reaksi elektrokimia antara atom-atom ini?
Ketika kita menebarkan pertanyaan-pertanyaan ini, kita tahu bahwa tidak masuk akal mencari kehendak di dalam atom-atom. Jelaslah bahwa being yang melihat, mendengar dan merasakan adalah being yang berbahan unggul. Being ini hidup dan juga bukan materi atau pun gambaran materi. Being ini ada hubungannya dengan persepsi-persepsi di depannya dengan menggunakan gambaran tubuh kita.
Being ini ialah “roh”.
Kumpulan cerapan yang kita sebut "alam materi" ialah suatu mimpi yang diamati oleh roh ini. Karena tubuh yang kita miliki dan dunia materi yang kita lihat dalam mimpi kita tidak memiliki realitas, alam semesta yang kita huni dan tubuh yang kita miliki juga tidak memiliki realitas material.
Yang keberadaannya nyata ialah roh. Zat hanya terdiri dari cerapan-cerapan yang dipandang oleh jiwa. Makhluk yang cerdas yang menulis dan membaca buku ini masing-masing bukan merupakan lompatan atom dan molukel dan reaksi kimia antara lompatan atom dan molekul, melainkan "roh".


YANG KEBERADAANYA PASTI NYATA

Semua kenyataan ini membawa kita langsung ke satu pertanyaan yang sangat penting. Jika sesuatu yang kita kenal sebagai alam materi hanya terdiri dari persepsi yang dilihat oleh roh kita, lantas apa saja sumber persepsi-persepsi ini?
Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan yang berikut ini: zat tidak mempunyai keberadaan pengatur-diri dengan sendirinya. Karena merupakan persepsi, zat adalah sesuatu yang "semu". Dengan kata lain, persepsi ini pasti disebabkan oleh kekuatan lain, yang berarti pasti diciptakan. Lagipula, penciptaan ini harus kontinyu. Jika tidak ada penciptaan yang kontinyu dan konsisten, maka yang kita sebut zat itu akan lenyap dan hilang. Ini bisa disamakan dengan televisi yang gambarnya ditampilkan selama sinyalnya terus disiarkan. Jadi, siapa yang membuat roh kita melihat bulan, bumi, tumbuhan, manusia, tubuh kita dan segala zat lain yang kita ketahui?
Hal itu merupakan bukti bahwa ada Pencipta atau Tuhan, Yang menciptakan seluruh semesta materi, yaitu, sekumpulan persepsi, dan melanjutkan penciptaannya dengan tiada henti. Karena Pencipta ini menampilkan suatu ciptaan yang demikian menakjubkan, Ia pasti memiliki kekuatan yang abadi.
Pencipta ini memperkenalkan Dirinya sendiri kepada kita. Ia telah menciptakan suatu kitab dan melalui kitab ini telah menjelaskan pada kita tentang Diri-Nya sendiri, alam semesta, dan sebab keberadaan kita.
Pencipta ini ialah Allah dan nama kitab-Nya adalah Al-Qur'an.
Fakta bahwa langit dan bumi, yaitu alam semesta, tidak stabil, yang keberadaannya hanya dimungkinkan karena Allah menciptakannya dan bahwa keberadaannya akan sirna jika Allah mengakhiri ciptaan ini, semua itu dijelaskan dalam ayat berikut ini:

Sungguh, Allah Yang menahan langit dan bumi, supaya tidak lenyap, tak seorang pun yang dapat menahannya. Dan kalau keduanya lenyap, tak siapa pun yang dapat menahannya sesudah Dia. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (Surat al-Faathir, 41)

Seperti yang telah kita sebutkan di awal, sebagian orang tidak memiliki pemahaman tentang Allah dan mereka membayangkan Allah sebagai suatu makhluk yang ada di mana saja di langit dan tidak benar-benar mencampuri urusan duniawi. Dasar logika ini sebenarnya bersandar pada pemikiran bahwa alam semesta merupakan pertemuan mater-materi dan Allah berada di luar alam materi ini, di suatu tempat yang sangat jauh letaknya. Pada beberapa agama yang salah, keyakinan kepada Allah terbatas pada pemahaman ini.

Bagaimanapun juga, seperti yang telah kita pahami sejauh ini, zat hanya terdiri dari sensasi. Dan satu-satunya being yang benar-benar mutlak ialah Allah. Artinya, yang ada hanyalah Allah; semua benda kecuali Allah ialah makhluk bayang-bayang. Walhasil, tidak mungkin memahami Allah sebagai yang terpisah dan di luar dari semua massa material. Allah pasti ada "di mana saja" dan meliputi semua. Kenyataan ini dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagai berikut:
Allah ! Tiada tuhan selain Dia Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri, Abadi, tak pernah terlena, tak pernah tidur. Milik-Nyalah segala yang di langit, segala yang di bumi. Siapakah yang dapat memberi perantaraan di hadapan-Nya tanpa izin-Nya? Ia mengetahui segala yang di depan mereka dan segala yang di belakang mereka; mereka takkan mampu sedikit pun menguasai ilmu-Nya kecuali yang dikehendaki-Nya. Singgasananya meliputi langit dan bumi, dan tiada merasa berat Ia menjaga dan memelihara keduanya. Ia Mahatinggi, Mahabesar. (Surat al-Baqarah, 255)
Allah tidak terikat oleh ruang dan bahwa Ia meliputi segala sesuatu dinyatakan di ayat lain berikut ini :

Milik Allah timur dan barat : ke mana pun kamu berpaling, di situlah kehadiran Allah. Allah Mahaluas, Mahatahu (Surat al-Baqarah, 115)

Karena segala yang material itu merupakan cerapan, materi-materi itu tidak bisa melihat Allah, tetapi Allah melihat materi yang Ia ciptakan dengan segala bentuknya. Dalam Al-Qur’an, ini dinyatakan dengan : "Ia tak tercapai oleh segala indera, tetapi Ia mencapai segala indera. (Surat al-An'aam, 103)
Dengan kata lain, kita tidak bisa memahami Allah dengan mata kita, tetapi Allah mencakup sisi dalam, dan luar kita, pandangan dan pikiran kita. Kita tidak bisa melafalkan kata, bahkan bernafas, selain berkat pengetahuan-Nya.
Ketika kita mengamati persepsi pancaindera dalam kehidupan kita, yang keberadaannya terdekat dengan kita bukanlah salah satu dari sensasi ini, melainkan Allah Sendiri. Rahasia ayat Al-Qur'an berikut tersembunyi dalam kenyataan ini: "Kamilah Yang menciptakan manusia ... Kami lebih dekat kepadanya daripada urat merihnya sendiri." (Surat Qaaf, 16). Ketika orang berpikir bahwa tubuhnya hanya terbuat dari "materi", ia tidak bisa memahami fakta penting ini. Jika menggunakan otaknya untuk menjadi "diri sendiri", lantas tempat yang ia cerap sebagai bagian-luar ialah 20-30 cm jauhnya darinya. Namun, ketika ia memahami bahwa tiada apa pun yang seperti zat, dan bahwa segalanya itu merupakan imajinasi, maka gagasan seperti bagian luar, bagian dalam, itu menjadi jauh atau hampir hilang maknanya. Allah meliputi dirinya dan Ia "selalu dekat" dengannya.
Allah memberi tahu manusia bahwa Allah “selalu dekat” dengan manusia dengan ayat "Bila ada hamba-Ku yang bertanya kepadamu tentang Aku, Aku dekat sekali (dengan mereka)." (Surat al-Baqarah, 186). Ayat lain menghubungkan fakta yang sama: "Kami berkata kepadamu bahwa Tuhanmu meliputi umat manusia." (Surat al-Israa’, 60).
Manusia keliru mengira bahwa yang terdekat dengannya ialah dirinya sendiri. Allah, sebenarnya, bahkan lebih dekat dengan kita daripada diri kita sendiri. Dia telah mengarahkan perhatian kita untuk hal ini dalam ayat "Mengapa tidak saat (nyata) sudah sampai di kerongkongan, dan kamu ketika itu melihat? Kami lebih dekat dengannya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat" (Surat al-Waaqi'ah, 83-85). Seperti yang disebutkan pada kita dalam ayat ini, orang-orang hidup dengan tidak menyadari gejala ini karena mereka tidak melihatnya dengan mata mereka sendiri.
Sebaliknya, mustahil bagi manusia, yang bukan lain kecuali makhluk bayang-bayang, untuk mempunyai kekuatan dan terlepas dari Allah. Ayat "Padahal Allah telah menciptakan kamu dan segala yang kamu kerjakan." (Surat ash-Shaaffaat, 96) menunjukkan bahwa segala yang kita alami terjadi di bawah kendali Allah. Dalam Al-Qur'an, realitas ini dinyatakan dalam ayat "Bukanlah kau yang melempar ketika kau melempar, tetapi Allah yang melempar." (Surat al-Anfaal, 17) yang dengan demikian, ditekankan bahwa tiada perbuatan yang terlepas dari Allah. Karena manusia ialah makhluk bayang-bayang, ia sendiri tidak melakukan tindakan melempar. Meskipun begitu, Allah memberi makhluk bayang-bayang ini perasaaan diri. Sebenarnya, Allah menjalankan semua perbuatan. Jika seseorang melakukan perbuatan sebagai dirinya sendiri, maka berarti ia menipu dirinya sendiri.
Hal ini merupakan realitas. Mungkin ada orang yang tidak ingin mengakui hal ini dan memikirkan dirinya sendiri sebagai makhluk yang tidak terikat dari Allah; tetapi hal ini tidak mengubah sesuatu. Tentu saja, penolakannya yang tidak bijaksana itu lagi-lagi dengan kemauan dan kehendak Allah.



SEGALA YANG ANDA MILIKI PADA HAKIKATNYA SEMU

Sebagaimana yang dapat terlihat dengan jelas, fakta ilmiah menyatakan bahwa “alam luar” tidak memiliki realitas materi dan bahwa ini merupakan sekumpulan kesan yang disajikan untuk roh kita oleh Allah dengan tiada henti dan abadi. Namun demikian, manusia biasanya tidak memasukkan, atau tidak ingin dimasukkan, segalanya dalam konsep "alam luar".
Renungkanlah hal ini dengan jujur dan tegas. Anda akan menyadari bahwa rumah, mebel, mobil—yang mungkin baru saja dibeli, kantor, permata, rekening bank, almari pakaian, pasangan hidup, anak-anak, teman, dan lain-lain yang anda miliki sebenarnya termasuk dalam alam luar yang bersifat khayal yang tertuju kepada anda. Segala yang anda lihat, dengar, atau rasakan—pendek kata—melalui panca indera sekitar anda merupakan bagian dari "alam khayalan" ini: suara penyanyi favorit anda, kerasnya kursi yang anda duduki, parfum yang baunya anda sukai, speedboat yang bergerak cepat di atas air, kebun anda yang subur, komputer yang anda gunakan pada pekerjaan anda, atau hi-fi anda yang berteknologi tercanggih...
Hal ini merupakan realitas, karena dunia hanya merupakan sekumpulan kesan yang diciptakan untuk menguji manusia. Manusia diuji melalui kehidupannya yang terbatas dengan persepsi yang tiada memiliki realitas. Persepsi-persepsi ini disajikan dengan tujuan sebagai daya tarik. Fakta ini disebutkan dalam Al-Qur'an:

Menjadi tampak indah bagi manusia kecintaan kepada yang diingininya; perempuan-perempuan, putera-putera, emas dan perak yang bertimbun-timbun, serta kuda pilihan yang diselar, binatang ternak dan tanah ladang. Itulah harta benda dalam kehidupan dunia, tetapi kepada Allah itulah tempat kembali terbaik. (Surat Aali 'Imraan, 14)

Sebagian besar manusia mengejar agamanya jauh dari dayatarik harta benda, kekayaan, timbunan yang menggunung dari emas, perak, dolar, rekening bank, kartu kredit, almari pakaian yang penuh dengan pakaian, mobil model terbaru, pendek kata, segala bentuk kekayaan yang mereka miliki atau diupayakan untuk dimiliki. Mereka hanya lebih menekankan dunia ini namun melupakan akhirat. Mereka tertipu oleh dayatarik kehidupan dunia, dan lalai untuk menegakkan shalat, memberi sedekah kepada kaum miskin, dan menjalankan ibadah yang akan mensejahterakan mereka di hari kemudian. Mereka berkata, "Saya punya sesuatu untuk dikerjakan", dan "Saya punya cita-cita", "Saya bertanggung jawab", "Saya tidak punya cukup waktu", "Saya punya sesuatu untuk diselesaikan", dan "Saya akan lakukan nanti". Mereka menghabiskan kehidupannya hanya untuk memenuhi kehidupan dunia. Dalam ayat "Mereka hanya mengetahui yang lahir dalam kehidupan dunia, tetapi akhirat mereka lalaikan." (Surat ar-Ruum, 7), kesalahanpahaman ini dijelaskan.

