Kamis, Juli 02, 2009

Pesan Al Qur’an untuk Generasi Muda

Oleh R.H. Anti (H5)

Syubbanul yaum rijaalul ghadi (pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan) bagitulah ungkapan Arab yang menunjukkan bahwa betapa pentingnya peran generasi muda untuk menghadapi masa depan kehidupan ini. Pemuda adalah tumpuan harapan bagi kehidupan masa depan yang lebih baik dan anggun. Al-Qur’an sebagai rujukan pertama dan utama bagi kita mencoba menggambarkan bagaimana peran generasi tua dalam mempersiapkan generasi muda yang tangguh. Allah SWT memfigur-idealkan Luqmanul Hakim sebagai generasi tua, sedang generasi mudanya digambarkan melalui sosok putera Luqman.

Nama Luqmanul Hakim secara khusus disebutkan beberapa kali dalam al-Qur’an. Hal ini tentu memiliki makna dan maksud yang khusus pula, yakni disamping Allah ingin menjadikan Luqmanul Hakim sebagai sumber hikmah, juga Allah ingin menandaskan bahwa betapa pentingnya para orang tua memberi nasihat kepada anak-anaknya
tentang jalan yang benar, yakni jalan yang jauh dari kemusyrikan dan kedurhakaan.. Hal ini digambarkan dalam Q.S. Luqman: 13: “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada puteranya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah merupakan kedzaliman yang besar.”

Pada ayat di atas ditunjukkan bahwa nilai paling fundamental yang harus ditanamkan orang tua kepada anakanaknya (generasi muda) adalah tauhid atau aqidah, dimana anak harus dibimbing untuk mengenal Tuhannya agar ia tidak bertuhan kepada tuhan-tuhan semu yang bisa menyesatkannya.

Ali bin Hasan al-Athas memaparkan sebuah riwayat yang cukup baik untuk dijadikan pegangan hidup bagi umat manusia, yakni riwayat dari Khalid ar-Ruba’i. Dalam riwayat tersebut dikisahkan bahwa suatu ketika tuan (majikan) dari Luqmanul Hakim (sebagaimana kita ketahui Luqman sebelumnya adalah hamba sahaya/budak)
memberi seekor kambing dan berkata. “Sembelihlah kambing ini dan berikan padaku dua potong daging yang paling baik”. Lalu Luqman memberikan pada tuannya daging lidah dan hati. Kemudian tuannya menyerahkan lagi kambing yang lain dan berkata, “sembelihlah kambing ini dan ambilkan dua potong daging yang paling buruk”. Lalu Luqman memberikan lagi dua daging yang sama, yakni lidah dan hati. Lalu tuannya bertanya tentang rahasia dua daging tersebut, Luqman menjawab, “tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada kedua-duanya apabila kedua-duanya itu baik, dan tidak ada yang lebih buruk dari kedua-duanya apabila kedua-duanya itu buruk.” Dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa manusia akan baik apabila ia bisa menjaga lidah dan hatinya dari hal-hal yang buruk. Sebaliknya akan celaka manusia apabila tidak menjaga lidah dan hatinya dari hal-hal yang sebenarnya tidak ada manfaatnya bagi kehidupan dirinya maupun kehidupan orang lain. Dengan demikian sangatlah jelas bagi generasi muda bahwa al-Qur’an sangat menganjurkan agar generasi muda benar-benar bias berpegang teguh pada tali agama Allah, baik dalam dimensi ketauhidannya (hablum minallah) maupun dalam dimensi hubungan sosialnya (hablum minannas). Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua,


ARTIKEL - Damar Santri EDISI 2 / NOVEMBER 2008 - VOL 2
Buletin Damar Santri diterbitkan oleh Organisasi Santri Wahid Hasyim (OSWAH)Yayasan Pondok Pesantren
Wahid Hasyim. Sekretariat : Jl. KH. Wahid Hasyim Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta 55283 Tlp.
(0274) 484284. Email Redaksi Damarsantri: damarsantri@yahoo.com, oswah@journalist.com

0 komentar:

Posting Komentar