Sabtu, Mei 23, 2009

Wanita Penghuni Neraka

MAKTABAH AS SUNNAH
Wanita Penghuni Neraka


Saudariku Muslimah … .
Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah
subhanahu wa ta’ala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal yang
abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum musyrikin
dan pelaku dosa yang Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang darinya. Setiap
Muslimin yang mengerti keadaan Surga dan neraka tentunya sangat berharap untuk
dapat menjadi penghuni Surga dan terhindar jauh dari neraka, inilah fitrah.
Pada Kajian Kali Ini kami akan membahas tentang neraka dan penduduknya, yang
mana mayoritas penduduknya adalah wanita dikarenakan sebab-sebab yang akan
dibahas nanti.
Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni neraka alangkah baiknya jika kita
menoleh kepada peringatan-peringatan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al Qur’an
tentang neraka dan adzab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri
daripadanya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-
Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim :
6)
Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada
keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.”
Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu juga mengomentari ayat ini : “Beramallah kalian
dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan
perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari
neraka.” Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang
menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan
amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.


Di dalam surat lainnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang
disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)
Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan
perintah untuk menjaga diri daripadanya.
Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu bahwasanya
beliau bersabda :
“Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70
bagian neraka Jahanam.” (Shahihul Jami’ 6618)
Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api
neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah
subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.
Wanita Penghuni Neraka
Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah
fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan
kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu
Abbas dan Imran serta selain keduanya)
Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para
fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini
tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan
menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.
Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang ,
beliau shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat
neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu 'anhum :
“ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini
sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.” Shahabat
pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?”
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab : “Karena kekufuran mereka.”
Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab :


“Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya.
Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu
yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai)
niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada
dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma)
Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan tentang
wanita penduduk neraka, beliau bersabda :
“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang,
melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan
kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka
tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa
didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari
Abu Hurairah radliyallahu 'anhu)
Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim
dan Ahmad)
Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya :
“Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang
mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangankesenangan
dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan
mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang
menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang
paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa
nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan
selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap
agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa
Ahluha halaman 29-30 dan At Tadzkirah halaman 369)
Saudariku Muslimah … .
Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya kita akan
dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan
menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan
minoritas dari penghuni Surga.
Saudariku Muslimah … . Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah subhanahu wa ta’ala
menyelamatkan kita dari neraka. Amin.


1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas
tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum
Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama
sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan
kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan
sehari. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa
yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami
karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana
dijelaskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada
suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari
Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)
Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang
menginginkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan Surga-Nya. Maka tidak
sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikankebaikan
suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak
mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.
Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur
terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun
mereka tidak kekal di dalamnya.
Cukup kiranya istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabiyah
sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikankebaikan
yang diberikan suaminya kepadanya.
2. Durhaka Terhadap Suami
Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya pada umumnya berupa
tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum
Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :
1. Durhaka dengan ucapan.
2. Durhaka dengan perbuatan.
3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.

Bentuk pertama ialah seorang istri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada
suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan
berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia
memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat
mendatangi suaminya. Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang istri ketika ia
lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini.
Termasuk bentuk kedurhakaan ini ialah apabila seorang istri membicarakan
perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa
sebab yang diperbolehkan syar’i. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhantuduhan
dengan maksud untuk menjelekkannya dan merusak kehormatannya
sehingga nama suaminya jelek di mata orang lain. Bentuk serupa adalah apabila
seorang istri meminta di thalaq atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia
mengaku-aku telah dianiaya atau didhalimi suaminya atau yang semisal dengan itu.
Permintaan cerai biasanya diawali dengan pertengkaran antara suami dan istri karena
ketidakpuasan sang istri terhadap kebaikan dan usaha sang suami. Atau yang lebih
menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan
syari’at-syari’at Allah subhanahu wa ta’ala dan sunnah-sunnah Rasul-Nya shallallahu
'alaihi wa sallam. Sungguh jelek apa yang dilakukan istri seperti ini terhadap
suaminya. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
“Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’i,
pent.) maka haram baginya wangi Surga.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi serta
selain keduanya. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 85)
Bentuk kedurhakaan kedua yang dilakukan para istri terjadi dalam hal perbuatan
yaitu ketika seorang istri tidak mau melayani kebutuhan seksual suaminya atau
bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh
dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang
semisal dengan itu.
Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang istri keluar rumah tanpa izin suaminya
walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Yang demikian seakan-akan
seorang istri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’i. Demikian pula jika sang
istri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati
suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari
anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram,
bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan
mahramnya dan yang semisal dengan itu.

Bentuk lain adalah apabila seorang istri tidak mau berdandan atau mempercantik diri
untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, melakukan puasa sunnah
tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti shalat, mandi janabat, atau
puasa Ramadlan.
Maka setiap istri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah istri
yang durhaka terhadap suami dan bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Jika kedua bentuk kedurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang istri maka ia
dikatakan sebagai istri yang durhaka dengan ucapan dan perbuatannya. (Dinukil
dari kitab An Nusyuz karya Dr. Shaleh bin Ghanim As Sadlan halaman 23-25
dengan beberapa tambahan)
Sungguh merugi wanita yang melakukan kedurhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan
ke neraka daripada jalan ke Surga karena memang biasanya wanita yang melakukan
kedurhakaan-kedurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang
menipu.
Ketahuilah wahai saudariku Muslimah, jalan menuju Surga tidaklah dihiasi dengan
bunga-bunga nan indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat
untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah.
Tetapi ingatlah di ujung jalan ini ada Surga yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-
Nya yang sabar menempuhnya.
Ketahuilah pula bahwa jalan menuju neraka memang indah, penuh dengan syahwat
dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat
dan sadarlah bahwa neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak
mau berpaling darinya semasa ia hidup di dunia.
Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta maaf
kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan
kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. Ia
mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia yang ia takuti dan tangisi.
3. Tabarruj
Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan
perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk
ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Jilbab Al Mar’atil
Muslimah halaman 120)

Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wanitawanita
yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian
mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan
komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita
yang dimaksudkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah yang memakai pakaian
yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah
wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”
(Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103 )
Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal
Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang hal ini dalam firman-Nya :
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)
Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan di dalam kitab Al Kabair halaman 131 :
“Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah
menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup
muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya
jika mereka keluar rumah … .”
Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum
pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang
sangat kuat yang dapat menggoyahkan keimanan yang kokoh sekalipun. Terlebih bagi
iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri menyatakan di dalam hadits yang
shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah
fitnahnya wanita.
Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang
tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala hancur karirnya hanya disebabkan
bujuk rayu wanita. Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin
terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan
menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi
kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang
pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga.
Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria
ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan
di hadapan kaum pria. Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini terjadi pelecehan
terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri.

Wahai saudariku Muslimah … . Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian
yang Islamy yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat
kelak.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj
dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)
Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas
penduduk neraka. Tetapi kami hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena
memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat
negeri kita ini.
Saudariku Muslimah … .
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat
menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari
raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan
anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau
menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau
bersabda :
“Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!”
Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang
berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur
terhadap suami!” (HR. Bukhari)
Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari
adzab neraka. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya.
Amin.

Wallahu A’lam bish Shawwab.
Wanita Penghuni Neraka
Muhammad Faizal Ibnu Jamil Al Medani
[ MUSLIMAH/Edisi XXII/1418/1997/Kajian Kali Ini ]

0 komentar:

Posting Komentar