Fakta yang kita gambarkan di bab ini, yaitu bahwa segala sesuatu merupakan kesan, sangat penting karena implikasinya yang menyebabkan segala nafsu dan batas-batas menjadi tiada berarti. Pembuktian fakta ini menjelaskan bahwa segala yang orang miliki atau yang diusahakan keras untuk dimiliki—kekayaan yang dicari dengan rakus, anak-anak yang mereka banggakan, pasangan hidup yang mereka anggap paling dekat dengannya, teman-teman, tubuh mereka, status sosial yang mereka yakini terpandang, sekolah yang mereka hadiri, hari libur yang mereka isi—tiada berarti selain sekadar ilusi. Karena itu, segala upaya, waktu yang dihabiskan, dan ketamakannya, terbukti sia-sia belaka.
Inilah penyebab banyak orang membodohi diri-sendiri ketika mereka menimbun harta dan kekayaan atau “kapal yachts, helikopter, saham, rumah dan tanah" seolah-olah benar-benar ada. Orang-orang itu memamerkan kapal yacht, mobil, tiada henti membicarakan kekayaan mereka, menganggap kedudukan mereka lebih tinggi dari orang lain, dan tetap mengira bahwa mereka berhasil karena semua ini; mereka semestinya benar-benar memikirkan jenis keadaan yang akan mereka temukan sendiri di dalamnya segera setelah menyadari bahwa kesuksesan itu tiada lain kecuali ilusi belaka.
Pemandangan ini juga terlihat berulang kali dalam mimpi. Dalam mimpi, mereka juga mempunyai rumah, mobil yang melaju cepat, permata yang sangat indah, tumpukan dolar, emas dan perak. Dalam mimpi, mereka juga berkedudukan tinggi, mempunyai pabrik sendiri dengan jutaan pekerja, memiliki kekuasaan atas banyak orang, dan mengenakan pakaian yang dikagumi oleh setiap orang. Sebagaimana orang yang membanggakan miliknya terjaga dari mimpinya akan ditertawakan, ia pasti juga akan diejek bila memamerkan kesan yang ia lihat di dunia ini. Apa yang ia lihat baik yang ada dalam mimpi maupun di dunia hanya merupakan kesan di dalam benaknya.
Begitu pula, cara orang bereaksi terhadap peristiwa yang mereka alami di dunia akan membuat mereka merasa malu ketika mereka menyadari realitasnya. Mereka yang berselisih satu dengan yang lain, berdebat mati-matian, menipu, menyuap, memalsukan, berbohong, kikir, banyak melakukan kesalahan kepada orang lain, memukul, dan mengutuk orang lain, sewenang-wenang, bernafsu mengejar jabatan dan kedudukan, iri hati, dan pamer, akan tercemar ketika mereka menyadari telah melakukan semua ini di alam mimpi.
Karena Allah menciptakan semua kesan ini, Pemilik Akhir segala yang ada dan tiada ialah Allah sendiri. Fakta ini ditekankan dalam Al-Qur'an:

Milik Allah segala yang di langit dan yang di bumi. Dan Ia meliputi segala sesuatu (Surat an-Nisaa’, 126)

Sungguh merupakan kebodohan besar mencampakkan agama demi memenuhi hawa nafsu yang bersifat khayalan dan kehilangan kehidupan kekal yang berarti kehilangan selama-lamanya.
Pada tahap ini, satu hal mesti diperhatikan. Ini tidak berarti bahwa "hak milik, kekayaan, anak, pasangan hidup, teman, kedudukan yang anda miliki yang dengannya anda menjadi bakhil atau kikir, akan sirna cepat atau lambat, dan karena itu tidak berarti apa-apa", tetapi bahwa "semua milik yang tampaknya anda miliki itu benar-benar tidak ada, tetapi semuanya itu hanya mimpi yang terdiri dari kesan-kesan yang Allah tunjukkan kepada anda untuk menguji anda". Seperti yang anda lihat, ada perbedaan mencolok antara dua pernyataan tersebut.
Meski manusia tidak ingin segera mengakui kebenaran ini dan justru menipu diri-sendiri dengan menganggap bahwa segala yang ia miliki benar-benar ada, ia akhirnya meninggal dan di hari kemudian segalanya akan jelas ketika kita dibangkitkan lagi. Pada hari itu "tajamlah mata manusia" (Surat Qaaf, 22) dan kita akan melihat segalanya lebih jelas. Meskipun demikian, jika kita telah menghabiskan kehidupan kita mengejar tujuan yang bersifat khayalan itu, kita akan berkeinginan tidak pernah hidup dalam kehidupan ini dan berkata "Wahai! Cobalah kematian cukup menyudahi aku! Harta kekayaanku tak bermanfaat bagiku! Kekuasaanku pun hancur semua!” (Surat al-Haaqqah, 27-29).

Di sisi lain, yang semestinya dilakukan oleh orang bijaksana adalah berupaya memahami realitas terbesar alam semesta di sini di dunia ini, ketika ia masih punya banyak waktu. Kalau tidak, ia akan menghabiskan seluruh hidupnya mengejar impian dan menghadapi hukuman yang menyedihkan pada akhirnya. Dalam Al-Qur'an, keadaan akhir manusia yang mengejar ilusi (atau khayalan) di dunia ini dan melupakan Penciptanya, dinyatakan sebagai berikut:

Tetapi mereka yang kafir, amal mereka seperti bayangan di padang pasir, yang oleh orang yang sedang kehausan dikira air, sehingga bila ia sampai ke tempatnya, tak ada apa-apa, tetapi yang ditemuinya Allah bersama dia, dan Allah membuat perhitungan. (Surat an-Nuur, 39)


RUSAKNYA LOGIKA MATERIALISME

Dari awal bab ini, jelas dinyatakan bahwa zat tidak mempunyai keberadaan mutlak, tidak seperti pernyataan penganut materialisme, tetapi merupakan sekumpulan kesan indera yang diciptakan oleh Allah. Penganut materialisme menolak realitas bukti ini, yang merusak filsafat mereka, dengan cara yang sangat dogmatis dan mengemukakan antitesis yang tidak berdasar.
Contohnya, salah satu pembela terbesar filsafat materialisme di abad 20, seorang Marxis yang tekun, George Politzer, untuk keberadaan zat, memberikan "contoh bus" sebagai "bukti terbesar". Menurut Politzer, para filsuf yang berpikir bahwa zat hanya merupakan persepsi yang bergerak menjauh seperti ketika mereka melihat sebuah bus akan bergerak dan hal ini merupakan bukti keberadaan fisik zat.34
Ketika penganut materialisme lain yang terkemuka, Johnson, mengatakan bahwa zat itu merupakan sekumpulan persepsi, ia berupaya membuktikan keberadaan fisik batu dengan menendangnya.35
Contoh serupa diberikan oleh Friedrich Engels, penasehat Politzer dan, bersama dengan Karl Marx, pendiri materialisme dialektik. Ia menulis, "jika kue yang kita makan hanya merupakan persepsi, maka kue itu tidak akan menghentikan rasa lapar kita".36
Ada contoh serupa dan beberapa kalimat seperti "anda memahami keberadaan zat jika anda terbanting jatuh di permukaan" di buku-buku penulis materialisme terkenal seperti Marx, Engels, Lenin dan lain-lain.
Pemahaman salah yang memberi jalan untuk contoh-contoh materialisme ini adalah menafsirkan "zat ialah persepsi" sebagai "zat merupakan permainan cahaya". Mereka mengira bahwa persepsi terbatas untuk dilihat dan bahwa indera lain seperti sentuhan mempunyai korelasi fisik. Sebuah bus yang menabrak seseorang membuat mereka berkata "awas, bus menabrak, karena itu bukan persepsi". Mereka tidak memahami bahwa semua persepsi yang dialami selama bus menabrak, seperti keras, tabrakan, sakit, juga terbentuk dalam otak.



CONTOH MIMPI

Contoh paling baik untuk menjelaskan realitas ini ialah mimpi. Orang dapat menggelinding di tangga dan mematahkan kakinya, mengalami kecelakaan mobil yang serius, terjepit di bawah bus, atau makan kue dan kenyang. Peristiwa sama yang dialami dalam kehidupan sehari-hari juga dialami dalam mimpi dengan indera sama tentang realitas mereka, dan menimbulkan perasaan sama pada kita.
Seseorang yang bermimpi tertabrak oleh bus dapat membuka matanya lagi di rumah sakit dalam mimpinya dan memahami bahwa ia cacat, tetapi semua itu adalah mimpi. Ia juga dapat bermimpi bahwa ia meninggal dalam kecelakaan mobil, malaikat kematian merenggut nyawanya, dan kehidupannya di akhirat dimulai. (Peristiwa yang disebut terakhir ini dialami dengan cara yang sama dalam kehidupan ini yang, sebagaimana mimpi, merupakan persepsi).

Orang ini mencerap kesan, suara, rasa padat, cahaya, warna, dan semua perasaan lain yang berkenaan dengan kejadian yang ia alami dalam mimpinya dengan sangat kuat dan tajam. Persepsi yang ia alami dalam mimpinya sama alaminya dengan persepsi dalam kehidupan "nyata". Kue yang ia makan dalam mimpinya membuatnya kenyang meskipun kue itu merupakan cerapan perasaan mimpi saja, karena, merasa kenyang juga merupakan persepsi perasaan-mimpi. Bagaimanapun, dalam kenyataannya, orang ini sedang berbaring di tempat tidur pada saat itu. Tidak ada tangga, lalulintas, atau pun bus sama sekali. Orang yang bermimpi mengalami dan melihat persepsi dan perasaan yang tidak ada di alam luar. Fakta bahwa dalam mimpi, kita mengalami, melihat, dan merasakan kejadian dengan tanpa korelasi fisik di alam luar dengan sangat gamblang menjelaskan bahwa dunia luar tempat kita hidup ini sepenuhnya semata-mata terdiri dari persepsi-persepsi.
Yang percaya akan filsafat materialisme, terutama Marxis, akan membantah keras realitas ini, yakni esensi zat. Mereka mengutip contoh dari penalaran semu Marx, Engels, atau pun Lenin dan membuat pernyataan secara emosional.
Akan tetapi, orang-orang ini mesti berpikir bahwa mereka juga mengutarakan pendapatnya secara luas ini dalam mimpi mereka. Dalam mimpi, mereka juga dapat membaca "Das Kapital", mengikuti pertemuan, berkelahi dengan polisi, dipukul di kepala, dan terasa sakit lukanya. Bila ditanya dalam mimpi, mereka akan mengira bahwa yang mereka alami dalam mimpi itu juga terdiri dari "zat mutlak", seperti mereka menganggap "zat mutlak" benda-benda yang mereka lihat ketika mereka bangun. Namun, entah dalam mimpi entah dalam kehidupan mereka sehari-hari, semua yang mereka lihat, alami, atau pun rasakan hanya terdiri dari persepsi-persepsi.

CONTOH MENGHUBUNGKAN SYARAF SECARA PARALEL

Mari kita perhatikan contoh tabrakan mobil yang dikemukakan oleh Politzer yang menceritakan seseorang yang tertabrak mobil. Jika syaraf orang yang tertabrak yang bergerak dari pancainderanya ke otaknya, terhubung ke orang lain, otak Politzer misalnya, dengan hubungan paralel, maka pada saat bus menabrak orang itu, bus itu juga menabrak Politzer yang duduk di rumah pada saat itu juga. Semua perasaan yang dialami oleh orang yang mengalami kecelakan itu dialami juga oleh Politzer, sama persis dengan lagu yang terdengar dari dua pengeras suara yang berbeda yang terhubung ke tape recorder yang sama. Politzer merasakan, melihat, dan mengalami penabrakan bus, sentuhan bus di tubuhnya, kesan lengan patah dan berdarah, retak, kesan ia memasuki ruang operasi, kerasnya tuangan plaster, dan rapuhnya lengannya.
Setiap orang yang dihubungkan dengan syaraf-syaraf orang tersebut secara paralel akan mengalami kecelakaan dari awal hingga akhir persis seperti Politzer. Jika orang yang tertimpa kecelakaan tersebut mengalami koma, maka mereka semuanya pun akan jatuh koma. Lagipula, jika semua persepsi yang ada kaitannya dengan kecelakaan mobil itu direkam di suatu alat dan jika semua persepsi ini dikirimkan ke seseorang berulang kali, maka bus itu akan menabrak orang ini berulang kali.
Jadi, bus manakah yang sesungguhnya menabrak orang-orang itu? Jika syaraf-syaraf organ indera Engels, yang merasa kenyang dan berisi penuh roti dalam perutnya setelah memakan kue, dihubungkan ke otak orang kedua secara paralel, maka orang itu juga akan merasa kenyang ketika Engels makan kue dan kenyang. Jika syaraf-syaraf Johnson, yang merasa nyeri di kakinya ketika ia menendang keras sebuah batu, dihubungkan ke orang kedua secara paralel, maka orang itu akan merasakan kenyerian yang sama.

Jadi, kue atau batu manakah yang nyata? Filsafat materialisme lagi-lagi gagal memberi jawaban yang konsisten atas pertanyaan ini. Jawaban yang benar dan konsisten ialah berikut ini: baik Engels maupun orang kedua telah makan kue dalam benak mereka dan kenyang; baik Johnson maupun orang kedua telah sepenuhnya mengalami kejadian penendangan batu dalam benak mereka.
Mari kita buat perubahan di contoh yang kami berikan tentang Politzer. Mari kita hubungkan syaraf orang yang tertabrak bus dengan otak Politzer, dan syaraf Politzer yang sedang duduk di rumahnya ke otak orang yang tertabrak tersbut. Orang yang sebenarnya tertabrak bus itu tidak akan pernah merasakan dampak kecelakaan itu dan mengira bahwa ia sedang duduk di rumah Politzer. Logika yang sama persis dapat diterapkan terhadap contoh kue dan batu tadi.
Seperti yang kita lihat, manusia tidak mungkin melampaui inderanya dan melepaskannya. Dalam hal ini, jiwa manusia terbuka terhadap semua jenis gambaran kejadian fisik meskipun tidak mempunyai badan fisik dan tanpa keberadaan material atau pun bobot material. Manusia tidak mungkin menyadari hal ini karena ia menganggap kesan tiga dimensi ini nyata dan keberadaannya pasti, karena setiap orang tergantung pada persepsi yang dialami oleh organ-organ inderanya.
Filsuf Inggris terkenal David Hume mengungkapkan pikirannya tentang fakta ini:
Dengan berbicara blak-blakan, ketika saya memasukkan diri saya di sesuatu yang saya sebut "saya sendiri", saya selalu menjumpai penginderaan khusus yang mengenai panas atau dingin, terang atau gelap, cinta atau benci, pahit atau manis atau keadaan-keadaan lainnya. Tanpa keberadaan persepsi, saya tidak pernah dapat mencerap diri saya sendiri pada waktu tertentu dan saya tidak bisa mengamati apa pun kecuali persepsi.37


PEMBENTUKAN PERSEPSI DI OTAK BUKAN FILSAFAT MELAINKAN FAKTA ILMIAH

Penganut materialisme menyatakan bahwa yang kita bicarakan di sini ialah pandangan filosofis. Namun, berpendapat bahwa "dunia luar", sebagaimana kita menyebutnya, merupakan sekumpulan persepsi bukan materi filsafat, melainkan fakta ilmiah biasa. Jalan pembentukan kesan dan perasaan di dalam otak diajarkan dengan rinci di sekolah-sekolah kedokteran. Fakta-fakta ini, yang dibuktikan oleh ilmu pengetahuan abad ke-20 khususnya fisika, jelas menunjukkan bahwa zat tidak mempunyai realitas mutlak dan bahwa, dalam ertian tertentu, setiap orang sedang menyaksikan "monitor di otaknya".
Semua orang yang mempercayai ilmu pengetahuan, yang atheis, yang Buddhis, atau pun orang yang menganut pandangan lain, harus menerima fakta ini. Penganut materialisme bisa menolak keberadaan Pencipta, tetapi ia tidak bisa menolak realitas ilmiah ini.
Ketidakmampuan Karl Marx, Friedrich Engels, George Politzer dan lain-lain untuk memahami fakta dan bukti yang sedemikian sederhana itu masih mengherankan, meskipun tingkat pemahaman ilmiah pada zaman mereka mungkin tidak memadai. Di zaman kita, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat canggih dan penemuan-penemuan mutakhir mempermudah kita untuk memahami fakta ini. Sebaliknya, penganut materialisme diliputi dengan ketakutan untuk memahami fakta ini, bahkan sekalipun sebagian saja, dan menyadari betapa pasti hal ini melumpuhkan filsafat mereka.


KEKHAWATIRAN HEBAT PARA MATERIALIS

Untuk sementara, tidak ada tanggapan mendasar yang berasal dari kalangan materialis Turki tentang pokok bahasan yang dikemukakan dalam buku ini, yaitu fakta bahwa zat adalah persepsi belaka. Ini memberi kita kesan bahwa gagasan kita tidak begitu terang sehingga perlu dijelaskan lebih lanjut. Namun, lama sebelumnya, terungkap bahwa penganut materialisme merasa sangat tidak nyaman mengenai kepopuleran pokok bahasan ini, dan merasakan ketakutan yang besar tentang ini.
Beberapa kali, para penganut materialisme menyuarakan dengan keras ketakutan dan kepanikan mereka dalam penerbitan, konferensi, dan lokakarya mereka. Wacana mereka yang gelisah dan tiada berpengharapan mengisyaratkan bahwa mereka menderita krisis intelektual yang parah. Keruntuhan ilmiah teori evolusi, yang dianggap sebagai dasar filsafat mereka, telah sangat menggoncangkan mereka. Kini, mereka mulai menyadari bahwa mereka mulai kehilangan materi itu sendiri, yang merupakan arus utama yang lebih besar bagi mereka daripada Darwinisme, dan mereka sedang mengalami goncangan yang bahkan lebih besar. Mereka mengumumkan bahwa masalah ini merupakan "ancaman terbesar" bagi mereka dan secara total “mengoyak struktur kebudayaan mereka”.
Salah seorang yang paling keras mengungkapkan kecemasan dan kepanikan yang dirasakan oleh kalangan materialis ialah Rennan Pekunlu, seorang akademisi di samping penulis majalah Bilim ve Utopya (Sains dan Utopia) yang mengaku bertugas membela materialisme. Baik dalam artikelnya di Bilim ve Utopya maupun dalam lokakarya yang ia hadiri, Pekunlu memperlihatkan buku Evolution Deceit karya Harun Yahya sebagai ancaman nomor satu terhadap materialisme. Yang mengusik Pekunlu yang bahkan lebih mengancam daripada bab-bab yang membatilkan Darwinisme ialah bagian yang baru saja anda baca. Kepada pemirsa dan pembacanya, Pekunlu menyampaikan pesan, "jangan biarkan diri anda terhanyut oleh indoktrinasi idealisme dan tetap yakinlah anda terhadap materialisme". Ia mengutip Vladimir I. Lenin, pemimpin revolusi komunis berdarah di Rusia, sebagai acuan. Dengan menyarankan agar setiap orang membaca buku klasik Lenin yang berjudul Materialism and Empirio-Criticism, Pekunlu mengulangi nasihat Lenin, "jangan berpikir tentang masalah ini, atau anda akan keluar dari jalur materialisme dan hanyut oleh agama". Dalam sebuah artikel ia menulis di majalahnya yang tadi disebut, ia mengutip baris-baris berikut ini dari Lenin:
Sekali anda menolak kenyataan obyektif, yang sampai kepada kita secara inderawi, anda telah kehilangan semua senjata melawan fideisme, karena anda tergelincir ke dalam agnostisisme atau subyektivisme—dan itu sajalah yang dibutuhkan oleh fideisme. Sepasang cakar terjerat, dan si burung lenyap. Dan Jago-jago kita semuanya terjerat dalam idealisme, yaitu dalam fideisme yang licin; mereka terjerat sejak saat mereka menganggap "sensasi" bukan sebagai kesan dari alam luar melainkan sebagai "unsur" khusus. Ini bukan sensasi siapa pun, benak siapa pun, roh siapa pun, kehendak siapa pun.38

Kata-kata ini jelas menunjukkan bahwa fakta mengkhawatirkan ini, yang oleh Lenin disadari dan hendak dikeluarkan baik dari benaknya maupun benak “rekan-rekannya”, juga mengusik para materialis dengan cara sama. Meski begitu, Pekunlu dan para materialis lain menderita kesulitan yang lebih besar; karena mereka sadar bahwa fakta ini sekarang dikemukakan dengan cara yang lebih gamblang, lebih pasti dan lebih meyakinkan daripada 100 tahun silam. Untuk pertama kali dalam sejarah dunia, pokok bahasan ini dijelaskan dengan cara yang sedemikian menarik.

Meskipun demikian, gambaran umumnya ialah bahwa sejumlah besar ilmuwan materialis masih mengambil sikap yang sangat dangkal terhadap fakta bahwa "zat itu tiada lain kecuali sebuah ilusi". Pokok bahasan yang dijelaskan di bab ini ialah satu pokok bahasan terpenting dan paling menarik yang pernah mereka temui dalam kehidupan mereka. Mereka tidak berkesempatan menghadapi pokok bahasan yang sedemikian penting ini sebelumnya. Namun, reaksi para ilmuwan ini atau pun metode yang mereka terapkan dalam ceramah dan artikel mereka mengisyaratkan betapa dangkal dan semu pemahaman mereka.

Reaksi beberapa materialis terhadap subyek yang dibahas di sini menunjukkan bahwa kesetiaan mereka yang membabi buta kepada materialisme telah membahayakan logika mereka. Karena alasan ini, mereka jauh terlepas dari pemahaman pokok bahasan itu. Contohnya, Alaatin Senel, seorang akademisi dan penulis majalah Bilim ve Utopya, mengungkapkan sentimen yang serupa dengan kata-kata Rennan Pekunlu, "Lupakan runtuhnya Darwinisme, masalah yang sebenarnya mengancam adalah masalah ini". Dengan merasa bahwa filsafatnya sendiri tidak berdasar, ia membuat tuntutan seperti "buktikan kata-kata anda!". Yang lebih menarik, penulis ini menulis sendiri bahwa ia tidak bisa mengerti akan fakta ini, yang ia anggap sebagai ancaman.
Contohnya, dalam artikel yang membahas masalah ini secara eksklusif, Senel sependapat bahwa alam luar dicerap di otak sebagai kesan. Namun demikian, ia mengklaim bahwa kesan terbagi menjadi dua: yang mempunyai korelasi fisik dan yang tidak, dan bahwa kesan yang berhubungan dengan dunia luar mempunyai korelasi fisik. Untuk mendukung pernyataannya, ia memberi "contoh telepon". Pendek kata, ia menulis: "saya tidak tahu apakah kesan-kesan di otak saya mempunyai korelasi dengan dunia luar ataukah tidak, tetapi hal tersebut berlaku pula ketika saya berbicara di telepon. Ketika berbicara di telepon, saya tidak bisa melihat lawan bicara tetapi saya dapat mengkonfirmasikan pembicaraan ini bila kemudian saya bertemu langsung dengannya."39
Dengan mengatakan demikian, penulis ini sesungguhnya bermaksud: "Jika kita meragukan penginderaan kita, kita bisa melihat materi itu sendiri dan memeriksa realitasnya." Meski demikian, hal ini merupakan kesalahpahaman bukti, karena kita tidak mungkin menjangkau materi itu sendiri. Kita tidak mungkin mengeluarkan benak kita dan mengetahui hal-hal yang ada "di luar". Apakah suara di telepon berkorelasi ataukah tidak, dapat dikonfirmasikan oleh orang tersebut di ujung lainnya. Meski begitu, konfirmasi ini juga kesan, yang dialami di benak tersebut.
Orang-orang ini juga mengalami kejadian yang sama dalam mimpi-mimpi mereka. Contohnya, Senel juga bisa melihat dalam mimpinya bahwa ia berbicara di telepon dan kemudian mengadakan pembicaraan yang dikonfirmasikan oleh orang yang ia ajak bicara. Pekunlu bisa merasakan sendiri dalam mimpinya bahwa ia menghadapi "ancaman serius" dan menyarankan orang-orang agar membaca buku-buku klasik karya Lenin. Namun, tidak peduli apa yang mereka kerjakan, para materialis ini tidak bisa menyangkal bahwa kejadian yang mereka alami dan orang-orang yang mereka bicarakan dalam mimpi mereka tidak lain kecuali persepsi.
Lantas, siapa yang akan mengecek apakah kesan-kesan di otak memiliki korelasi ataukah tidak? Makhluk bayangan di otak? Sudah pasti, para materialis mustahil menemukan sumber informasi yang bisa memberi data mengenai luar otak dan mengkonfirmasikannya.
Dengan mengakui bahwa semua persepsi terbentuk di otak, tetapi menganggap bahwa orang bisa “keluar” dari ini dan mempunyai persepsi yang dikonfirmasi oleh dunia luar yang nyata, mengungkapkan bahwa kemampuan intelektual manusia terbatas dan bahwa penalarannya menyimpang.
Namun, siapa saja dengan tingkat pemahaman dan penalaran yang normal bisa dengan mudah memahami fakta-fakta ini. Setiap orang yang tidak menyimpang tahu, sehubungan dengan semua yang telah kita katakan, bahwa mustahil baginya menguji keberadaan dunia luar dengan inderanya. Akan tetapi, tampak bahwa kesetiaan yang membabi buta kepada materialisme menyimpangkan kemampuan penalaran manusia. Karena alasan ini, para materialis kontemporer menampilkan kelemahan logika yang fatal dalam penalaran mereka persis seperti para guru mereka yang berupaya "membuktikan" keberadaan zat dengan menendang batu atau memakan kue.
Juga dikatakan bahwa ini bukan situasi yang mengherankan, karena ketidakmampuan memahami merupakan sifat umum kaum kafir. Dalam Al-Qur’an, Allah pada khususnya menyatakan bahwa mereka “orang yang tidak berakal” (Surat al-Maai'dah, 58).


MATERIALISME TERJERUMUS KE DALAM PERANGKAP TERBESAR SEJARAH

Suasana kepanikan yang melanda kalangan materialis di Turki, yang beberapa contohnya telah kami sebut, menunjukkan bahwa para penganut materialisme menghadapi kerusakan parah, yang tidak pernah mereka temui sebelumnya dalam sejarah. Bahwa zat hanya suatu persepsi telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern dan dikemukakan dengan cara yang sangat jelas, lurus, dan kuat. Para penganut materialisme hanya bisa melihat dan mengakui jatuhnya seluruh dunia material yang secara membabi buta mereka percayai dan andalkan.

Pemikiran materialis selalu ada sepanjang sejarah manusia. Dengan penuh percaya diri dan dengan filsafat yang mereka yakini, mereka menentang Allah yang menciptakan mereka. Skenario yang mereka rumuskan bersikeras bahwa zat tidak mempunyai awal atau pun akhir, dan bahwa semua ini tidak mungkin mempunyai Pencipta. Karena kesombongan mereka, mereka menolak Allah dan melindungi materi, yang mereka anggap mempunyai keberadaan nyata. Mereka begitu percaya dengan filosofi ini. Mereka kira mustahil dikemukakan suatu penjelasan yang membuktikan kebalikannya.
Karena itulah fakta-fakta yang dibicarakan dalam buku ini yang berkenaan dengan hakikat zat yang sebenarnya itu amat mengejutkan orang-orang ini. Hal yang telah dibicarakan di sini menghancurkan dasar filosofi mereka dan tidak memungkinkan pembahasan lebih lanjut. Zat, yang menjadi dasar semua pemikiran, kehidupan, kesombongan dan penolakan mereka, semuanya sirna seketika. Bagaimana bisa ada materialisme jika tidak ada materi?

Salah satu sifat Allah ialah perencanaan-Nya terhadap kaum kafir. Hal ini dinyatakan di ayat “Mereka menyusun rencana, dan Allah juga membuat rencana, namun Allah perencana terbaik.” (Surat al-Anfaal, 30)
Allah menjebak para materialis dengan membuat mereka beranggapan bahwa ada zat dan merendahkan mereka dengan cara yang tidak terlihat. Para materialis menganggap bahwa barang mereka, status, kedudukan, masyarakat yang mereka miliki, seluruh dunia dan segala hal lain benar-benar ada dan semakin sombong kepada Allah dengan mengandalkan hal-hal ini. Mereka menentang Allah dengan sombong dan semakin tidak beriman. Ketika melakukan demikian, mereka sepenuhnya mengandalkan materi. Akan tetapi, mereka begitu kurang memahami sehingga mereka gagal berpikir bahwa Allah meliputi mereka. Allah mengumumkan keadaan yang akan menimpa orang-orang kafir sebagai akibat dari keras-kepala mereka:

Ataukah mereka bermaksud menipu? Tetapi mereka yang tak beriman itulah yang tertipu! (Surat ath-Thuur, 42)

Hal ini mungkin merupakan kerusakan mereka yang terbesar dalam sejarah. Ketika semakin sombong, para materialis itu terjebak dan menderita kerusakan serius dalam perang yang mereka biayai melawan Allah dengan mengemukakan sesuatu yang amat bertentangan dengan Allah. Ayat “Begitulah Kami tempatkan dalam setiap kota pemuka-pemuka orang yang jahat supaya mengadakan tipu muslihat di situ, tetapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadari” mengungkap betapa tak sadar orang-orang yang menentang Pencipta mereka ini, dan mengungkap bagaimana ujung-ujungnya (Surat al-An'aam, 123). Dalam ayat lain, fakta serupa dikaitkan sebagai:

Mereka hendak menipu Allah dan orang beriman, tetapi mereka hanya menipu diri sendiri, dan tidak mereka sadari! (Surat al-Baqarah, 9)

Ketika orang kafir mencoba merencanakan, mereka tidak menyadari suatu fakta yang sangat penting yang ditekankan dengan kata-kata "mereka hanya menipu diri sendiri, dan tidak mereka sadari!" dalam ayat itu. Inilah yang nyata bahwa segala yang mereka alami adalah suatu imajinasi yang dirancang untuk dicerap oleh mereka, dan semua rencana yang mereka kemukakan hanya kesan-kesan yang terbentuk di otak mereka persis seperti setiap adegan lain yang mereka perankan. Kebodohan mereka membuat mereka lupa bahwa mereka semua sendirian dengan Allah dan, karena itu, mereka terperangkap dalam rencana mereka sendiri yang berliku-liku.
Tidak berbeda dari orang kafir yang hidup di masa silam, orang kafir yang hidup di zaman sekarang menghadapi suatu kenyataan yang akan menyebarkan rencana berlika-liku mereka dengan landasan mereka. Dengan ayat "... diperdayakan oleh setan-setan” (Surat al-An’aam, 71), Allah berfirman bahwa rencana ini berakhir dengan kegagalan pada hari perencanaannya. Allah menyampaikan berita baik kepada orang beriman dengan ayat "... Tipu muslihat mereka sama sekali tidak merugikan kamu." (Surat Aali ‘Imraan, 120)

Dalam ayat lain, Allah berfirman: "Tetapi mereka yang kafir, amal mereka sepreti bayangan di padang pasir, yang oleh orang yang sedang kehausan dikira air, sehingga bila ia sampai ke tempatnya, tak ada apa-apa, tetapi yang ditemuinya Allah bersama dia, dan Allah membuat perhitungan." (Surat an-Nuur, 39). Materialisme juga menjadi suatu "bayangan" bagi yang memberontak seperti yang dinyatakan dalam ayat ini; bila mereka menemukan jalan lain, mereka tidak mendapati apa-apa selain ilusi. Allah menipu mereka dengan bayangan sedemikian, dan memperdaya mereka sehingga mereka mencerap seluruh kumpulan kesan ini sebagai sesuatu yang nyata. Semua orang yang "terkemuka", profesor, astronom, biolog, fisikawan, dan lain-lain, apa pun kedudukan dan status mereka, terperdaya begitu saja seperti anak-anak, dan terhina karena mereka mengambil materi sebagai tuhan mereka. Dengan menganggap sekumpulan kesan itu mutlak, mereka mendasarkan filosofi dan ideologi mereka pada sekumpulan kesan itu, menjadi terlibat dalam diskusi serius, dan menggunakan wacana yang disebut "intelektual". Mereka menganggap mereka cukup bijaksana menawarkan suatu argumen tentang kebenaran alam semesta dan, yang lebih penting, menentang Allah dengan intelegensi mereka yang terbatas. Allah menerangkan situasi mereka dalam ayat berikut ini:

Mereka menyusun rencana, dan Allah juga membuat rencana, namun Allah perencana terbaik. (Surat Aali 'Imraan, 54)


Lari dari beberapa rencana mungkin bisa; namun, rencana Allah terhadap orang kafir ini sangat mantap sehingga tiada jalan untuk keluar dari rencana itu. Tidak peduli apa yang mereka lakukan atau siapa yang mereka pikat, mereka tidak pernah menemukan penolong selain Allah. Seperti firman Allah dalam Al-Qur'an, "Mereka takkan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah."(Surat an-Nisaa’, 173)
Para materialis tiada pernah menduga terjerumus dalam perangkap sedemikian itu. Dengan memiliki semua sarana penyelesaian abad ke-20, mereka mengira bisa memperkokoh kekafiran mereka dan mempengaruhi orang-orang agar tidak beriman. Allah menggambarkan mentalitas abadi orang kafir dan akhir riwayat mereka dalam al-Qur'an sebagai berikut:
Mereka menyusun rencana, dan kami pun membuat rencana, sementara mereka tidak menyadari. Maka lihatlah, bagaimana akibat rencana mereka; Kami binasakan mereka dan golongan mereka semua. (Surat an-Naml, 50-51)

Di tingkat lain, inilah maksud ayat-ayat itu: pengikut materialisme dibuat menyadari bahwa segala yang mereka miliki adalah ilusi, dan karena itu segala yang mereka miliki binasa. Saat mereka menyaksikan harta, pabrik, emas, uang, anak, pasangan hidup, teman, kedudukan dan status, dan bahkan tubuh mereka sendiri, semua yang mereka anggap ada itu terlepas jauh dari tangan mereka, semuanya "binasa" seperti yang difirmankan di ayat 51 Surat an-Naml. Dalam hal ini, semua itu bukan lagi kesatuan materi, melainkan jiwa.

Tentu saja, menyadari kebenaran ini merupakan situasi yang mungkin terburuk bagi para materialis. Begitu juga fakta bahwa segala yang mereka miliki hanya ilusi atau, dengan kata lain, "mati sebelum meninggal" di dunia ini.
Kenyataan ini membiarkan mereka sendirian dengan Allah. Dengan ayat, "Biarlah Aku (berhadapan) dengan makhluk yang Aku ciptakan (telanjang dan) seorang diri!” (Surat al-Muddatstsir, 11), Allah menyeru kita untuk mengikuti fakta bahwa sebenarnya manusia seorang diri saja dalam kehadiran-Nya. Kenyataan yang luar biasa ini diulangi di ayat-ayat lain:

Dan sungguh-sungguh kamu mendatangi Kami seorang diri seperti ketika pertama kali Kami menciptakan kamu; dan segala yang Kami karuniakan kepadamu kamu tinggalkan di belakangmu ... (Surat al-An'aam, 94)


Dan setiap orang datang kepada-Nya pada hari kiamat seorang diri. (Surat Maryam, 95)

Di tingkat lain, ayat-ayat itu menunjukkan: mereka yang menganggap materi sebagai tuhan mereka berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya. Mereka telah menyerahkan kehendak mereka kepada Allah, entah mereka inginkan entah tidak. Kini mereka menunggu Hari Perhitungan kala setiap orang dari mereka akan dipangil untuk bertanggung jawab, kendatipun mereka mungkin tidak ingin memahaminya.


KESIMPULAN

Pokok bahasan yang telah kami jelaskan sejauh ini merupakan salah satu kebenaran terbesar yang pernah dikabarkan di sepanjang hidup anda. Dengan membuktikan bahwa seluruh dunia materi sebenarnya merupakan "makhluk bayang-bayang", pokok bahasan ini merupakan kunci untuk memahami keberadaan Allah dan ciptaan-Nya dan memahami bahwa Dialah satu-satunya keberadaan yang mutlak.

Orang yang memahami pokok bahasan ini menyadari bahwa dunia bukan jenis tempat [nyata] sangkaan kebanyakan orang. Dunia bukan tempat mutlak dengan keberadaan sejati seperti anggapan orang-orang yang berkeliaran tanpa tujuan di jalan-jalan, berkelahi di pub-pub, bermewah-mewah, memamerkan kekayaan mereka, atau yang mengabdikan hidup demi tujuan-tujuan dangkal. Dunia ini hanya sekumpulan persepsi, suatu ilusi. Semua orang yang kita sebut di atas hanya makhluk bayang-bayang yang melihat persepsi-persepsi ini dalam benak mereka; namun, mereka tidak menyadarinya.
Konsep ini sangat penting karena menghancurkan dan meruntuhkan filsafat materialisme yang menolak keberadaan Allah. Hal ini yang menyebabkan para materialis seperti Marx, Engels, dan Lenin merasa panik, murka, dan memperingatkan pengikut mereka "untuk tidak memikirkan" konsep ini kala mereka diberitahu hal itu. Orang-orang ini begitu lemah mentalnya sehingga mereka bahkan tidak bisa memahami bahwa penginderaan itu terbentuk di dalam otak. Mereka menganggap bahwa dunia yang mereka saksikan di otak mereka adalah "dunia luar" dan tidak bisa memahami bukti gamblang yang [menunjukkan] sebaliknya.

Ketidaksadaran ini merupakan hasil dari kurangnya kearifan yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang tak beriman. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an, orang-orang kafir “mempunyai kalbu, tidak juga mau menyadari, mereka mempunyai mata, tidak juga mau melihat dan mereka mempunyai telinga, tidak juga mau mendengar. Mereka sudah seperti ternak, bahkan lebih sesat lagi, karena mereka sudah lalai.” (Surat al-A'raaf, 179)

Anda bisa merambah melampaui hal ini dengan menggunakan kekuatan cermin pribadi anda. Untuk ini, anda harus berkonsentrasi, memusatkan perhatian anda, dan merenung pada waktu melihat obyek-obyek di sekitar anda dan merasakan sentuhan mereka. Jika anda berpikir dengan kepala dingin, anda bisa merasakan bahwa makhluk pintar yang melihat, mendengar, menyentuh, berpikir, dan membaca buku di saat ini hanya seorang roh dan menyaksikan cerapan yang disebut "materi" di selembar layar. Orang yang memahami ini akan telah beranjak dari ranah dunia materi yang menipu sebagian besar manusia, dan memasuki ranah keberadaan hakiki.
Kenyataan ini dipahami oleh sejumlah teis atau filsuf sepanjang sejarah. Intelektual Islam seperti Imam Rabbani, Muhyiddin Ibn al-'Arabi, dan Maulana Jami menyadari hal ini dari ayat-ayat al-Qur'an dan dengan menggunakan akal mereka. Sebagian filsuf Barat seperti George Berkeley memahami realitas yang sama melalui akal. Imam Rabbani menulis dalam Maktubat (Surat-Surat)-nya bahwa seluruh alam materi itu "bayangan dan sangkaan (cerapan)" dan bahwa satu-satunya keberadaan mutlak itu ialah Allah:
Allah ... Substansi makhluk-makhluk yang Ia ciptakan ini tidak lain kecuali ketiadaan ... Ia ciptakan semuanya dalam cakupan indera dan ilusi ... Keberadaan alam semesta ini adalah di cakupan indera dan ilusi, dan ini bukan materi ... Pada hakikatnya, tiada yang berada di luar kecuali Yang Agung. (Yaitu Allah).40
Imam Rabbani secara terang-terangan menyatakan bahwa semua kesan yang tersaji untuk manusia hanya ilusi, dan bahwa kesan-kesan itu tidak asli di "luar".
Siklus khayalan ini tergambar dalam imajinasi. Terlihat jelas bahwa ini tergambar, namun dengan mata benak. Di luar, tampak seakan-akan ini terlihat dengan mata kepala. Akan tetapi, kejadiannya bukan demikian. Tidak ada penandaan atau pun jejak di luar. Tiada keadaan yang akan terlihat. Bahkan wajah seseorang yang terpantul di sebidang cermin memang seperti itu. Keadaannya di luar tidak stabil. Tiada keraguan, baik kesan maupun kestabilannya ada dalam IMAJINASI. Allah lebih mengetahui.41
Maulana Jami menyatakan fakta serupa, yang ia temukan dengan mengikuti ayat-ayat Al-Qur'an dan dengan menggunakan kecerdasannya: "Apa pun yang ada di alam semesta adalah inderawi dan ilusi. Mereka itu seperti pantulan di cermin atau bayang-bayang."
Namun demikiam, jumlah orang yang memahami fakta ini sepanjang sejarah selalu terbatas. Ulama besar seperti Imam Rabbani telah menulis bahwa mungkin tidak bijaksana menuturkan kenyataan ini kepada masyarakat luas karena kebanyakan orang tidak mampu memahaminya.

Di abad di masa hidup kita, telah tersusun fakta empiris melalui struktur bukti yang dikemukakan oleh ilmu pengetahuan. Kenyataan bahwa alam semesta merupakan makhluk bayang-bayang diuraikan dengan cara yang demikian jelas, konkret, dan terbuka untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Karena alasan ini, abad ke-21 akan menjadi titik balik bersejarah ketika manusia pada umumnya akan memahami realitas ilahi dan berbondong-bondong menuju Allah, satu-satunya keberadaan yang mutlak. Paham materialis abad ke-19 akan tersingkir ke keranjang-sampah sejarah. Keberadaan Allah dan ciptaan-Nya akan dimengerti, ketiadaan ruang dan waktu akan dipahami, manusia akan bebas dari selubung, kebohongan, dan takhyul yang menyesatkan mereka berabad-abad.
Mustahil kejadian yang tak terhindarkan ini terusik oleh makhluk bayang-bayang apa pun.


RELATIVITAS WAKTU DAN KENYATAAN TAKDIR

Segala hal yang berkaitan sejauh ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya “ruang berdimensi tiga” tidak ada, tetapi merupakan prasangka yang sepenuhnya ditemukan dalam persepsi dan yang menyebabkan seluruh kehidupan seseorang [menjadi berada] dalam ketiadaan ruang. Menyatakan kebalikannya akan berarti berpegang pada keyakinan takhyul yang jauh terlepas dari akal dan kebenaran ilmiah, karena tidak ada bukti sah keberadaan dunia materi berdimensi tiga.
Hal ini menolak anggapan utama filosofi materialisme yang mendasari teori evolusi, anggapan bahwa zat adalah mutlak dan abadi. Anggapan kedua yang merupakan sandaran filosofi materialisme ialah sangkaan bahwa waktu adalah mutlak dan kekal. Aggapan ini sama-sama takhyul dengan anggapan pertama.


PENCERAPAN WAKTU

Sesuatu yang kita cerap sebagai waktu, sebenarnya, adalah suatu metode pembandingan satu momen dengan yang lain. Kami bisa menjelaskan hal ini dengan contoh. Contohnya, ketika seseorang mengetuk suatu obyek, ia mendengar suara tertentu. Ketika ia mengetuk obyek yang sama lima menit kemudian, ia mendengar suara lain. Orang itu mencerap jarak waktu antara suara pertama dan suara kedua, dan ia menyebut interval ini "waktu". Tetapi pada saat ia mendengar suara kedua, suara pertama yang ia dengar tidak lebih dari imajinasi dalam benaknya. Ini hanya sepotong informasi dalam ingatannya. Orang itu merumuskan konsep "waktu" dengan membandingkan saat ia hidup dengan yang ia miliki dalam ingatannya. Jika pembandingan ini tidak dibuat, tidak mungkin ada konsep waktu.

Demikian pula, orang membuat pembandingan ketika ia melihat seseorang yang sedang memasuki ruang melewati pintu dan duduk di lengan kursi di tengah ruang. Pada waktu orang ini duduk di lengan kursi, kesan yang terkait dengan saat ia membuka pintu, berjalan menuju ruang, dan mengarahkan jalannya ke lengan kursi disusun sebagai potongan-potongan informasi dalam otaknya. Pencerapan waktu terjadi kala seseorang membandingkan orang yang sedang duduk di lengan kursi dengan potongan informasi itu.
Pendek kata, waktu menjadi ada sebagai akibat dari pembandingan yang dibuat antara ilusi-ilusi yang tersimpan dalam otak. Jika manusia tidak punya ingatan, maka otaknya tidak akan membuat penafsiran demikian dan karena itu tidak akan pernah membentuk konsep waktu. Satu-satunya alasan mengapa seseorang menentukan dirinya sendiri berusia tiga puluh tahun ialah karena ia telah mengumpulkan informasi berkenaan dengan usia tiga puluh tahun dalam benaknya. Jika ingatannya tidak ada, maka ia tidak akan berpikir tentang keberadaan waktu terdahulu dan ia hanya akan mengalami "saat" tunggal kala ia hidup.


PENJELASAN ILMIAH TENTANG KETIADAAN WAKTU

Mari kita terangkan pokok bahasan ini dengan mengutip berbagai penjelasan ilmuwan dan cendekiawan tentang pokok bahasan ini. Berkenaan dengan pokok bahasan waktu yang mengalir ke belakang, François Jacob, profesor genetika peraih Nobel dan intelektual terkenal, menyatakan dalam bukunya Le Jeu des Possibles (Yang Mungkin dan Yang Nyata) berikut ini:
Film yang diputar balik memungkinkan kita untuk membayangkan suatu dunia yang waktunya mengalir ke belakang. Suatu dunia dengan susu yang memisahkan diri sendiri dari kopi dan meloncat keluar dari mangkok untuk mencapai wadah susu; suatu dunia yang sinar-sinar terang terpancar dari dinding untuk terkumpul dalam sebuah perangkap (pusat gravitasi), tidak lagi memancar keluar dari sumber cahaya; suatu dunia yang sebuah batu meluncur ke telapak tangan seseorang bersama dengan tetesan air yang tak terhitung yang memungkinkan batu meloncat dari air. Tetapi, di dunia sedemikian rupa yang waktunya mempunyai sifat yang bertolak-belakang, proses otak kita, dan cara otak kita mengumpulkan informasi, berjalan ke belakang pula. Hal ini berlaku untuk masa lalu dan masa mendatang dan dunia akan tampak di depan kita tepat seperti yang baru saja tampak.42

Karena otak kita terbiasa dengan urutan peristiwa tertentu, dunia berjalan bukan seperti yang terkait di atas dan kita menganggap bahwa waktu selalu mengalir ke depan. Akan tetapi, hal ini merupakan putusan yang dicapai di otak dan bersifat relatif. Pada kenyataannya, kita tidak pernah bisa mengetahui bagaimana waktu mengalir atau bahkan apakah mengalir ataukah tidak. Ini merupakan indikasi fakta bahwa waktu bukanlah fakta mutlak, melainkan hanya semacam cerapan.
Relativitas waktu adalah fakta yang juga teruji oleh salah seorang fisikawan terpenting abad 20, Albert Einstein. Lincoln Barnett menulis dalam bukunya The Universe and Dr. Einstein:

Bersama-sama dengan kemutlakan ruang, Einsten membuang konsep kemutlakan waktu—mengenai aliran waktu semesta yang tetap, itu-itu saja, tidak bisa ditawar-tawar, yang mengalir dari masa lalu yang tak terbatas ke masa depan yang tak terbatas. Sebagian besar kekaburan yang melingkupi Teori Relativitas berasal dari keengganan manusia untuk mengakui bahwa rasa waktu, seperti rasa warna, merupakan bentuk cerapan. Tepat seperti ruang yang mungkin hanya tatanan obyek materi, waktu pun mungkin hanya tatanan peristiwa. Subyektivitas waktu itu dijelaskan dengan sebaik-baiknya dengan kata-kata Einsten sendiri. "Pengalaman individu," katanya, "tampak pada kita tertata dalam serangkaian peristiwa; dalam rangkaian ini, peristiwa tunggal yang kita ingat [menjadi] tampak tertata menurut kriteria "terdahulu" dan "terkemudian". Karena itu, ada waktu bagi individu, waktu-saya, atau waktu subyektif. Hal ini dengan sendirinya tidak bisa terukur. Sesungguhnya saya bisa mengasosiasikan angka-angka dengan peristiwa-peristiwa, dengan cara sedemikian rupa sehingga angka yang lebih besar lebih diasosiasikan dengan peristiwa terkemudian daripada dengan yang terdahulu.43
Einstein sendiri menunjukkan, seperti yang dikutip dalam buku Barnett: "ruang dan waktu merupakan bentuk intuisi, yang tidak bisa dipisahkan dari kesadaran lebih daripada yang bisa [dipisahkan dari] konsep warna, bentuk atau ukuran." Menurut Teori Relativitas Umum: "waktu tidak mempunyai keberadaan yang bebas terpisah dari tatanan peristiwa yang dengannya kita mengukurnya.”44
Karena terdiri dari cerapan, waktu tergantung sepenuhnya pada pencerapnya dan karena itu bersifat relatif.

Kecepatan pengaliran waktu berbeda menurut acuan yang kita gunakan untuk mengukurnya karena tidak ada jam alamiah dalam tubuh manusia untuk menunjukkan dengan tepat seberapa cepat waktu melintas. Seperti tulisan Lincoln Barnett: "Tepat seperti hal-hal semacam warna yang tidak ada tanpa pencerapan oleh mata, seketika atau sejam atau sehari pun tidak ada tanpa penandaan oleh peristiwa."45
Relativitas waktu dialami dengan jelas dalam mimpi. Meskipun yang kita lihat dalam mimpi tampaknya berlangsung selama berjam-jam, itu sebenarnya hanya berlangung selama beberapa menit, dan bahkan beberapa detik.

Mari kita perhatikan contoh untuk menerangkan masalah ini lebih lanjut. Mari kita anggap bahwa kita berada di suatu ruang dengan satu jendela saja yang dirancang khusus dan kita tetap di sana selama jangka waktu tertentu. Ada jam di ruang itu yang dengannya kita bisa melihat jumlah waktu yang melintas. Pada saat yang sama, anggaplah bahwa melalui jendela ruang kita melihat matahari yang terbit dan tenggelam pada jarak waktu tertentu. Beberapa hari kemudian, jawaban yang akan kita berikan atas pertanyaan tentang jumlah waktu yang kita habiskan di kamar itu akan berdasarkan baik pada informasi yang telah kita kumpulkan dengan melihat jam dari satu waktu ke waktu lainnya maupun dengan hitungan yang kita buat menunjukkan berapa kali matahari terbit dan tenggelam. Umpamanya, kita perkirakan bahwa kita hanya menghabiskan tiga hari di ruang itu. Akan tetapi, jika orang yang meletakkan kita di ruang itu berkata bahwa kita hanya menyita dua hari di ruang itu dan bahwa matahari yang kita lihat dari jendela itu buatan yang dihasilkan oleh suatu mesin simulasi dan bahwa jam di kamar itu diatur khusus untuk berfungsi lebih cepat, maka penghitungan yang kita lakukan tidak memiliki makna.
Contoh ini menegaskan bahwa informasi yang kita miliki tentang tingkat lintasan waktu didasarkan pada acuan relatif. Relativitas waktu ialah fakta ilmiah yang juga terbukti dengan metode ilmiah. Teori Relativitas Umum Einstein pun berpendapat bahwa kecepatan waktu berubah tergantung pada kecepatan obyek dan posisinya di medan gravitasi. Bila kecepatan terus bertambah, waktu disingkatkan dan dipadatkan: waktu melambat seolah-olah sampai ke titik "berhenti".

Mari kita jelaskan hal ini dengan suatu contoh yang diberikan oleh Einsten. Bayangkan dua anak kembar, satu darinya tinggal di bumi sementara yang lainnya bepergian di ruang angkasa dengan kecepatan yang mendekati cahaya. Ketika ia kembali, anak kembar yang bepergian di ruang angkasa akan melihat bahwa saudaranya telah tumbuh jauh lebih tua daripada dirinya. Alasannya adalah bahwa waktu mengalir lebih lambat pada orang yang bepergian dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Mari kita bayangkan [ada] seorang ayah yang bepergian di ruang angkasa sedangkan anaknya diam di bumi. Jika si ayah berusia duapuluh tujuh tahun ketika berangkat sedangkan si anak tiga tahun; [maka] ketika ayahnya kembali ke bumi tigapuluh tahun kemudian (waktu bumi), anaknya akan berusia tigapuluh tiga tahun sementara ayahnya hanya tigapuluh [tahun].46 Relativitas waktu ini tidak disebabkan oleh pelambatan atau pun pencepatan arloji, atau pun pelambatan pegas mekanis. Ini justru merupakan hasil dari perbedaan periode kerja seluruh sistem keberadaan materi, yang jangkauannya sedalam partikel sub-atom. Dengan kata lain, bagi orang yang mengalaminya, pemendekan waktu tidak dialami seolah-olah berakting di film yang bergerak lambat. Dalam pranata yang sedemikian itu, yang waktunya memendek, detak jantung seseorang, penggandaan selnya, dan fungsi otaknya, dan lain-lain, semuanya bekerja lebih lambat daripada orang yang bergerak lebih lambat di bumi. Namun demikian, orang itu melanjutkan kehidupan sehari-harinya dan sama sekali tidak memperhatikan pemendekan waktu. Bahkan sesungguhnya pemendekan itu tidak sampai tampak sebelum dilakukan pembandingan.


RELATIVITAS DALAM AL-QUR'AN

Kesimpulan yang ditimbulkan oleh temuan-temuan ilmu pengetahuan modern adalah bahwa waktu bukanlah fakta mutlak seperti sangkaan para penganut materialisme, melainkan hanya cerapan relatif. Yang paling menarik ialah bahwa fakta ini, yang tidak ditemukan sampai abad ke-20 oleh ilmu pengetahuan, diungkapkan kepada umat manusia dalam Al-Qur'an empatbelas abad silam. Ada berbagai acuan dalam al-Qur'an mengenai relativitas waktu.
Di banyak ayat al-Qur'an bisa dilihat fakta yang terbukti secara ilmiah bahwa waktu merupakan persepsi psikologis yang tergantung pada peristiwa, pranata, dan kondisi. Contohnya, seluruh kehidupan seseorang sangat singkat seperti yang dikabarkan dalam Al-Qur'an:

Ketika suatu hari kamu akan dipanggil dan kamu akan memenuhi (penggilan-Nya) dengan (kata-kata) pujian kepada-Nya, dan kamu akan mengira bahwa kamu tinggal (di dunia ini) hanya sebentar. (Surat al-Israa’, 52)

Dan suatu hari bilamana ia mengumpulkan mereka, seolah-olah mereka berdiam (di bumi) hanya sesaat pada siang hari; mereka akan saling mengenal. (Surat Yuunus, 45)

Beberapa ayat menunjukkan bahwa orang-orang mencerap waktu dengan berlainan dan bahwa terkadang orang-orang dapat mencerap jangka waktu yang sangat singkat sebagai waktu yang sangat lama. Percakapan orang-orang yang terjadi selama pengadilan mereka di akhirat berikut ini merupakan contoh baik tentang hal ini:

Ia berkata, “Berapa tahun sudah kamu tinggal di bumi ini?” Mereka berkata, “Kami tinggal sehari atau sebagian dari sehari; tapi tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.” Ia berfirman, “Kami tinggal hanya sebentar, kalau kamu tahu!” (Surat al-Mu’minuun, 112-114)


Di beberapa ayat lain Allah menyatakan bahwa waktu dapat mengalir melalui tahap yang berbeda dalam pranata yang berbeda:

Mereka meminta kepadamu supaya azab dipercepat, tetapi Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sungguh, satu hari menurut Allah seperti seribu tahun dalam perhitungan kamu. (Surat al-Hajj, 47)

Para malaikat dan roh naik kepada-Nya pada suatu hari yang ukurannya limapuluh ribu tahun. (Surat al-Ma’aarij, 4)

Ia mengatur semua urusan dari langit sampai ke bumi, kemudian (semua itu) kembali kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan kamu. (Surat as-Sajdah, 5)

Ayat-ayat ini merupakan ungkapan jelas tentang relativitas waktu. Bahwa hasil ini, yang baru saja dipahami oleh ilmuwan abad 20, dikomunikasikan kepada manusia 1.400 tahun lalu dalam al-Qur'an merupakan suatu indikasi wahyu Al-Qur'an oleh Allah, yang meliputi seluruh waktu dan ruang.

Terdapat banyak ayat al-Qur'an lain yang menunjukkan bahwa waktu adalah cerapan. Ini merupakan bukti khas dalam kisah-kisah itu. Contohnya, Allah telah menjaga Ashhaabul Kahfi, sekelompok orang beriman yang disebutkan dalam Al-Qur'an, yang tidur lelap selama lebih dari tiga abad. Ketika mereka bangun, orang-orang ini mengira bahwa mereka telah tinggal dalam keadaan itu sebentar saja, dan tidak bisa menghitung berapa lama mereka tertidur:

Lalu Kami tarik (sehelai tabir) ke telinga mereka, dalam gua selama beberapa tahun, (sehingga mereka tidak mendengar). Kemudian Kami bangkitkan mereka, untuk Kami uji, mana dari kedua golongan menghitung lebih baik: berapa lama mereka tinggal. (Surat al-Kahfi, 11-12)

Demikianlah Kami bangkitkan mereka (dari tidur) supaya mereka saling bertanya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Berapa lama kamu tinggal (di sini)?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (barangkali) sehari atau sebagian dari sehari.” (Akhirnya) mereka (semua) berkata, “(Hanya) Tuhan yang mengetahui (berapa lama) kamu tinggal (di sini).... (Surat al-Kahfi, 19)

Situasi yang dikisahkan dalam ayat di bawah ini juga merupakan bukti bahwa waktu sebenarnya merupakan cerapan psikologis.
Atau seperti orang yang melewati sebuah dusun yang sudah runtuh sampai ke atap-atapnya, ia berkata: "Oh, bagaimana Allah menghidupkan semua ini setelah mati?" lalu Allah membuat orang itu mati selama seratus tahun kemudian membangkitkannya kembali. Ia (Allah) berfirman: "Tidak, bahkan seratus tahun, maka lihatlah makananmu dan minumanmu, tidak rusak. Tetapi lihatlah keledaimu; dan akan Kami jadikan engkau suatu tanda bagi manusia; dan lihatlah tulang-belulang itu bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka setelah jelas kepadanya ia pun berkata: "Aku tahu bahwa Allah berkuasa atas segalanya." (Surat al-Baqarah, 259)Ayat di atas jelas menekankan bahwa Allah, Yang menciptakan waktu, tidak dibatasi oleh waktu. Sebaliknya, manusia dibatasi oleh waktu, yang ditakdirkan Allah. Seperti dalam ayat itu, manusia bahkan tidak mampu mengetahui berapa lama ia tertidur. Dalam keadaan demikian, pernyataan bahwa waktu adalah mutlak (sebagaimana pernyataan para penganut materialisme dalam pemikiran mereka yang menyimpang) sangat tidak masuk akal.


TAKDIR

Relativitas waktu ini mejernihkan masalah yang sangat penting. Relativitas begitu berubah-ubah sehingga suatu periode yang tampaknya berdurasi milyaran tahun bagi kita mungkin berlangsung hanya beberapa detik dalam perspektif lain. Lagipula, suatu periode waktu yang sangat lama yang membentang dari permulaan dunia sampai akhir dunia mungkin tidak berlangsung walau sedetik saja di dimensi lain.
Inilah intisari konsep takdir—suatu konsep yang tidak dipahami dengan baik oleh kebanyakan orang, khususnya para materialis yang sepenuhnya menolak [konsep] ini. Takdir ialah pengetahuan Allah yang sempurna tentang semua peristiwa masa lalu atau pun masa datang. Kebanyakan orang mempertanyakan bagaimana Allah telah mengetahui peristiwa-peristiwa yang belum dialami dan menyebabkan mereka gagal dalam memahami keotentikan takdir. Bagaimanapun, "peristiwa yang belum dialami" hanya demikian bagi kita. Allah tidak dibatasi oleh waktu atau pun ruang karena Ia sendiri yang menciptakannya. Karena alasan ini, masa lalu, masa datang, dan masa sekarang semuanya sama bagi Allah; bagi-Nya segala sesuatu telah terjadi dan berakhir.
Dalam bukunya The Universe and Dr. Einstein, Lincoln Barnett menerangkan bagaimana Teori Relativitas Umum sampai pada kesimpulan ini. Menurut Barnett, alam semesta dapat "tercakup dengan seluruh kemegahannya hanya oleh intelek kosmik”.47 Kehendak yang oleh Barnett disebut “intelek kosmik” merupakan bijaksanaan dan pengetahuan Allah, yang berlaku bagi segenap alam. Sama sebagaimana kita dapat dengan mudah melihat pangkal, tengah, dan ujung penggaris, dan semua satuan di antara [pangkal-ujung] sebagai satu keutuhan, Allah mengetahui waktu yang kita patuhi seolah-olah waktu merupakan satu peristiwa mulai dari awal hingga akhir. Akan tetapi, manusia mengalami insiden hanya ketika waktu mereka sampai, dan mereka menyaksikan takdir yang telah Alah ciptakan bagi mereka.

Perlu pula diperhatikan dangkalnya pemahaman yang menyimpang mengenai takdir yang berlaku di masyarakat kita. Keyakinan yang menyimpang tentang takdir ini merupakan suatu takhyul bahwa Allah telah menentukan "takdir" bagi setiap manusia tetapi bahwa takdir-takdir ini terkadang bisa diubah oleh manusia. Contohnya, orang memberikan pernyataan semu tentang seorang pasien yang kembali dari pintu kematian seperti "ia mengalahkan takdirnya". Tiada seorang pun yang dapat mengubah takdir. Orang yang kembali dari pintu kematian sesungguhnya tidak meninggal karena ia tidak ditakdirkan untuk meninggal pada saat itu. Ironisnya, inilah takdir orang-orang itu yang membohongi diri mereka sendiri dengan mengatakan "Saya mengalahkan takdir saya" bahwa mestinya mereka katakan demikian dan tetap berpola pikir demikian.
Takdir adalah pengetahuan yang abadi dari Allah dan bagi Allah, Yang mengetahui waktu seperti satu kejadian saja dan yang berlaku atas seluruh waktu dan ruang; segala sesuatu ditentukan dan diakhiri dalam takdir. Kita juga memahami dari sesuatu yang Allah hubungkan dalam Al-Qur'an bahwa waktu itu satu bagi Allah: banyak kejadian yang dalam pandangan kita akan terjadi di masa datang dikaitkan dalam Al-Qur'an dengan cara sedemikian seolah-olah [kejadian-kejadian] itu telah berlangsung jauh-jauh sebelumnya. Contohnya, ayat-ayat yang memerikan catatan bahwa manusia harus menyerahkan diri kepada Allah di akhirat dihubungkan sebagai peristiwa-peristiwa yang telah terjadi lama sekali:

Sangkakala ditiup, maka segala yang ada di langit dan yang ada di bumi pingsan, kecuali yang dikehendaki oleh Allah (dikecualikan). Kemudian itu ditiup sekali lagi, tiba-tiba mereka berdiri tegak dan menunggu. Dan bumi memancarkan cahaya Tuhannya; Kitab (catatan segala perbuatan) akan diletakkan (terbuka); para nabi dan saksi-saksi akan didatangkan, dan dijatuhkanlah keputusan yang adil di antara mereka, dan mereka pun tak akan dirugikan. (Surat az-Zumar, 68-69)

Orang-orang kafir dibawa ke neraka berbondong-bondong. (Surat az-Zumar,71)

Dan mereka yang bertakwa kepada Tuhan akan dibawa ke dalam surga berbondong-bondong… (Surat az-Zumar, 73)

Beberapa ayat lain dalam masalah ini ialah:

Dan setiap pribadi akan tampil, dengan masing-masing pendorong dan saksi. (Surat Qaaf, 21)

Dan langit pun akan terbelah, sehingga hari itu jadi rapuh. (Surat al-Haaqqah, 16)

Dan atas kesabaran dan ketabahan mereka, Ia membalas dengan surga dan (pakaian) sutera; mereka di sini bersandar di atas peterana; mereka tak akan melihat di dalamnya matahari (terlalu panas) atau dinginnya (bulan) yang melampaui batas. (Surat al-Insaan, 12-13)

Dan api neraka ditampakkan bagi siapa saja yang melihat. (Surat an-Naazi’at, 36)
Maka hari ini orang-orang beriman menertawakan kaum tak beriman. (Surat al-Muthaffifiin, 34)


Dan orang-orang yang berdosa melihat api neraka dan mereka mengerti akan jatuh ke dalamnya; dan mereka tidak mendapat jalan keluarnya. (Surat al-Kahfi, 53)

Seperti yang dapat dilihat, kejadian-kejadian yang akan terjadi setelah kematian kita (dari sudut pandang kita) dihubungkan dalam al-Qur'an sebagai peristiwa masa lalu yang telah dialami. Allah tidak dibatasi oleh kerangka waktu relatif yang membatasi kita. Allah menghendaki hal-hal ini dalam ketiadaan waktu: orang telah mengerjakannya dan semua peristiwa ini telah berlalu dan berakhir. Di dalam ayat di bawah ini Ia menegaskan bahwa setiap peristiwa itu, besar atau pun kecil, ada dalam pengetahuan Allah dan tercatat dalam sebuah kitab:

Dalam keadaan apa pun kamu, dan bagian apa pun yang kamu baca dari Al-Quran, dan perbuatan apa pun yang kamu kerjakan, niscaya Kami menjadi saksi ketika kamu sedang tekun melakukannya. Tak ada yang tersembunyi dari Tuhanmu seberat zarah pun, di bumi dan di langit, tak ada yang lebih kecil atau lebih besar daripada itu, niscaya terekam jelas dalam Kitab. (Surat Yuunus, 61)


KEKHAWATIRAN PARA MATERIALIS

Masalah yang dibahas di bab ini, yaitu kebenaran yang melandasi materi, ketiadaan waktu, dan ketiadaan tempat, sesungguhnya sangat jelas. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, hal ini jelas bukan semacam filosofi atau pola pikir, melainkan hasil ilmiah yang tidak mungkin ditolak. Di samping keberadaan realitas teknis, buktinya juga tidak memberi alternatif logis dan rasional lain dalam masalah ini: alam semesta ialah kesatuan khayalan atau semu dengan semua zat penyusunnya dan semua makhluk yang tinggal di dalamnya. [Alam semesta] ini sekumpulan cerapan.
Para materialis mengalami kesulitan untuk memahami masalah ini. Contohnya, jika kita kembali ke contoh bus Politzer: meski secara teknis Politzer tahu bahwa ia tidak bisa keluar dari persepsinya, ia hanya bisa menerimanya di kejadian-kejadian tertentu. Dengan kata lain, bagi Politzer, peristiwa-peristiwa berlangsung di otak sampai terjadinya penabrakan bus, segera seusai penabrakan bus terjadi; benda-benda keluar dari otak dan mendapatkan realitas fisik. Rusaknya logika hal ini sangat jelas. Politzer membuat kekeliruan sebagaimana Johnson, seorang materialis, yang berkata "Saya menendang batu, kakiku sakit, karenanya batu itu ada". Politzer tidak dapat memahami bahwa kejutan yang terasa setelah bus itu berdampak merupakan cerapan belaka juga.

Alasan halus mengapa pengikut materialisme tidak dapat memahami masalah ini adalah ketakutan mereka terhadap sesuatu yang akan mereka hadapi bila mereka memahaminya. Lincoln Barnett memberi tahu kita bahwa sebagian ilmuwan "melihat" masalah ini:
Seiring dengan reduksi oleh para filsuf terhadap semua realitas subyektif ke suatu dunia bayang-bayang cerapan, ilmuwan-ilmuwan menjadi sadar akan batas-batas indera manusia yang mengkhawatirkan.48

Acuan apa pun yang dibuat pada fakta bahwa materi dan waktu ialah cerapan membangkitkan ketakutan luar bagi materialis ini, karena [materi dan waktu] ini merupakan satu-satunya gagasan yang ia andalkan sebagai keberadaan mutlak. Ia, dalam pengertian tertentu, menjadikan mereka berhala sesembahan; karena ia kira bahwa materi dan waktu (melalui evolusi) menciptakannya.
Jika ia merasa bahwa alam semesta yang pada perkiraannya merupakan tempat ia hidup, dunia ini, tubuhnya sendiri, orang lain, para filsuf materialisme lain yang mempengaruhi gagasannya, dan, pendek kata, segala sesuatu merupakan cerapan, ia merasa diluapi dengan kengerian total. Segala sandarannya, keyakinannya, dan jalan lain yang ia punya tiba-tiba lenyap. Ia merasakan perasaan putus asa yang akan benar-benar ia alami di hari perhitungan itu, seperti yang diuraikan dalam ayat

"Hari itu mereka akan menyatakan tunduk kepada Allah; dan segala yang diada-adakan akan meninggalkan mereka.” (Surat an-Nahl, 87)

Lantas, materialis ini berupaya meyakinkan diri sendiri tentang kenyataan zat, dan menciptakan "bukti" demi tujuan ini. Ia memukulkan lengannya ke tembok, menendang batu, berteriak, bersorak, namun tidak pernah bisa terlepas dari realitas.
Persis sebagaimana mereka ingin menghilangkan realitas ini dari benak mereka, mereka juga ingin orang lain membuangnya. Mereka juga sadar bahwa jika orang pada umumnya mengetahui arti sejati materi, sifat primitif filsafat mereka sendiri dan kejahiliyahannya akan pandangan dunia akan ditelanjangi sampai terlihat oleh semua orang, dan tiada landasan lagi yang merupakan dasar pandangan mereka. Ketakutan ini merupakan alasan mengapa mereka sangat terganggu dengan fakta-fakta yang terkait di sini.
Allah menyatakan bahwa ketakutan orang kafir akan mendalam di akhirat. Di hari penghakiman, mereka akan dipanggil sehingga:

Dan tatkala kami kumpulkan mereka semua kemudian Kami berfirman kepada yang mempersekutukan (Kami), “Manakah sekutu-sekutumu yang kamu dakwakan ada?” (Surat al-An’aam, 22)

Seusai itu, orang-orang kafir akan menyaksikan harta, anak, dan kerabat mereka, yang mereka anggap nyata yang dianggap sebagai sekutu Allah, meninggalkan mereka dan lenyap. Allah mengabari kita hal ini di ayat “Perhatikanlah! Betapa mereka berdusta terhadap diri sendiri! Segala yang mereka ada-adakan dengan kebohongan menghilang meninggalkan mereka.” (Surat al-An’aam, 24)


PAHALA ORANG BERIMAN

Sementara kenyataan bahwa zat dan waktu merupakan cerapan mengkhawatirkan para materialis, [kenyataan] sebaliknya berlaku bagi orang beriman. Orang beriman menjadi sangat senang ketika mereka mencerap rahasia yang ada di balik zat itu, karena kenyataan ini merupakan kunci semua pertanyaan itu. Dengan kunci ini, semua rahasia dibuka. Orang menjadi mudah memahami banyak hal yang sebelumnya sulit dipahami.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, pertanyaan tentang kematian, neraka, akhirat, perubahan dimensi, dan pertanyaan seperti "Di mana Allah?" "Apa yang sebelum Allah?" "Siapa pencipta Allah?" "Berapa lama kehidupan di alam kubur berlangsung?" "Di mana surga dan neraka?" dan "Di mana surga dan neraka saat ini berada?" mudah dijawab. Akan terpahami jenis tatanan seluruh alam yang diciptakan oleh Allah dari ketiadaan, semakin banyak semakin begitu. Dengan rahasia ini, pertanyaan "kapan?" dan "di mana?" menjadi tak berarti karena tiada lagi waktu dan tempat. Bila ketiadaan ruang dimengerti, akan dipahami bahwa neraka, surga, dan bumi semuanya itu sebenarnya ada di tempat yang sama. Jika ketiadaan waktu dimengerti, akan dipahami bahwa segala hal terjadi pada satu kejadian: ketiadaan itu ditunggu dan waktu tidak berlalu, karena segala sesuatu telah terjadi dan selesai.
Dengan terselidikinya rahasia ini, dunia menjadi seperti surga bagi orang beriman. Segala kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan material yang menyusahkan lenyap. Orang ini mengerti bahwa segenap alam memiliki kedaulatan tunggal, bahwa Ia mengubah seluruh dunia fisik sekehendak Dia dan bahwa yang wajib dilakukan oleh manusia adalah kembali kepada-Nya. Lalu ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah “... supaya mengabdi kepada-Nya ...” (Surat Aali ‘Imraan, 35)
Memahami rahasia ini merupakan pahala terbesar di dunia ini.
Dengan rahasia ini, kenyataan lain yang sangat penting yang disebutkan di Al-Qur'an tersingkap: bahwa "Allah lebih dekat dengan manusia daripada urat merihnya sendiri". (Surat Qaaf, 16) Sebagaimana yang kita ketahui, urat merih itu di dalam tubuh. Apa yang dapat lebih dekat dengan seseorang daripada [isi tubuh] di dalamnya? Situasi ini bisa mudah dijelaskan dengan realitas ketiadaan tempat. Ayat ini juga bisa dipahami dengan lebih baik dengan memahami rahasia ini.
Hal ini merupakan kebenaran sederhana. Harus ditegakkan dengan baik bahwa tiada penolong dan penyedia bagi manusia selain Allah. Tidak ada apa pun kecuali Allah; Allah satu-satunya keberadaan mutlak yang dapat dimintai perlindungan, yang dapat dimohoni pertolongan dan pahala.
Ke mana pun kita menghadap, [di situ] ada keberadaan Allah.



KESIMPULAN

Tak pelak lagi, tiada yang lebih penting daripada penciptaan manusia dan mengenali sang Pencipta. Yang telah kita lakukan sepanjang buku ini adalah berupaya memahami suatu masalah yang merupakan persoalan terpenting bagi setiap orang.
Kami rasa pembaca perlu diingatkan dalam hal ini bahwa orang tidak membutuhkan informasi yang melimpah untuk mengerti bahwa alam semesta dan segala isi di dalamnya, termasuk orang itu sendiri, telah diciptakan. Lingkup kalbu dan akal anak kecil sama luasnya dengan orang dewasa untuk mengerti bahwa ia diciptakan. Sabda Nabi Ibrahim dalam al-Qur'an adalah contoh yang sangat baik tentang maksud kita.
Nabi Ibrahim pernah hidup di suatu masyarakat yang mengingkari Allah dan menyembah berhala. Meski ia belum pernah menerima ajaran apa pun tentang keberadaan Allah, ia mengerti dengan akal dan kalbunya bahwa ia telah diciptakan—lebih-lebih, bahwa ia telah diciptakan oleh ALlah, Yang menciptakan langit dan bumi. Dalam al-Qur'an hal itu dikaitkan seperti ini:

Tatkala malam yang gelap tiba, ia melihat sebuah bintang; ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bintang terbenam, ia berkata, “Aku tidak menyukai segala yang terbenam.” Tatkala ia melihat bulan timbul ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan terbenam, ia berkata, “Jika Tuhanku tidak memberi petunjuk pastilah aku jadi orang yang sesat.” Tatkala ia melihat matahari terbit ia berkata, “Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar.” Tetapi setelah matahari terbenam, ia berkata, “Hai kaumku, aku lepas tangan dari segala yang kamu persekutukan.” “Kuhadapkan wajahku kepada yang menciptakan langit dan bumi sebagai penganut agama haniif yang jauh dari syirik dan aku bukanlah golongan musyrik. (Surat al-An’aam, 76-79)

Seperti yang kita lihat dalam contoh Nabi Ibrahim, setiap orang yang mempunyai akal dan nurani dan, yang lebih penting, yang "tidak menolak dengan lalim dan sombong" mampu memahami bahwa alam semesta diciptakan dan, lagipula, bahwa alam semesta diciptakan dengan suatu rencana dan tatanan yang hebat.
Tidak diragukan lagi keadaan orang yang menolak keberadaan Allah, walau semua tanda perwujudan-Nya ditampilkan agar dilihat oleh semua orang, sangat mengherankan bagi orang yang mempunyai akal dan nurani. Dalam Al-Qur'an, dinyatakan keadaan orang-orang yang tidak beriman kepada kekuatan penciptaan dari Allah:

Kalau engkau merasa heran, maka yang sungguh mengherankan itu perkataan mereka, “Bila kami sudah menjadi debu, akan menjadi makhluk baru lagikah kami?” Orang-orang itulah yang mengingkari Tuhan mereka! Mereka itulah yang di lehernya dilingkari belenggu (perbudakan), mereka itulah penghuni api neraka, tinggal di dalamnya selamanya. (Surat ar-Ra’du, 5)

Hal-hal yang terkait di buku ini lebih penting daripada segala hal lain dalam kehidupan anda. Mungkin sejauh ini anda lalai untuk merenungkan pentingnya masalah ini atau mungkin anda bahkan belum pernah memikirkan masalah ini sebelumnya. Namun, yang pasti bahwa mengenal Allah, Yang menciptakan anda, lebih penting dan mendesak daripada segala hal lain yang bisa anda kerjakan.
Pikirkanlah hal-hal yang telah Allah anugerahkan kepada anda: anda hidup di suatu dunia yang sangat terencana sampai detail-detail yang terluruh dan diciptakan khusus bagi anda. Anda tidak mengambil bagian dalam proses ini. Bukalah mata anda lebar-lebar suatu hari dan akan anda dapati diri anda sendiri di tengah-tengah berkah yang tak terhitung. Anda bisa melihat, bisa mendengar, bisa merasakan ....
Dan demikianlah karena Ia menginginkan penciptaan demikian. Dalam suatu ayat difirmankan:

Allah melahirkan kamu dari rahim ibumu, sementara kamu tidak mengetahui apa-apa; dan Dia membuat untukmu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani supaya kamu bersyukur. (Surat an-Nahl, 78)

Seperti yang dinyatakan dalam ayat itu, tidak lain kecuali Allah yang memberi anda segala yang anda miliki dan yang menciptakan alam semesta tempat anda hidup. Karena itu, datang dan serahkanlah seluruh jiwa anda sendiri kepada Allah dan bersyukurlah kepada-Nya atas segala berkah yang telah Allah limpahkan kepada anda dan, dengan demikian, pahala yang kekal. Jika anda melakukan yang sebaliknya, anda menunjukkan ketidakbersyukuran dan membuka diri anda sendiri atas hukuman yang, insyaAllah, akan berlangsung selamanya.
Yakinlah: Ia betul-betul ada dan Ia sangat dekat dengan anda ....
Ia melihat dan mengetahui segala sesuatu yang anda lakukan, dan mendengar setiap kata yang anda tuturkan ....
Dan yakinlah bahwa setiap orang, termasuk anda, akan segera mempertanggungjawabkannya kepada-Nya ....

Maha Suci Engkau, Tiada ilmu pada kami kecuali apa yang sudah Kau ajarkan kepada kami, Engkaulah Matatahu, Maha Bijaksana. (Surat al-Baqarah, 32)



0 komentar:

Posting Komentar